Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif () Republik Indonesia setiap awal tahun meluncurkan Calendar of Events (COE) untuk memperkenalkan destinasi wisata Indonesia melalui berbagai acara, dengan harapan dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Kalender acara tersebut kemudian disempurnakan tahun 2021 menjadi Kharisma Event Nusantara (KEN) dengan berbagai penyesuaian akibat pandemi Covid-19. Fokus utamanya adalah untuk mempertahankan lapangan pekerjaan dan menggalakkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. KEN merupakan program strategis dalam mengembangkan pariwisata dan ekonomi kreatif, yang tidak hanya mendorong nilai tambah ekonomi. Tapi juga memberikan dampak positif secara sosial, budaya dan lingkungan.
Menanggapi fenomena The Eras Tour 2024 yang secara signifikan meningkatkan ekonomi Singapura, Indonesia perlu mempelajari strategi dan taktik yang diperlukan untuk memajukan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif guna meraih keuntungan finansial yang lebih besar. Indonesia tidak harus meniru konsep acara tersebut, melainkan perlu mengeksplorasi lebih dalam potensi lokal. Beberapa di antaranya yang unggul yaitu besarnya pasar domestik dan kekayaan budaya yang unik.
Tanggapan Menteri Parekraf
Sandiaga Uno selaku Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia dalam wawancaranya dengan BBC News Indonesia (2024) menyatakan bahwa negara ini memiliki banyak PR dalam mematangkan infrastruktur dan regulasi. Serta yang paling penting adalah mengupayakan tersedianya biaya pengembangan dan pemulihan pariwisata. Sama seperti yang dilakukan Singapura. Hasil riset dari Glucker & Panitz (2023) menyatakan bahwa, Mannheim Philharmonic Orchestra di Jerman menerima subsidi dari pemerintah selama krisis pandemi Covid-19 untuk menjalankan operasional mereka ketika pendapatan dari konser terhenti. Meskipun dua kasus ini berbeda konteks, tapi dapat ditekankan bahwa peran aktif pemerintah sangat penting dalam memberikan dukungan pendanaan. Baik berupa subsidi langsung ataupun alokasi anggaran khusus, untuk pemeliharaan dan keberlanjutan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Berdasarkan data statistik Indikator Makro Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia tahun 2023, sektor pariwisata telah berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 389,7 triliun rupiah, meskipun masih jauh dibawah level pra-pandemi, dan telah meningkat 13,01% dibandingkan tahun 2020. Sektor ekonomi kreatif dari tahun 2019 sampai 2022 bertumbuh positif dengan nilai tambah mencapai 1.280,42 triliun rupiah dan berkontribusi 2,92% terhadap PDB nasional pada 2022. Hal ini menunjukkan sektor pariwisata terpukul hebat namun berangsur pulih, sementara ekonomi kreatif relatif lebih stabil. Keduanya tetap mampu memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian Indonesia.
Festival sebagai Strategi Efektif
Dengan mempertimbangkan hal-hal di atas, maka strategi yang dapat dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kedua sektor tersebut adalah melakukan penyelenggaraan acara skala besar. Bentuk acaranya dapat berupa festival. Festival diakui sebagai strategi yang efektif untuk mendatangkan manfaat ekonomi, sosial, budaya, dan meningkatkan pariwisata berkelanjutan (Akhoondnejad, 2016). Jenis festival yang dibuat adalah Festival Kreatif Nusantara, yang akan dikemas bertaraf internasional dengan menonjolkan kekuatan pariwisata dan ekonomi kreatif lokal, serta dikombinasikan dengan daya tarik global. Festival ini akan dijadikan acara utama di program KEN setiap tahun.
Festival Kreatif Nusantara
Festival Kreatif Nusantara memiliki keunikan dalam konsepnya. Beberapa konsep disusun dengan mengadaptasi praktik-praktik dan rekomendasi terbaik dari beberapa penelitian. Konsep-konsep tersebut antara lain menampilkan kolaborasi lintas sub-sektor ekonomi kreatif dan diadakan setahun sekali di kota kreatif yang berbeda. Hal ini tidak hanya menjaga eksistensi keberadaan 5 kota kreatif di Indonesia yang sudah ditetapkan oleh UNESCO seperti Jakarta, Bandung, Pekalongan, Ambon dan Solo. Namun, hal ini membuka kesempatan untuk kota-kota lain mempersiapkan diri untuk nantinya siap menjadi kota kreatif dengan sub-sektor yang berbeda, tentunya dengan tetap mengangkat kekhasan dari kota tersebut.
Kemudian, mengawinkan kebudayaan tradisional dengan sentuhan teknologi modern seperti digital, virtual atau augmented reality, dan pembuatan konten NFT dalam berbagai pertunjukan. Pemanfaatan digitalisasi warisan budaya ini mengadopsi strategi dari penelitian Emese Pupek (2016) untuk melestarikan, melindungi dan mengakses warisan budaya secara lebih luas. Berikutnya, membangun jejaring dan kerjasama antar pelaku ekonomi kreatif, pemerintah, akademisi, investor, atau sponsor.
Hal ini tercermin sesuai dengan tujuan pembangunan perkelanjutan (SDGs) nomor 17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan. Kerjasama dan keselarasan terhadap tujuan SDGs ini diadopsi dari penelitian Vazquez dan Arroyo (2020) serta Wise dkk (2022). Konsep lainnya yaitu melibatkan berbagai komunitas kreatif lokal dari tahap persiapan hingga pelaksanaan, mengintegrasikan promosi destinasi dan produk wisata khas daerah ke dalam rangkaian acara festival dan menargetkan audiens domestik serta internasional.
Festival Kreatif Nusantara ini berbeda dengan acara-acara yang ada di daftar KEN. Konsep festival ini secara menyeluruh merupakan terobosan baru yang lebih modern, kolaboratif dan berskala besar dengan target ekonomi kreatif dan pariwisata. Sementara, acara-acara yang ada di program KEN masih berkutat pada pelestarian dan promosi budaya tradisional lokal dalam skala dan bentuk yang lebih konvensional.
Untuk menjamin kualitas penyelenggaraan yang berstandar kelas dunia, maka festival ini akan memperhatikan representatif venue, fasilitas yang memadai, manajemen profesional, kerjasama dengan mitra kelas dunia, pemanfaatan terknologi modern, dan layanan yang berkualitas bagi pengunjung. Tidak lupa juga pendanaan yang memadai dari pemerintah untuk menjamin kualitas acara dan promosi besar-besaran yang dilakukan di tingkat nasional serta internasional. Strategi promosi dilakukan melalui berbagai kampanye pemasaran secara inovatif untuk meningkatkan citra Indonesia secara global dan menarik pengunjung skala besar.
Penulis: Anastasia Enike Hanorsian





