UNAIR NEWS – Usia remaja merupakan fase seseorang mulai mengembangkan jati diri. Tidak terkecuali mengenai gambaran fisik yang dianggap ideal. Sekarang ini, dengan masifnya perkembangan teknologi, media menjadi sumber informasi mengenai bagaimana penampilan fisik yang dianggap ideal oleh masyarakat.
Media kerap kali menggambarkan sosok yang dianggap ideal adalah seseorang yang memiliki bentuk tubuh yang kurus, tinggi, dan langsing. Dengan kuatnya pengaruh media, banyak remaja yang mendambakan memiliki fisik ideal sebagaimana digambarkan oleh media. Tidak jarang, demi mendapatkan bentuk tubuh yang ideal, para remaja justru berakhir menderita gangguan makan (eating disorder).
淧ada kasus gangguan makan, berarti ada penyimpangan perilaku makan. Terjadinya secara terus-menerus dan dalam periode waktu tertentu. Bentuk penyimpangannya bisa pada pola konsumsi dan penyerapan makanan, ungkap Tiara Diah Sosialita MPsi Psikolog pada webinar bertajuk Eating Disorder: Waspadai Gangguan Makan pada Remaja, Sabtu (28/5/2022).
Pada kesempatan itu, ia juga menjelaskan bahwa secara karakteristik gangguan makan ditandai dengan perilaku makan tidak wajar yang seringkali disertai gangguan emosi. Penderita gangguan makan, ungkapnya, bisa makan terlalu banyak atau terlalu sedikit.
淢ereka juga terobsesi pada berat badan dan bentuk tubuh yang biasanya disertai emosi-emosi negatif, jelasnya.
Di webinar yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi 51动漫 itu, Tiara menjelaskan bahwa gangguan makan tidak hanya berdampak pada fisik namun juga kepada psikososial penderitanya. Menurutnya, terdapat tiga jenis gangguan makan yang sering diasosiasikan dengan remaja yaitu anorexia nervosa, bulimia nervosa, dan binge-eating (compulsive overeating).
- Anorexia Nervosa
Penderita anorexia nervosa akan menghindari dan membatasi porsi makan secara berlebihan. Tubuh penderita cenderung menunjukkan penurunan berat badan. Namun demikian, si penderita menganggap tubuhnya tergolong gemuk.
淚ni yang menyebabkan penderita anorexia nervosa melakukan usaha-usaha untuk menurunkan berat badan. Mereka juga akan membatasi hubungan dan kegiatan sosial karena merasa cemas dan tidak nyaman dengan kondisi fisiknya, tutur Tiara.
- Bulimia Nervosa
Pada bulimia nervosa, penderita akan makan secara berlebihan untuk kemudian memuntahkannya kembali. 淢ereka akan mengonsumsi segala jenis makanan dalam porsi banyak dan kesulitan untuk berhenti makan namun di sisi lain mereka takut mengalami kenaikan berat badan sehingga biasanya akan ada 榢ompensasi, secara sembunyi-sembunyi jelas Tiara.
Tindakan-tindakan seperti memuntahkan makanan, meminum obat pencahar, dan olahraga berlebihan, lanjut Tiara, merupakan bentuk kompensasi dari konsumsi makanan yang tak terkendali. Berbeda dengan anorexia nervosa, penderita bulimia nervosa cenderung mampu mempertahankan berat badan normal.
- Binge-Eating (Compulsive Overeating)
淧别苍诲别谤颈迟补 binge-eating memiliki dorongan makan berlebihan yang tidak terkontrol. Tandanya ada keinginan makan secara banyak, terus-terusan, dan tidak terkendali, terang dosen Departemen Psikologi UNAIR ini.
Perilaku-perilaku tersebut biasanya akan diikuti dengan emosi negative seperti malu dan perasaan bersalah. Remaja biasanya merasa tidak dapat mengontrol keinginan makan dan kalau ada yang melarang, mereka akan makan secara diam-diam meskipun tidak dalam kondisi lapar.
淏iasanya mereka makan untuk mengeluarkan emosi negatif mereka. Penderita biasanya memiliki berat badan berlebihan meskipun ada yang normal. Mereka pun tidak melakukan semacam kompensasi untuk menurunkan berat badan, pungkas Tiara.
Penulis: Agnes Ikandani
Editor: Nuri Hermawan





