Aktivitas fisik intensitas tinggi semakin populer, terutama di kalangan usia produktif. Namun, di balik manfaatnya bagi kebugaran dan kesehatan, latihan intensitas tinggi memiliki konsekuensi biologis yang sering diabaikan. Salah satunya adalah peningkatan stres oksidatif, yaitu kondisi ketika produksi radikal bebas melebihi kapasitas pertahanan antioksidan tubuh. Saat tubuh dipaksa bekerja keras dalam waktu lama, produksi reactive oxygen species (ROS) meningkat tajam, dalam jangka panjang, dapat mengganggu keseimbangan metabolisme tulang dan meningkatkan risiko kerusakan mikroarsitektur tulang.
Tulang termasuk dalam jaringan aktif yang terus mengalami proses remodeling, berkaitan dengan keseimbangan antara pembentukan tulang oleh osteoblas dan perombakan tulang oleh osteoklas. Peningkatan produksi reactive oxygen species (ROS) akibat stres oksidatif yang berlebihan dapat mengganggu keseimbangan remodeling tulang, mendorong peningkatan resorpsi tulang dan menurunkan kualitas mikroarsitektur trabekular. Kondisi ini berpotensi menurunkan kualitas tulang, bahkan pada individu yang aktif secara fisik, oleh karena itu, upaya menjaga kesehatan tulang pada individu yang rutin melakukan latihan intensitas tinggi memerlukan pendekatan yang lebih dari sekadar peningkatan aktivitas fisik itu sendiri.
Antioksidan sintetis atau suplemen sering digunakan untuk menekan dampak stres oksidatif. Namun, beberapa referensi menunjukkan bahwa dosis tinggi antioksidan tertentu tidak selalu memberikan manfaat. Pada kondisi tertentu, antioksidan justru dapat bertindak sebagai pro-oksidan dan meningkatkan pembentukan radikal bebas. Fenomena ini mendorong pemanfaatan sumber antioksidan alami yang lebih seimbang dan aman untuk digunakan jangka panjang.
Salah satu tanaman lokal yang mudah dan banyak ditemukan di Indonesia, yaitu kenikir (Cosmos caudatus) memiliki senyawa bioaktif alami sebagai antioksidan dan antiinflamasi. Namun, perannya dalam menjaga kesehatan tulang, khususnya dalam kondisi stres oksidatif akibat olahraga berat, masih jarang diteliti secara mendalam.
Penelitian eksperimental terbaru menggunakan model tikus jantan yang dipaparkan latihan intensitas tinggi memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai efek ekstrak kenikir terhadap stres oksidatif dan kesehatan tulang pada kondisi latihan intensitas tinggi. Dalam studi ini, hewan coba menjalani latihan berenang dengan beban tambahan setara 18% berat badan, sebuah model yang terbukti memicu stres oksidatif sistemik. Selama 28 hari, tikus dibagi ke dalam beberapa kelompok: kontrol (diberikan latihan intensitas tinggi tanpa pemberian ekstrak kenikir), serta kelompok yang menerima ekstrak kenikir dengan dosis rendah, sedang, dan tinggi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa latihan intensitas tinggi meningkatkan kadar malondialdehid (MDA) yaitu penanda utama peroksidasi lipid dan stres oksidatif. Menariknya, peningkatan MDA juga ditemukan pada kelompok yang menerima dosis antioksidan tinggi. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan kadar antioksidan tidak selalu berbanding lurus dengan penurunan stres oksidatif, terutama bila dosisnya berlebihan. Namun, gambaran berbeda terlihat pada struktur tulang. Kelompok yang menerima ekstrak kenikir dosis sedang menunjukkan perbaikan signifikan pada rasio trabekular tulang dibandingkan kelompok kontrol. Trabekula tampak lebih padat, dengan rongga sumsum yang lebih sempit, menandakan mikroarsitektur tulang yang lebih kuat dan stabil. Secara histologis, kondisi ini mencerminkan proses remodeling tulang yang lebih sehat meskipun berada dalam tekanan latihan intensitas tinggi.
Pemeriksaan seluler menunjukkan jumlah sel osteosit yang berperan penting dalam mempertahankan integritas jaringan tulang juga lebih tinggi pada kelompok dosis sedang. Osteosit berfungsi sebagai 渟ensor mekanik yang membantu tulang beradaptasi terhadap beban fisik. Peningkatan viabilitas osteosit ini menunjukkan bahwa kenikir tidak hanya melindungi tulang secara struktural, tetapi juga mendukung fungsi biologisnya.
Sebaliknya, penanda pembentukan dan resorpsi tulang dalam darah tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antar kelompok. Hal ini mengindikasikan bahwa manfaat utama kenikir pada kondisi ini lebih terkait dengan perbaikan kualitas mikroarsitektur tulang, bukan perubahan drastis pada laju pembentukan atau perombakan tulang secara sistemik.
Temuan-temuan ini memiliki implikasi penting, terutama dalam konteks gaya hidup aktif dan olahraga intensitas tinggi. Perlindungan tulang tidak hanya bergantung pada asupan kalsium atau aktivitas fisik semata, tetapi juga pada keseimbangan redoks dan dukungan nutrisi yang tepat. Kenikir, sebagai sumber alami senyawa bioaktif, menunjukkan potensi sebagai bagian dari strategi nutrisi untuk menjaga kesehatan tulang.
Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan bukti awal bahwa kenikir berpotensi menjadi sumber antioksidan alami yang mendukung kesehatan tulang pada kondisi stres oksidatif akibat latihan intensitas tinggi, terutama bila digunakan pada dosis yang tepat. Temuan ini membuka peluang pemanfaatan tanaman lokal sebagai bagian dari strategi nutrisi olahraga dan pencegahan gangguan tulang.
Penulis: Prof. Dr. Gadis Meinar Sari, dr., M.Kes
Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Gadis Meinar Sari, Idha Kusumawati, Siti Khaerunnisa, Yoga Akbar Arifandi, Julian Benedict Swannjo, Zahras Azimuth Doman, Zulhabri Othman (2025). Comparison of Cosmos caudatus extract and vitamin C effects on antioxidant response and bone metabolism in rats under highintensity exercise-induced oxidative stress. Physical Activity and Nutrition, 29, 15-22. https://doi.org/10.20463/pan.2025.0030





