51动漫

51动漫 Official Website

Peran Pemeriksaan Urine Otomatis dalam Diagnosis Lupus Nefritis pada Anak

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Oleh : Prof. Dr. Aryati., dr. MS., Sp.PK., Subsp.P.I(K)., Subsp I.K(K)

Lupus nefritis merupakan komplikasi ginjal yang paling serius pada anak dengan penyakit lupus sistemik. Kondisi ini ditandai dengan peradangan pada ginjal yang jika tidak terdeteksi sejak dini dapat berujung pada kerusakan ginjal permanen. Tantangan utama dalam penanganan lupus nefritis pada anak adalah keterbatasan metode skrining non-invasif yang memiliki sensitivitas tinggi.

Pemeriksaan mikroskopis sedimen urine selama ini menjadi salah satu andalan dalam evaluasi keterlibatan ginjal. Namun, metode konvensional memiliki keterbatasan karena sangat bergantung pada keterampilan operator dan kurang terstandarisasi. Perkembangan teknologi flow cytometry urine memungkinkan identifikasi sel-sel dan komponen urine secara otomatis, objektif, dan dapat diulang.

Sebuah studi yang dilakukan di Surabaya melibatkan 317 anak, terdiri dari 221 pasien lupus nefritis dan 96 pasien non-lupus nefritis, mengevaluasi kemampuan tiga parameter urine dalam membedakan lupus nefritis dari kondisi non-lupus. Ketiga parameter tersebut adalah persentase sel darah merah dismorfik (DysRBC), sel epitel tubulus ginjal (RTEC), dan silinder patologis (PathCast).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase DysRBC memiliki kemampuan diagnostik yang luar biasa dengan nilai area under the curve (AUC) sebesar 0,954. Angka ini menunjukkan tingkat akurasi yang sangat tinggi dalam membedakan lupus nefritis dari kondisi non-lupus. Dengan nilai ambang batas 35%, parameter ini memberikan sensitivitas 84,6% dan spesifisitas 96,7%.

Sel darah merah dismorfik merupakan sel darah merah yang mengalami perubahan bentuk akibat melewati membran basal glomerulus yang rusak dan mendapat tekanan dari podosit. Semakin berat kerusakan glomerulus, semakin tinggi proporsi sel yang mengalami perubahan bentuk. Dalam studi ini, sebagian besar pasien lupus nefritis tergolong kelas IV, yaitu bentuk lupus nefritis dengan peradangan glomerulus yang luas. Hal ini menjelaskan mengapa persentase DysRBC menjadi penanda yang sangat baik untuk kondisi tersebut.

Berbeda dengan DysRBC, parameter RTEC menunjukkan nilai diagnostik yang rendah dengan AUC hanya 0,580. Sel epitel tubulus ginjal memang menandakan kerusakan tubulus, namun sel ini sulit ditemukan utuh dalam urine karena sifatnya yang rapuh dan mudah mengalami degradasi. Sementara itu, PathCast menunjukkan kemampuan diagnostik yang cukup dengan AUC 0,664. Silinder patologis terbentuk akibat aliran urine yang melambat karena cedera glomerulus dan tubulus, namun strukturnya mudah rusak sehingga tidak selalu terdeteksi dengan baik.

Temuan ini memiliki implikasi klinis yang penting. Pemeriksaan persentase DysRBC dengan flow cytometry urine dapat menjadi alat skrining non-invasif yang andal untuk deteksi dini lupus nefritis pada anak. Dengan nilai ambang batas 35%, parameter ini dapat membantu klinisi memutuskan perlunya tindakan lebih lanjut seperti biopsi ginjal atau peningkatan intensitas terapi.

Pemeriksaan ini juga memiliki keunggulan dibandingkan metode konvensional karena memberikan hasil yang objektif dan terstandarisasi. Sampel urine yang digunakan adalah urine midstream pertama pagi hari yang diperiksa dalam waktu dua jam setelah pengambilan tanpa melalui proses sentrifugasi, sehingga mengurangi risiko kerusakan sel.

Kesimpulannya, pemeriksaan persentase sel darah merah dismorfik menggunakan flow cytometry urine memiliki nilai diagnostik yang sangat baik dalam membedakan lupus nefritis pada anak. Parameter ini dapat menjadi alat skrining non-invasif yang membantu deteksi dini keterlibatan ginjal pada pasien lupus anak, sehingga intervensi dapat dilakukan lebih awal untuk mencegah kerusakan ginjal permanen.

Artikel tersebut bisa di akses:

Penulis: Ferdy Royland Marpaung, Risky Vitria Prasetyo, Anggia Augustasia Lumban Toruan, Djoko Santoso, Aryati,

AKSES CEPAT