Pengembangan aplikasi kesehatan digital (e-health) membutuhkan pendekatan khusus dalam setiap tahapannya. Tidak seperti aplikasi pada umumnya, e-health memiliki karakteristik unik karena bersinggungan langsung dengan aspek vital kehidupan manusia, yaitu kesehatan. Aplikasi e-health mempunyai risiko yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan aplikasi pada domain lainnya, karena berefek langsung pada kesehatan manusia dan adanya faktor personalisasi yang mempengaruhi keberhasilan penggunaan aplikasi e-health. Demikian pula pada konteks aplikasi kesehatan promotif dan preventif, seperti platform edukasi kesehatan, potensi risiko tetap menjadi perhatian utama. Kesalahan interpretasi atau miskomunikasi dalam penyampaian informasi kesehatan dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi kesehatan pengguna. Fenomena ini menegaskan pentingnya pemahaman mendalam terhadap karakteristik dan kemampuan kognitif pengguna dalam proses perancangan aplikasi kesehatan digital.
Salah satu metode pengembangan aplikasi yang berfokus pada kebutuhan pengguna adalah user-centered design (UCD). Pendekatan UCD terdiri dari empat tahapan, yaitu pemahaman konteks kebutuhan pengguna, identifikasi dan formulasi kebutuhan spesifik, perancangan solusi alternatif, serta evaluasi komprehensif terhadap kesesuaian solusi. Pendekatan ini memungkinkan proses iteratif hingga tercapai solusi optimal yang selaras dengan kebutuhan pengguna. Signifikansi UCD semakin relevan dalam konteks aplikasi edukasi kesehatan, mengingat tingginya tuntutan kapabilitas personalisasi yang menjadi prasyarat keberhasilan implementasinya.
Seiring dengan perkembangan teknologi maju, pengembangan aplikasi dewasa ini juga mengutamakan kecepatan dan ketepatan produksi. Metode Agile muncul sebagai respon terhadap dinamika ini, menawarkan kerangka kerja yang menjembatani dilema antara fleksibilitas terhadap perubahan dan tuntutan kualitas produk. Fenomena ini menciptakan resonansi khusus dalam domain kesehatan, di mana urgensi inovasi digital berhadapan dengan kompleksitas sistem yang semakin meningkat. Namun, implementasi Agile dalam proyek software skala besar menghadirkan paradoks tersendiri. Interkonektivitas komponen sistem yang kompleks menciptakan efek lanjutan, di mana modifikasi pada satu elemen dapat memicu transformasi sistemik yang signifikan. Hal ini bertentangan dengan konsep sprint dalam Agile, yaitu setiap iterasi diharapkan menghasilkan produk yang dapat digunakan. Selanjutnya, prioritas kecepatan pada metode Agile seringkali mengesampingkan aspek usability yang justru krusial dalam pengembangan aplikasi.
Integrasi metode UCD dan Agile dapat memperlancar keseluruhan proses pengembangan aplikasi dan meningkatkan kualitas produk dibandingkan dengan penggunaan salah satu metode saja. Sejumlah manfaat integrasi diantaranya adalah pemahaman yang lebih baik terhadap kebutuhan dan ekspektasi pengguna, masa produksi dan validasi yang lebih cepat, dan mitigasi risiko yang lebih efektif. Manfaat tersebut sudah dibuktikan pada berbagai proyek software di bidang pemerintahan, manufaktur, industri. Namun, masih sedikit yang memanfaatkan integrasi Agile UCD pada domain kesehatan, misalnya karena kompleksitas aplikasi e-health dan tantangan pada sinkronisasi aktivitas user research yang intensif di UCD dengan jadwal produksi yang ketat di metode Agile.
Penelitian ini bertujuan mengembangkan kerangka kerja Agile-UCD untuk aplikasi edukasi kesehatan. Kerangka kerja yang diusulkan terdiri dari dua tahapan utama, yaitu tahap user research and analysis dan tahap sprint iteration. Studi komprehensif pengguna dilaksanakan di awal proyek untuk menetapkan spesifikasi kebutuhan secara lengkap. Hal ini sangat penting untuk aplikasi e-health di mana kebutuhan yang tidak tepat dan tidak lengkap berisiko tinggi terhadap kesehatan pengguna. Penyelesaian studi pengguna di awal proyek juga memudahkan sinkronisasi antara aktivitas Agile dan UCD. Tahap kedua adalah pengembangan secara iteratif dalam sejumlah sprint time box. Tiap sprint diawali dengan rapat perencanaan untuk menetapkan spesifikasi kebutuhan yang akan diiimplementasikan berdasarkan prioritas pada product backlog. Aktivitas selanjutnya sesuai dengan urutan participatory design, pengembangan (code and testing), dan participatory sprint rerview dengan pengguna. Proses iterasi ini berlanjut hingga semua kebutuhan yang sudah didatarkan di product backlog selesai diimplementasikan dan diuji. Terakhir, evaluasi usability dilaksanakan pada produk final.
Validasi empiris kerangka kerja ini dilakukan melalui implementasi pada dua studi kasus: aplikasi pembelajaran komunikasi untuk anak dengan Autism Spectrum Disorder dan platform media sosial mobile untuk pasien. Hasil evaluasi usability kedua aplikasi menunjukkan bahwa kedua aplikasi mudah dipelajari dan digunakan, dengan tingkat user satisfaction yang tinggi. Selain itu, kerangka kerja yang diusulkan juga dievaluasi oleh 3 product owners, 8 anggota tim desain antarmuka, and 9 anggota tim developer. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kerangka kerja Agile UCD memfasilitasi identifikasi kebutuhan pengguna lebih lengkap, memudahkan kolaborasi dan komunikasi yang lebih efektif, dan mendukung pengembangan produk berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Penulis: Ira Puspitasari, S.T., M.T., Ph.D.
Link:





