Microgrid pada rumah sakit pada umumnya menggunakan distributed energy resources (DER) untuk meningkatkan ketahanan pasokan listrik ketika terjadi pemadaman listrik akibat banyaknya alat kesehatan yang biasa terlihat dari single line diagram (SLD). Kondisi tersebut memerlukan analisis data dan penentuan nilai ambang batas sebagai parameter batas dari kondisi daya dan dari segi proteksi dan efisiensi daya. Analisis arus bocor pada beban dalam penyaluran listrik dapat berguna untuk mengelola pasokan listrik dan merencanakan durasi penyaluran ke beban ketika terjadi pemadaman listrik dengan cara memutus beban yang memiliki kemungkinan besar mengalami kondisi arus bocor.
SLD Diagram pada Gambar 1 adalah contoh microgrid yang menunjukkan penerapan sistem generator darurat paralel di lokasi untuk mengurangi permintaan dan pasokan beban utilitas puncak untuk layanan black start bagi fasilitas perawatan kesehatan. Hal ini diperlukan untuk memastikan keseimbangan beban antara pasokan dan permintaan energi dan memastikan kondisi tanpa gangguan di ruang operasi dalam kerangka darurat. Jaringan ini memfasilitasi sumber energi aktif dari jaringan listrik utama, U4 dengan sumber alternatif dengan RES seperti susunan PV dan baterai dalam Bus DC, dcbus1, sebelum menuju Inverter, Inv1. Begitu pula, DG, Gen1 sebagai alternatif utama dalam memasok saat U4 mati, jaringan beban distribusi peralatan medis tetap dapat dilayani. Bantuan hidup di unit perawatan intensif (ICU), inkubator bayi di unit perawatan intensif neonatal (NICU), dan peralatan bedah listrik di ruang Operasi merupakan bagian dari beban umum di rumah sakit. Berbagai beban tersebut dapat dilihat sebagai contoh beban jaringan Lump1-Lump7 yang dibagi ke dalam distribusi pemutus arus (circuit breaker/CB), yakni; CB330-CB343.
Metode dan Hasil
Berdasarkan desain RCD digital, deteksi dapat didasarkan pada pola bentuk gelombang. Sementara itu, komunikasi dapat bergantung pada kecepatan komunikasi berbasis FO.
Distribusi sinyal cahaya menggunakan WDM perlu memperhatikan jarak panjang gelombang yang digunakan. Hal ini seperti terlihat pada Gambar 2. Semakin dekat jaraknya, semakin besar noise yang disebabkan oleh kemungkinan terjadinya perpotongan distribusi panjang gelombang cahaya. Rata-rata distribusi sinyal adalah sekitar 1,5 nm yang dapat diamati dari sinyal ke-2 dan ke-3 dari kiri dengan panjang gelombang tengah masing-masing sekitar 1548,9 dan 1547,4 nm. Dengan demikian, perbedaan panjang gelombang yang kurang dari itu akan mengalami perpotongan dengan distribusi sinyal dari kanal tetangga. Secara umum, sinyal akan menghasilkan SNR yang tidak terlalu tinggi dengan adanya noise crosstalk antar kanal.
Gambar 14 menunjukkan diagram waktu hasil simulasi waktu untuk setiap sinyal. Dengan deteksi pola sinyal bentuk gelombang, dapat dilihat bahwa waktu yang dibutuhkan dari keadaan 1 ke keadaan 2, yang dilingkari dengan warna biru hanya membutuhkan waktu sekitar 5,45 ms yang ditunjukkan dengan warna terbalik dari nama sinyal, Keadaan. Nilai interval ini adalah panjang deteksi sinyal H ke L di LCC, yang dikonfirmasi juga dengan nilai rendah pada nama sinyal maxOut di h001, yang dilingkari dengan warna merah selama keadaan 0 dan 2. Panjang waktu lebih pendek dari setengah panjang T pada 10 ms.
Penulis: Erwin Sutanto, S.T., M.Sc.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:





