51动漫

51动漫 Official Website

Kerugian Pariwisata dan Usaha Terkait Sosialisasi Kebijakan dan Pengarahan Strategi

Foto by GNFI

Pandemi COVID-19 berdampak besar terhadap melambatnya kegiatan ekonomi dan usaha di sektor pariwisata. Usaha akomodasi, transportasi, makanan dan minuman, perbelanjaan, tour pariwisata, hiburan, pusat oleh-oleh, dan usaha lain mengalami penurunan pendapatan yang signifikan selama masa 2020-2021. Dengan demikian tim peneliti 51动漫 yang dipimpin oleh Dr. Miguel Angel Esquivias tertarik untuk meneliti dampak pandemi COVID-19 terhadap sektor pariwisata dan usaha di bidang terkait. Tim pakar Ekonomi kreatif dan pariwisata menyajikan beberapa rekomendasi kebijakan untuk membantu pemerintah dalam proses menyelamatkan usaha di bidang pariwisata.

Hasil dari penelitian tim UNAIR menunjukkan bahwa selama Januari 2020 sampai Maret 2021 terjadi penurunan kedatangan wisatawan asing sebesar 16.65 juta turis dengan kerugian ekonomi di sektor terkait pariwisata sekitar 19 milyar USD. Kerugian usaha akomodasi diperkirakan mencapai 7,3 milyar USD; kerugian usaha makanan dan minuman diperkirakan mencapai 4 milyar USD; kerugian usaha perbelanjaan sebesar 2,7 Milyar USD; dan paket tour bersama kegiatan lainnya sebesar 2 Milyar USD.

Di tengah besarnya penurunan pendapatan wisman akibat pandemi dan perlambatan ekonomi global, tim peneliti memperkirakan seberapa besar dampak hilangnya pendapatan wisman terhadap kunjungan wisman ke Indonesia. Demikian pula, guncangan besar pariwisata global dan kerugian usaha pariwisata kemungkinan akan mempengaruhi harga layanan pariwisata di Indonesia dan luar negeri. Perubahan harga jasa pariwisata tersebut dapat menyebabkan perubahan daya saing sebagai tujuan wisata suatu negara. Secara teori, mata uang yang lemah, dan tingkat harga yang rendah (layanan pariwisata yang murah) menjadi pendorong kedatangan pariwisata bagi negara-negara seperti Turki dan Argentina yang mengalami depresiasi nilai mata uang beberapa tahun yang lalu. Jika beberapa destinasi pesaing Indonesia mengalami penurunan nilai mata uang dan tingkat harga yang rendah (dibandingkan dengan destinasi asing) maka wisatawan akan semakin tertarik karena biaya yang murah dibandingkan dengan lokasi alternatif lainnya.

Untuk kasus Indonesia, tim peneliti menemukan bahwa pendapatan per kapita wisatawan, tingkat harga di Indonesia, dan harga substitusi (alternatif tujuan wisata) berpengaruh signifikan terhadap permintaan wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia. Sebagai contoh, Pariwisata di Indonesia dianggap mewah karena Indonesia dianggap sebagai tujuan yang sangat kompetitif dalam hal harga yang menunjukkan bahwa sedikit kenaikan harga akan berdampak kecil pada kedatangan wisatawan. Indonesia bisa memanfaatkan wisatawan asing dalam tingginya kemauan membayar saat berkunjung ke Indonesia. Penting untuk digaris bawahi bahwa penurunan harga untuk turis asing tidak akan memiliki dampak tambahan (sangat kecil) dalam menarik lebih banyak wisatawan. Sebaliknya, menawarkan layanan berkualitas lebih tinggi, hiburan yang lebih beragam, dan lebih banyak atraksi akan membantu meningkatkan jumlah pengeluaran wisatawan di Indonesia. Jika dilihat berdasarkan data, rata-rata seorang turis yang berkunjung ke Indonesia menghabiskan $1,150 USD per perjalanan. Rata-rata wisatawan mengalokasikan hampir 39% pengeluarannya untuk akomodasi, 21% untuk makanan dan minuman, 15% untuk belanja, 14% untuk transportasi, 1,6% untuk paket wisata, dan 10,2% untuk komponen lainnya. Hampir 75% dialokasikan untuk transportasi, makanan, dan akomodasi, dan hanya 25% untuk layanan lainnya. Indonesia mungkin kehilangan potensi pendapatan karena tidak menyediakan layanan yang lebih menarik dan layanan berkualitas lebih tinggi bagi wisatawan.

Di sisi lain, Indonesia akan terpengaruh secara signifikan oleh pembatasan yang diberlakukan pada wisatawan Cina, sensitivitas besar wisatawan India terhadap kehilangan pendapatan dan reaksi besar terhadap perubahan harga (mudah pindah ke tujuan alternatif jika lebih murah).

Beberapa tingkat harapan untuk pemulihan kedatangan pariwisata yang cepat adalah dengan memfasilitasi kedatangan wisatawan dari Singapura dan Australia yang menganggap Indonesia sebagai tujuan yang murah. Jepang dapat mengunjungi kembali tergantung pada apakah harga pariwisata di Indonesia tetap kompetitif atau tidak. Malaysia, Korea Selatan, dan negara-negara Eropa dapat mengikuti jika terdapat jalur transportasi yang memfasilitasi perjalanan mereka, dan setelah negara-negara tersebut memiliki kegiatan pariwisata (Indonesia bukan tujuan prioritas bagi mereka).

Pembuat kebijakan dapat menyelidiki kebijakan non-harga karena kebijakan yang berorientasi pada harga tidak akan terlalu efektif untuk menarik lebih banyak wisatawan. Fokus untuk membentuk kembali sektor pariwisata bisa dilakukan dengan meningkatkan kualitas pelayanan, memperbanyak fasilitas, lingkungan yang aman, dan fleksibilitas dalam bepergian. Ada ruang besar untuk kolaborasi dalam menciptakan destinasi wisata komplementer antar negara ASEAN. Hal ini akan membutuhkan pekerjaan tambahan karena masih miniminya koordinasi, tetapi berpotensi membantu meluncurkan kembali kedatangan pariwisata. Sosialisasi kebijakan pemerintah seperti stimulus fiskal, sertifikasi CHSE (Cleanliness Health Safety Environment Sustainability) dan reaktivasi pasar perlu diketahui oleh pelaku usaha. Pengarahan strategi yang tepat juga dilakukan seperti inovasi produk, peningkatan protokol kesehatan, digitalisasi, dan sertifikasi.

Penulis: Esquivias, M. A., Sugiharti, L., Rohmawati, H., & Sethi, N. (2021).

Link jurnal: Impacts and implications OF a pandemic on tourism demand in Indonesia. Economics and Sociology, 14(4), 133-150. doi:10.14254/2071-789X.2021/14-4/8

AKSES CEPAT