51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Kesehatan Mental dan Keikutsertaan dalam Pengambilan Keputusan Keikutsertaan Remaja Yatim di Mojokerto

Akhir-akhir ini, kesehatan mental menjadi perhatian Masyarakat, termasuk di lingkungan kampus. Beberapa kejadian fatal yang terjadi dalam waktu dekat di Jawa Timur merupakan sinyal bahaya bagi kondisi kesehatan mental bangsa. Hal ini tidak hanya terjadi pada individu dewasa, namun juga pada remaja. Pada 2019, UNICEF melaporkan bahwa 166 juta remaja memiliki masalah kesehatan mental, termasuk depresi, kecemasan, bipolar, gangguan makan, spektrum autisme, perilaku, penggunaan narkoba, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) dan sekelompok

gangguan kepribadian. Sementara di Indonesia, sepertiga remaja Indonesia (15,5 juta) memiliki masalah kesehatan mental pada tahun 2022, dengan kecemasan menjadi gangguan kesehatan jiwa yang paling umum, panik, khawatir, perubahan mood, fobia sosial, dll. Salah satu kelompok yang rentan terhadap masalah kesehatan mental adalah yatim.

Pada masa remaja terjadi perubahan emosi, kondisi fisik, dan sosial mungkin mempengaruhi

kesehatan mental remaja. Periode ini penting untuk perkembangan sosial dan emosional, yang mempengaruhi kemampuan mereka untuk memecahkan masalah, mengatasi, pribadi pengambilan keputusan hubungan, dll. Ada empat elemen dalam partisipasi pengambilan keputusan, yaitu ruang, suara, penonton, dan pengaruh.

Setiap anak dan remaja mempunyai hak untuk membentuk dan mengekspresikan dirinya pandangan, untuk didengarkan, dan jika disesuaikan, milik mereka pandangan dapat ditindaklanjuti. Karena itu, dukungan dari lingkungan seperti keluarga dan sekolah, itu penting. Namun, beberapa anak dan remaja mungkin tidak mendapatkan dukungan ini, termasuk anak yatim piatu.

Kesedihan masa kanak-kanak, perpisahan dari keluarga, pekerja anak, atau pelecehan mempengaruhi kesehatan mental anak yatim, termasuk partisipasi mereka dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu, sebagai studi percontohan, penelitian ini ingin menyelidiki mental kondisi kesehatan dan partisipasi pengambilan keputusan di kalangan anak yatim menjadi satu panti asuhan di kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia.

Penelitian cross-sectional ini menggunakan Skala Kecemasan Depresi Versi Remaja (DASS-Y) dan Partisipasi Anak dan Remaja dalam Pengambilan Keputusan Pembuatan Kuesioner (CAP-DMQ). Tiga puluh lima remaja yatim di salah satu panti asuhan di Mojokerto direkrut menggunakan convenience sampling. Frekuensi kesehatan mental responden dan partisipasi pengambilan keputusan dihitung, dan perbedaan rata-rata antara masing-masing kelompok faktor sosiodemografi diuji menggunakan uji Mann-Whitney U atau tes Kruskal Wallis. Hubungan antara kesehatan mental dan partisipasi pengambilan keputusan dihitung menggunakan uji Chi-square.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 40% responden berkategori memiliki masalah kesehatan mental ringan, termasuk depresi, kecemasan, dan menekankan. Masalah kesehatan mental paling banyak ditemukan pada laki-laki (22,90%) dan sekolah dasar (20%). Partisipasi anak yatim dalam pengambilan keputusan tergolong baik dengan median 25,5. Analisis bivariat menyimpulkan hubungan antara kecemasan, usia, kelas, dan partisipasi pengambilan keputusan (p= 0.024, p= 0.029, p=0.029, masing-masing).

Dapat disimpulkan bahwa perhatian terhadap anak yatim khususnya remaja, dan permasalahan mereka diperlukan untuk mengurangi kesenjangan kesehatan di dalamnya kelompok rentan ini. Dibutuhkan responden yang lebih luas untuk memahami hal ini gambaran lengkap kondisi kesehatan mental remaja Indonesia anak yatim, termasuk remaja akhir.

Penulis: Annette d™Arqom, dr., M.Sc., Ph.D

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

d™Arqom, A., Nurdiansyah, F., Indiastuti, D. N., Nasution, M. Z., Fatimah, N., Purwaningsih, S., Setiawati, Y., & Purwantari, K. E. (2023). Mental health and decision-making participation of adolescent orphans: A pilot study. Jurnal Keperawatan Padjadjaran11(3), 176“183. https://doi.org/10.24198/jkp.v11i3.2358

AKSES CEPAT