Tuberkulosis (TB) adalah salah satu penyebab utama kematian global, dengan Indonesia berada di peringkat kedua tertinggi dalam prevalensi TB. Diagnosis dini sangat penting untuk mengurangi transmisi TB dan mencegah resistansi obat. Pengambilan sampel sputum sering kali sulit dilakukan pada pasien tertentu, sehingga penelitian ini mengevaluasi penggunaan feses sebagai alternatif sampel untuk deteksi MTB.
Sensitivitas uji feses Xpert庐 MTB/RIF Ultra mencapai 97,6%, setara dengan sputum Xpert庐 MTB/RIF Ultra. Tidak ada kesesuaian signifikan antara hasil uji Feses AFB dengan kultur sputum (Kappa = 0,063). Terdapat kesesuaian sedang antara hasil uji Xpert庐 MTB/RIF Ultra pada sputum dan feses (Kappa = 0,409). Hasil uji resistansi rifampisin menunjukkan kesesuaian tinggi antara Xpert庐 MTB/RIF Ultra sputum dan feses (Kappa = 0,902-0,951). Nilai Cycle Threshold (CT) pada feses lebih tinggi dibandingkan sputum, menunjukkan konsentrasi bakteri yang lebih rendah di feses.
Feses dapat dianggap sebagai alternatif yang layak untuk sampel sputum dalam deteksi MTB menggunakan Xpert庐 MTB/RIF Ultra, terutama bagi pasien yang kesulitan menyediakan sputum. Namun, Feses AFB tidak cocok untuk monitoring terapi TB. Penelitian ini menunjukkan bahwa feses memiliki potensi untuk meningkatkan deteksi TB di fasilitas kesehatan dengan metode non-invasif.
Artikel dapat di akses melalui web :
Penulis : Dewi Rochmawati, Puspa Wardhani, Yessy Puspitasari , Tutik Kusmiati , Atika , Hartono Kahar





