Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri patogen Gram-negatif yang sering menjadi penyebab infeksi serius pada pasien dengan sistem imun yang lemah. Salah satu faktor yang membuat bakteri ini sulit diatasi adalah kemampuannya membentuk biofilm. Biofilm adalah lapisan mikroorganisme yang melekat pada permukaan dan dilindungi oleh matriks polisakarida, yang membuatnya lebih resisten terhadap antibiotik dan respons imun tubuh. Salah satu gen yang berperan dalam pembentukan biofilm adalah pelA, yang mengode polisakarida Pel.
Gen pelA dan Biofilm Pseudomonas aeruginosa
Gen pelA berperan dalam sintesis polisakarida Pel, yang memiliki muatan kationik dan membantu stabilisasi struktur biofilm. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Yaultsa et al. (2024) menemukan bahwa dari 33 isolat klinis Pseudomonas aeruginosa yang diteliti, sebanyak 93,9% (31 isolat) memiliki gen pelA, sedangkan 6,1% (2 isolat) tidak memiliki gen tersebut. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara keberadaan gen pelA dan kepadatan biofilm yang terbentuk (p = 0,011).
Dampak Biofilm terhadap Infeksi Klinis
Biofilm yang dihasilkan oleh Pseudomonas aeruginosa sangat berbahaya karena dapat menyebabkan infeksi kronis, terutama pada pasien dengan kondisi kesehatan yang lemah, seperti penderita fibrosis kistik, infeksi saluran pernapasan, dan infeksi luka. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa 12,1% isolat klinis tidak menghasilkan biofilm, 30,3% menghasilkan biofilm lemah, 39,4% menghasilkan biofilm sedang, dan 18,2% menghasilkan biofilm kuat. Isolat yang memiliki gen pelA cenderung memiliki biofilm dengan kepadatan lebih tinggi dibandingkan dengan isolat yang tidak memiliki gen tersebut.
Dalam studi ini, deteksi gen pelA dilakukan menggunakan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR), sementara kepadatan biofilm diukur menggunakan BioRad iMark Microplate Reader. Metode ini memungkinkan analisis yang akurat terhadap hubungan antara keberadaan gen pelA dan kemampuan bakteri dalam membentuk biofilm.
Implikasi bagi Pengobatan Infeksi
Keberadaan biofilm pada infeksi yang disebabkan oleh Pseudomonas aeruginosa merupakan tantangan besar dalam terapi antibiotik. Biofilm dapat meningkatkan resistensi bakteri terhadap antibiotik hingga 1.000 kali lipat dibandingkan dengan bentuk planktoniknya. Oleh karena itu, memahami mekanisme genetik yang terlibat dalam pembentukan biofilm, seperti gen pelA, dapat membantu pengembangan terapi yang lebih efektif. Salah satu pendekatan yang sedang diteliti adalah penggunaan enzim yang dapat menghancurkan matriks polisakarida biofilm atau penghambat ekspresi gen pelA.
Penelitian ini menunjukkan bahwa gen pelA memiliki hubungan yang signifikan dengan kepadatan biofilm pada isolat klinis Pseudomonas aeruginosa. Pemahaman lebih lanjut tentang peran gen ini dapat berkontribusi pada pengembangan strategi pengobatan yang lebih efektif untuk mengatasi infeksi bakteri ini. Mengingat dampak resistensi antibiotik yang semakin meningkat, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi metode baru dalam menghambat pembentukan biofilm dan meningkatkan efektivitas terapi antibiotik terhadap infeksi Pseudomonas aeruginosa.
Artikel ini di publikasi pada jurnal : 5:1333
Penulis: Puspa Wardhani
dapat di akses pada :





