Tinitus merupakan gangguan persepsi pendengaran tanpa disertai adanya rangsangan suara fisik. Individu dengan tinitus dapat mengalami semacam ilusi pendengaran seperti dering, dengungan, raungan, atau suara lain di telinga atau kepala yang tidak dapat diamati dengan nyata oleh pemeriksa. Biasanya setelah beberapa lama kemudian penderita tinitus bisa beradaptasi dengan baik, tetapi mungkin mengalami gangguan dalam aktivitas hidup sehari-hari, merasa tertekan dan berpengaruh terhadap perilaku dan emosional, serta mengganggu konsentrasi mental, dan gangguan tidur.
Kejadian tinitus banyak ditemukan di masyarakat luas, sekitar 10% hingga 15% orang dewasa di seluruh dunia menderita tinnitus dan diperkirakan memengaruhi lebih dari 50 juta orang di Amerika Serikat. Sekitar 25% orang dewasa yang mengalami tinitus melaporkan bahwa kondisi tersebut mengganggu aktivitas sehari-hari dan 1% sampai 3% individu melaporkan bahwa kualitas hidup mereka sangat terpengaruh.
Sebuah studi melalui wawancara di lapangan, mendapatkan penderita tinitus sebanyak 22% dari penduduk di kota S茫o Paulo (Brasil), 26% wanita dan 17% pria yang mengalami gejala ini. Kejadian tinnitus yang didapatkan di unit rawat jalan Neurotologi RSUD Dr. Soetomo Surabaya adalah sebanyak 420 orang, dari tahun 2016 sampai dengan 2018.
Akibat gangguan tinitus bisa berdampak pada kehidupan sehari-hari dan menjadi suatu petunjuk penting dalam proses menegakkan diagnosis dan terapi. Hal ini akan membantu dikarenakan keluhan tinitus umumnya bersifat subyektif, sedangkan untuk pemeriksaan obyektif yang mudah dan dapat dilakukan dengan praktis belum tersedia. Bisa dimengerti bahwa pemeriksaan secara obyektif memerlukan berbagai cara dan alat yang tidak sederhana, mengingat penyebab tinnitus yang sangat bervariasi mulai dari gangguan telinga bagian luar sampai dengan pusat pendengaran di otak. Untuk itu instrumen kuesioner memadai dalam membantu menegakkan diagnosis.
Keterbatasan dalam menilai tinnitus secara obyektif menjadikan suatu kebutuhan untuk pengembangan metode kuesioner yang bersifat laporan mandiri (self report) sebagai pilihan utama dalam melakukan evaluasi gejala tinnitus secara praktis, selain dapat mengukur sejauh mana dampak negatif dari tinnitus terhadap kualitas hidup penderita.
Selama ini sudah dikembangkan Tinnitus Handicap Inventory (THI) sebagai alat untuk mengevaluasi tinitus dan memantau efek terapi. Instrumen THI versi Bahasa Indonesia yang telah diadaptasi adalah valid dan reliabel menurut prinsip validasi transkultural oleh WHO sebagai instrumen psikometrik terhadap kualitas hidup penderita tinitus, sehingga dapat digunakan sebagai penilaian secara mandiri oleh penderita tinnitus. Keterbatasan yang dimiliki THI adalah kurang dalam hal membedakan antara gangguan tidur, sulit berkonsentrasi, penurunan kemampuan dalam menikmati kehidupan sosial, dan gangguan pendengaran. Oleh karena itu perlu ada penilaian dengan instrumen kuesioner lainnya yang dapat digunakan pedoman dalam penanganan tinnitus
Beberapa penelitian telah dilakukan akhir akhir ini, instrumen penilaian tinnitus dengan kuesioner baru yang dikembangkan oleh Richard Tyler dan telah diadaptasi dalam beragam bahasa di dunia. Studi yang dilakukan pada instrumen penilaian ini mendapatkan hasil valid, dapat dipercaya, dan sensitif serta dapat digunakan sebagai alat untuk mengukur kualitas hidup penderita tinitus. Kuesioner terdiri dari 12 item pertanyaan yang mewakili 4 domain independen, yaitu emosi, pendengaran, tidur, dan konsentrasi, yang dikenal sebagai Tinnitus Primary Function Questionnaire.
Hasil penelitian uji korelasi antara derajat gangguan pendengaran dengan THI Indonesia maupun derajat gangguan pendengaran dengan TPFQ 12-item Indonesia menunjukkan tidak ada perbedaan. Dengan demikian TPFQ 12-item Indonesia dapat digunakan untuk penilaian Tinitus. Melalui penilaian ini akan membantu dan memudahkan, karena dapat dilakukan dengan singkat, bisa dikerjakan dengan mudah dan praktis.
Penulis: Dr. Nyilo Purnami, dr., Sp.T.H.T.B.K.L.,Subsp.N.O.(K),FICS,FISCM
Sumber: Purnami N, Tiarini S, Probosutejo N, Utomo B, Cahyani MI. Correlation between Tinnitus Handicap Inventory with Tinnitus Primary Function Questionnaire in Indonesian language. ORLI 2022 Volume 52 No.2: 132-138. DOI:





