Negara kepulauan kecil, khususnya pulau-pulau dataran rendah yang terletak di Oseania di wilayah Pasifik Selatan, rentan terhadap ketidakadilan iklim. Isu perubahan iklim terkait erat dengan kelangsungan hidup mereka. Sementara strategi mitigasi diberlakukan melalui fasilitasi penciptaan pengetahuan dan kolaborasi internasional, langkah-langkah adaptif dilaksanakan melalui kerangka keagamaan dan spiritual. Pendekatan yang khas ini merupakan ciri khas penduduk asli komunitas Pasifik/Oseania, yang berfungsi sebagai penentu sosial-budaya yang memengaruhi pandangan khusus yang dimiliki oleh penduduk Pasifik mengenai variabilitas iklim. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi alasan di balik kecenderungan masyarakat Pasifik tradisional untuk memilih sikap spiritual dalam menangani adaptasi iklim. Dalam menghadapi ketidakadilan iklim, penduduk asli wilayah Pasifik cenderung lebih mengandalkan praktik tradisional dan penggabungan pengetahuan lokal di samping pendekatan konvensional, seperti langkah-langkah ilmiah, teknologi, dan diplomatik. Fenomena perubahan iklim di Pasifik merupakan lambang kerentanan, bencana, dan wacana yang berkisar pada ketakutan dan ambiguitas (aporia), yang memerlukan strategi yang melampaui strategi yang berakar pada ideologi sekuler-Barat.
Karena lokasi mereka yang terpencil dan kelangkaan sumber daya alam, masyarakat adat di wilayah Pasifik hidup berdampingan secara damai dengan lingkungan dan bertahan dalam kondisi alam yang keras. Dengan menjaga tanah tempat mereka tinggal dan melindungi aset budaya serta pengetahuan tradisionalnya, mereka dapat mengatasi tantangan ini. Mereka menggunakan pengetahuan lokal mereka untuk beradaptasi dengan perubahan iklim, yang telah terbukti mengurangi perasaan tidak pasti dan cemas. Struktur sosial ekonomi dan susunan biofisik negara-negara Kepulauan Pasifik sangat dirugikan oleh perubahan iklim. Penduduk Kepulauan Pasifik yang dianggap sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim menyadari bahwa dampak ini merupakan ancaman bagi masyarakat dan tanah mereka.
Diplomasi konvensional dan kerja sama internasional merupakan pendekatan standar karena tidak ada negara yang dapat memerangi perubahan iklim sendirian. Negara kepulauan Pasifik berpartisipasi dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB dan forum lainnya untuk mempromosikan tindakan global. Untuk membantu penduduk asli Oseania keluar dari iklim ketidakadilan dengan cara yang menghormati epistemologi lokal mereka, masyarakat internasional harus bersatu. Penduduk asli Oseania membutuhkan mitra yang bersimpati terhadap penderitaan mereka dan menyadari cara-cara yang telah mereka gunakan untuk ‘berjuang’ melawan kerasnya alam.
Dari sudut pandang penduduk asli Oseania, memerangi ancaman lingkungan jauh lebih penting bagi masa depan mereka daripada terlibat dalam persaingan militer yang bermusuhan antara negara-negara besar. Satu-satunya kelompok yang terjebak di tengah persaingan geopolitik ini adalah penduduk asli Oseania. Penduduk asli Oseania tidak termasuk dalam perspektif Barat, yang memandang hubungan antara sains dan agama sebagai konflik. Hubungan keberlanjutan-spiritualitas (sustainability-spirituality) adalah epistemologi utama untuk memahami strategi adaptasi iklim di Pasifik, tanpa mengabaikan pentingnya sains dan teknologi. Memisahkan sustainability dengan spirituality sama saja dengan melemahkan komponen spiritual dari intervensi iklim dan menghambat agenda global untuk mencapai target SDG. Penelitian ini menemukan ada kesenjangan dalam penciptaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) karena agenda global sekuler tidak memasukkan spiritualitas sebagai salah satu tujuan. Hal ini terbukti dari kasus Oseania.
Penulis: Baiq Lekar Sinayang Wahyu Wardhani, Dra., MA., Ph.D
Link:
Baca juga: Pemberian Hak Pengelolaan dalam Konteks Perlindungan Hak Masyarakat Hukum Adat





