51动漫

51动漫 Official Website

Ketahanan Sosial Perempuan Desa Pesisir Jawa Timur di Masa Pandemi COVID-19

Foto by Bisnis Ekonomi

Ketahanan sosial adalah tentang entitas sosial dan kemampuan mereka untuk mentolerir, menyerap, mengatasi dan beradaptasi dengan berbagai jenis ancaman lingkungan dan sosial. Ketahanan sosial mencakup berbagai jenis aset, berupa modal ekonomi, modal fisik, modal alam, dan modal manusia (Ungar, 2008). Aset adalah produk dari hubungan sosial, modal sosial dan jaringan sosial dan memainkan peran kunci dalam membangun dan memelihara ketahanan sosial. Secara luas, ketahanan sosial juga mencakup aturan dan norma yang disusun oleh praktik sosial yang secara fundamental menentukan struktur dan distribusinya. Aset mencerminkan hubungan kekuasaan dalam masyarakat dan merupakan penentu utama ketahanan sosial (Cinner & Barnes, 2019). Selanjutnya, aspek penting dari ketahanan sosial adalah kekuatan untuk menentukan apa yang dianggap sebagai ancaman atau bencana dan apa yang tidak. Kajian terhadap perempuan desa pesisir ini tidak hanya mengkaji kapasitas ketahanan sosial di hubungan intra rumah tangga, karena tidak cukup untuk memahami strategi ketahanan sosial untuk jangka panjang, tetapi juga melihat kapasitas ketahanan sosial perempuan dalam keterlibatan masyarakat yang lebih luas, dengan asumsi bahwa kapasitas tersebut akan mempengaruhi kemampuan mereka untuk bertahan hidup. Perlu diperhatikan baik di dalam maupun di luar keluarga, baik dengan perempuan maupun laki-laki, hubungan yang lebih luas ini merupakan bagian dari struktur patriarki (Walby, 1989). Sistem patriarki merupakan konsep kunci yang mengungkapkan kapasitas atau kekurangan kapasitas ketahanan sosial di kalangan keluarga miskin desa pesisir. Keterkaitan antara patriarki dan ketahanan sosial harus diakui dan dieksplorasi.

Penelitian ini menggunakan perspektif gender dimana penelitian dilakukan dengan partisipasi aktif dari subjek penelitian攑erempuan攄an berfokus pada relasi gender. Penelitian ini dilakukan di desa-desa pesisir di Provinsi Jawa Timur: 1) Kota Surabaya dengan ciri multikultural, 2) Kabupaten Situbondo dengan ciri budaya campuran Jawa揗adura, dan 3) Kabupaten Tuban dengan ciri budaya Jawa. Subyek penelitian ini adalah wanita menikah yang telah memiliki anak. Pengumpulan data dilakukan oleh tim peneliti dibantu oleh mahasiswa kami dengan menggunakan teknik wawancara terstruktur berupa kuesioner offline yang diberikan kepada responden perempuan yang dipilih secara sengaja. Selama dua bulan (Juni-Juli 2021), 185 responden diwawancarai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwasekitar separuh perempuan di desa pesisir menghasilkan lebih dari separuh pendapatan keluarganya. Di Kabupaten Situbondo, separuh dari perempuan menghasilkan 83,6% dan di Kabupaten Tuban, perempuan menghasilkan 48,4% dari pendapatan keluarganya. Jenis pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan desa pesisir meliputi pengolahan hasil laut, pengepakan, dan penjualan. Hanya sekitar 5% perempuan yang bekerja di manajemen atau keuangan. Produksi hasil laut selama pandemi COVID-19 menurun drastis hingga 40% di Surabaya dan 60% di Tuban. Studi ini menemukan bahwa mayoritas perempuan di desa pesisir bekerja di bidang pengolahan yaitu memasak makanan laut yang tidak memerlukan pelatihan khusus di tempat kerja. Norma ini diciptakan oleh pembagian kerja gender tradisional di mana pelatihan dilakukan di rumah melalui peran gender tradisional. Di Surabaya, sebagian perempuan bekerja sebagai sales di toko atau bekerja sebagai pengepakan. Dari fakta tersebut dapat kita catat bahwa meskipun pekerjaan perempuan di desa pesisir dikategorikan sebagai unskilled, namun perempuan tetap melakukan langkah-langkah untuk mengatasi ancaman langsung pandemi COVID-19 dengan menggunakan sumber daya yang mereka peroleh secara langsung, yang merupakan langkah 渞eaktif. Ketahanan sosial perempuan dalam penelitian ini memiliki sedikit alternatif untuk mendapatkan penghasilan bagi keluarganya karena keterbatasan keterampilan dan waktu. Kajian ini menunjukkan bahwa meski produksi olahan hasil laut menurun selama pandemi COVID-19, perempuan di desa pesisir bertahan hidup dengan mengandalkan kerabatnya, seperti yang diungkapkan seorang ibu dari seorang anak laki-laki berusia tiga tahun: 淪aya masih punya untuk bekerja karena suami saya tidak bekerja selama pandemi COVID-19, kerabat saya banyak membantu pengiriman makanan, tetapi saya tidak ingin bergantung pada kerabat hanya untuk bertahan hidup (Ibu Eka, usia 32 tahun, Kabupaten Tuban, Juli 2021). Mayoritas wanita dengan balita harus merawat anak-anak mereka saat bekerja dalam situasi yang terkadang berbahaya. Para wanita ini mengalami beban ekstra selama 渘ormal baru. Banyak anak bermain di dekat ibu mereka saat memasak makanan laut dalam wajan besar dan panci di atas api besar. Anak-anak lain menemani ibunya berjualan hasil laut di pinggir jalan ramai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa banyak perempuan menanggung beban ganda dan menerima sedikit atau tidak ada perlindungan di tempat kerja.

Selama pandemi COVID-19, perempuan berperan penting dalam memperkuat jejaring sosial keluarga, tetangga, dan tokoh masyarakat setempat. Perempuan juga berpartisipasi dalam kehidupan sosial, bertetangga, saling membantu untuk mendapatkan informasi tentang pandemi COVID-19, dan belajar bagaimana melindungi keluarga mereka. Perempuan pedesaan pesisir memiliki tiga kapasitas penting untuk membangun ketahanan sosial: yaitu kapasitas untuk mengatasi, beradaptasi, dan bertransformasi. Hasil penelitian ini mengungkapkan ketidaksetaraan gender dan budaya patriarki yang kuat menyelimuti kehidupan perempuan pedesaan pesisir di Jawa Timur. Perempuan membantu memenuhi kekurangan pendapatan untuk kebutuhan keluarga, tetapi mereka juga memikul banyak beban bekerja di pengolahan hasil laut dan mengurus anak dan rumah tangga.

Selama pandemi COVID-19, peran perempuan sangat penting dalam menjaga kesehatan keluarga, aktif mencari informasi dan bantuan dalam menghadapi pandemi COVID-19, serta memenuhi kekurangan pendapatan untuk kebutuhan keluarga. Di masa 渒enormalan baru, perempuan berperan dalam memperkuat jaringan sosial keluarga, tetangga, dan pemimpin setempat. Dalam budaya patriarki yang kuat, perempuan di desa pesisir menjadi kunci ketahanan sosial dan kelangsungan hidup selama pandemi COVID-19. Hasil penelitian ini menunjukkan ketidaksetaraan gender dan struktur patriarki yang kuat melingkupi kehidupan

perempuan desa pesisir. Di tiga kampung pesisir Surabaya, Tuban, dan Situbondo, laki-laki bekerja sebagai nelayan mencari dan memanen hasil laut sedangkan perempuan bekerja mengolah hasil laut sambil mengurus rumah tangga. Kajian ini menunjukkan kapasitas perempuan untuk bertahan hidup selama pandemi COVID-19 dengan menggunakan kapasitas koping dan adaptif, tetapi bukan kapasitas transformatif, karena mereka memiliki akses yang terbatas terhadap aset dan bantuan dari jaringan sosial dan politik yang lebih luas.

Penulis: Emy Susanti, Tri Soesantari, Sutinah, Henny Rosalinda

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :

Susanti, Emy; Soesantari, Tri; Sutinah; and Rosalinda, Henny (2022) “The Social Resilience of Women in Coastal Villages of East Java during the COVID-19 Pandemic,” Journal of International Women’s Studies: Vol. 24: Iss. 8, Article 8. Available at: https://vc.bridgew.edu/jiws/vol24/iss8/8 (https://vc.bridgew.edu/jiws/vol24/iss8/8/)

AKSES CEPAT