Media sosial kini menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan mahasiswa. Tidak hanya sebagai sarana komunikasi dan hiburan, media sosial juga berperan dalam menunjang proses belajar. Namun, sebuah studi terbaru yang melibatkan mahasiswa di Indonesia dan Taiwan mengungkap sisi kelam di balik keasyikan berselancar di dunia maya. Ternyata, penggunaan media sosial dan YouTube secara berlebihan berkaitan erat dengan gangguan kesehatan mental seperti stres, cemas, dan depresi.
Penelitian yang dilakukan tim dari 51动漫 dan National Cheng Kung University Taiwan ini melibatkan 1.402 mahasiswa, terdiri dari 515 mahasiswa Indonesia dan 887 mahasiswa Taiwan. Mahasiswa Indonesia yang menjadi responden berusia rata-rata 20 tahun, sedangkan mahasiswa Taiwan rata-rata berusia hampir 29 tahun. Para peneliti mengukur tingkat penggunaan media sosial secara umum (disebut generalized Problematic Social Media Use/PSMU) serta penggunaan YouTube secara spesifik (Problematic YouTube Use/PYU). Selain itu, kondisi kesehatan mental peserta diteliti menggunakan skala yang mengukur depresi, kecemasan, dan stres.
Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa Indonesia memiliki tingkat ketergantungan media sosial secara umum yang lebih tinggi dibanding mahasiswa Taiwan. Namun, dalam penggunaan YouTube secara spesifik, mahasiswa Taiwan ternyata lebih rentan. Mengapa bisa demikian? Peneliti menduga gaya bermedia sosial di Indonesia lebih variatif. Mahasiswa Indonesia cenderung aktif di berbagai platform seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan lainnya, sehingga menyebabkan ketergantungan menyeluruh terhadap media sosial secara umum. Sementara di Taiwan, YouTube menjadi platform utama yang dominan digunakan, sehingga muncul ketergantungan spesifik pada platform tersebut.
Yang mengkhawatirkan, penelitian ini membuktikan adanya hubungan erat antara tingkat ketergantungan media sosial (baik umum maupun YouTube) dengan masalah kesehatan mental. Semakin tinggi tingkat depresi, kecemasan, dan stres yang dialami mahasiswa, semakin besar kecenderungan mereka untuk menggunakan media sosial secara berlebihan. Begitu pula sebaliknya, penggunaan media sosial yang tidak terkontrol justru memperparah gangguan kesehatan mental yang mereka alami.
Temuan ini mengkonfirmasi teori-teori psikologis seperti I-PACE Model dan Uses and Gratifications Theory. Saat menghadapi tekanan mental, mahasiswa cenderung menjadikan media sosial sebagai pelarian. Namun, alih-alih menyelesaikan masalah, kebiasaan ini justru menciptakan lingkaran setan: stres mendorong penggunaan media sosial berlebihan, lalu ketergantungan ini memperburuk stres dan gangguan mental.
Hasil riset juga menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia memiliki skor kecemasan, depresi, dan stres yang lebih tinggi dibanding mahasiswa Taiwan. Hal ini disebabkan berbagai faktor, mulai dari tekanan akademik, kehidupan sosial, hingga minimnya dukungan psikologis.
Menariknya, meski mahasiswa Indonesia lebih banyak menggunakan berbagai media sosial, mereka justru lebih jarang menggunakan YouTube secara intens dibanding rekan-rekan mereka di Taiwan. Hal ini diduga berkaitan dengan budaya belajar dan sosial masyarakat Indonesia yang lebih menyukai interaksi di platform yang menawarkan komunikasi langsung dan singkat seperti WhatsApp, TikTok, atau Instagram.
Berdasarkan hasil penelitian ini, para pakar kesehatan masyarakat menyarankan agar institusi pendidikan mulai aktif melakukan skrining kesehatan mental terhadap mahasiswa menggunakan alat ukur sederhana seperti DASS-21. Mahasiswa dengan skor kecemasan, stres, atau depresi pada level sedang hingga berat perlu mendapat perhatian khusus, terutama karena mereka berisiko lebih tinggi mengalami kecanduan media sosial.
Selain itu, edukasi literasi digital juga sangat penting. Mahasiswa perlu memahami dampak negatif penggunaan media sosial secara berlebihan dan diajari cara mengelola waktu dan konsumsi konten digital secara bijak. Misalnya, di Indonesia, edukasi dapat difokuskan pada manajemen penggunaan berbagai media sosial, sementara di Taiwan bisa difokuskan pada penggunaan YouTube.
Kecenderungan mahasiswa untuk menggunakan media sosial sebagai pelarian dari tekanan mental juga berkaitan erat dengan minimnya pilihan atau metode coping yang sehat. Di sinilah pentingnya peran kampus, keluarga, dan masyarakat dalam menyediakan ruang aman bagi mahasiswa untuk mengelola stres mereka secara positif, misalnya melalui konseling psikologis, kegiatan fisik, atau dukungan sosial yang kuat. Studi ini mengingatkan kita semua bahwa media sosial dan YouTube bukan sekadar hiburan. Bagi sebagian mahasiswa, keduanya telah menjadi 減elarian dari masalah psikologis yang tidak terselesaikan. Namun, pelarian ini justru membuka pintu bagi masalah baru: kecanduan digital yang memperburuk kesehatan mental.
Link Artikel :
Penulis : Muthmainnah





