51

51 Official Website

Keterkaitan Antara Epigenetika dan Kanker Hati: Menguak Misteri Saklar Gen

ilustrasi Kanker Hati (sumber: KlikDokter)
ilustrasi Kanker Hati (sumber: KlikDokter)

Kanker hati, terutama yang dikenal dengan hepatocellular carcinoma (HCC), adalah salah satu kanker paling mematikan di dunia. Prevalensi dari keganasan ini juga semakin meningkat dari tahun ke tahun, belum lagi bahwa angka harapan hidup yang tergolong kecil. Banyak orang mengaitkan kanker dengan keberadaan mutasi genetik, yaitu suatu kondisi kerusakan permanen pada DNA. Namun, ada faktor lain yang sama pentingnya tetapi sering terlupakan, yaitu epigenetika.

SebenarnyaEpigenetika bisa dianalogikan sebagai saklar lampu yang mengatur gen manusia. Gen adalah lampu, tetapi adanya saklar inilah yang menentukan apakah lampu menyala atau mati. Ibarat kata, saklar menentukan kapan lampu akan mati dan juga menyala. Saklar tidak mengubah lampu namun saklar memegang peran apakah lampu dapat berfungsi. Sama halnya dengan  epigenetika. Epigenetika tidak mengubah isi DNA yang telah dibentuk, tetapi mengatur apakah gen yang ahirnya dikode akan aktif atau diam.
Pada kanker hati, saklar ini sering mengalami masalah. Gen yang seharusnya menjaga sel tetap sehat malah dimatikan atau dinonaktifkan, sedangkan gen yang mendorong pertumbuhan liar justru diaktifkan. Sehingga ketidakseimbangan pada tombol aktif dan mati ini menyebabkan pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali.

Secara keseluruhan konsep epigenetika melibatkan tiga mekaisme. Banyak penelitian menunjukkan bahwa tiga mekanisme utama epigenetika tersebut juga berperan pada HCC, antara lain:

  1. Metilasi DNA
    Mekanisme ini adalah ibarat memberi tanda dilarang masuk pada gen. Pada kanker hati, gen penekan tumor seringkali ketambahan mekanisme metilasisehingga tidak bisa bekerja menekan tumor yang sedang berkembang.
  1. Modifikasi Histon
    DNA kita dibungkus protein yang disebut histon. Pada suatu kondisi jika bungkus ini longgar, gen yang terkode bisa aktif. Namun, jika terlalu rapat, gen akan terkunci. Pada HCC, pola pembungkusan ini mengalami masalah, membuat pertumbuhan sel menjadi liar dan tidak terkendali.
  2. RNA Non-Koding (microRNA, lncRNA)
    Meski tidak menghasilkan protein, RNA kecil ini bertindak seperti pengatur/kendali yang daat memberi instruksi. Pada kanker hati, banyak microRNA yang berubah arah, ada yang terlalu aktif, ada juga yang hilang. Sehingga sistem yang kacau ini mengakibatkan tidak seimbangnya koordinasi dalam proses kendali pertumbuhan sel.

Konsep ini sangatlah penting, terutama di era angka keganasan yang meningkat. Epigenetika bersifat reversibel, berbeda dengan mutasi DNA yang permanen. Artinya, jika kita bisa menemukan obat atau agen yang mengatur ulang kembali saklar gen ini, kanker hati bisa diperlambat atau bahkan dicegah.
Beberapa obat percobaan yang disebut epidrugs (misalnya inhibitor DNMT dan HDAC) sedang diteliti. Obat-obat ini mencoba menormalkan kembali pola epigenetik yang kacau di sel kanker.

Tentu konsep ini menjadi harapan di masa depan. Jika suatu hari dokter bisa mendeteksi kanker hati lebih dini hanya dengan memeriksa tanda epigenetik di darah pasien. Atau jika terapi bisa lebih personal: obat diberikan sesuai dengan profil epigenetik unik pasien.
Itulah masa depan yang sedang dikejar para ilmuwan. Epigenetika membuka pintu baru untuk manajemen keganasan yang lebih baik dan menguntungkan pasien.

Sumber:

Sungkar, T., Darmadi, D., Pakpahan, C., & Lubis, A. (2025). Epigenetic modifications in hepatocellular carcinoma: A literature review. Rawal Medical Journal, 50(2), 514-517.

AKSES CEPAT