51动漫

51动漫 Official Website

Memory T Cell pada Penyintas COVID-19: Kunci Kekebalan Jangka Panjang

Melihat Jalur Sinyal Interferon Tipe I pada Pasien COVID-19
Sumber: Alodokter

Salah satu pertanyaan besar sejak awal pandemi COVID-19 adalah: berapa lama kekebalan tubuh dapat bertahan setelah seseorang terinfeksi? Banyak penelitian awal berfokus pada antibodi, namun kini perhatian ilmuwan beralih pada memory T cell, komponen penting sistem imun yang berperan dalam kekebalan jangka panjang.

Memory T cell terdiri dari dua kelompok utama:

  • CD8+ sitotoksik, yang dapat menghancurkan sel yang terinfeksi virus.
  • CD4+ helper, yang mengatur koordinasi respon imun.

Keistimewaan sel T memori adalah kemampuannya mengenali kembali virus meskipun antibodi dalam darah mulai menurun. Hal ini menjadikan mereka kunci pertahanan jangka panjang

Sebagian besar vaksin COVID-19 berbasis protein spike. Namun, protein ini rentan bermutasi, sebagaimana terlihat pada varian Delta hingga Omicron. Sebaliknya, bagian virus bernama ORF1ab relatif konservatif攋arang berubah meskipun virus berevolusi. ORF1ab mengkode protein non-struktural yang penting bagi replikasi virus, sehingga menjadi target ideal untuk imunitas berbasis sel T.

Dalam penelitian yang dilakukan pada 53 staf (33 penyintas COVID-19 dan 20 individu sehat) di Fakultas Kedokteran 51动漫 pada September 2020 ditemukan bahwa:

  • Beberapa peptida ORF1ab (misalnya WSMATYYLF, YVFCTVNAL, LMIERFVSL) memicu produksi interferon-gamma (IFN-纬), indikator aktivasi sel T, terutama pada penyintas COVID-19.
  • Respon ini didominasi oleh sel T CD8+ memori (subtipe central memory dan effector memory), yang berperan langsung membunuh sel terinfeksi.
  • Respon sel T tetap terdeteksi berbulan-bulan setelah infeksi, menunjukkan adanya daya ingat imun yang persisten.
  • Analisis juga menunjukkan ekspresi PD-1, penanda kelelahan sel T, yang memberi gambaran tentang dinamika keseimbangan antara aktivasi dan kelelahan sistem imun.

Hasil ini memberi pesan penting: kekebalan terhadap COVID-19 tidak hanya bergantung pada antibodi, tetapi juga pada memory T cell. Karena peptida ORF1ab tetap stabil meskipun varian baru muncul, maka:

  • Vaksin generasi berikutnya dapat dirancang dengan memasukkan target ORF1ab untuk menghasilkan proteksi lebih luas dan tahan lama.
  • Pemantauan kekebalan tidak cukup hanya mengukur antibodi, tetapi juga perlu menilai respons sel T sebagai indikator perlindungan.

Dengan demikian, penelitian ini menguatkan bukti bahwa memory T cell spesifik ORF1ab berperan penting dalam kekebalan jangka panjang penyintas COVID-19. Pendekatan berbasis sel T membuka harapan untuk strategi vaksin baru yang lebih kebal terhadap mutasi virus, sekaligus memperkuat kesiapan dunia menghadapi pandemi di masa depan.

Penulis: Prof. Dr. Budi Santoso, dr., Sp.O.G., Subsp.F.E.R.

DOI:

AKSES CEPAT