Kemoterapi merupakan salah satu pengobatan utama bagi pasien kanker payudara. Namun, di balik manfaat medisnya, terapi ini sering membawa dampak fisik dan psikologis yang berat, seperti kelelahan, mual, kecemasan, hingga rasa putus asa. Dalam situasi ini, dukungan keluarga tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi justru menjadi sumber kekuatan utama bagi pasien.
Sebuah penelitian kualitatif yang dilakukan di Indonesia mengungkap peran penting intervensi berbasis keyakinan keluarga dalam meningkatkan resiliensi psikologis pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi. Penelitian ini melibatkan 20 anggota keluarga pasien dan menggali pengalaman mereka dalam mendampingi proses pengobatan melalui wawancara mendalam.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga tidak hanya berperan sebagai pendamping fisik, tetapi juga sebagai penopang emosional dan spiritual. Dukungan keluarga muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari dukungan emosional (memberi semangat dan empati), dukungan informasional (mencari dan menyampaikan informasi tentang penyakit dan kemoterapi), dukungan instrumental (membantu aktivitas sehari-hari dan pengobatan), hingga dukungan penghargaan yang meningkatkan rasa percaya diri pasien.
Yang paling menonjol adalah dukungan spiritual berbasis iman. Banyak keluarga yang melibatkan doa bersama, keyakinan kepada Tuhan, serta pemaknaan penyakit sebagai ujian hidup. Praktik spiritual ini membantu pasien menerima kondisi mereka dengan lebih tenang dan optimis. Iman tidak hanya memberi harapan, tetapi juga membangun kekuatan mental untuk bertahan dalam proses pengobatan yang panjang.
Penelitian ini juga menemukan bahwa keluarga yang memiliki keyakinan kuat cenderung lebih tangguh dalam menghadapi tantangan, seperti keterbatasan informasi medis, kendala komunikasi dengan tenaga kesehatan, dan beban emosional selama merawat pasien. Keyakinan bersama membuat keluarga memandang kanker bukan sebagai akhir dari segalanya, melainkan sebagai kondisi yang dapat dihadapi bersama.
Temuan ini menegaskan bahwa ketahanan (resiliensi) pasien kanker tidak terbentuk secara individual, tetapi tumbuh dalam konteks keluarga dan budaya. Di Indonesia, di mana nilai kekeluargaan dan spiritualitas sangat kuat, pendekatan perawatan berbasis keluarga dan iman menjadi sangat relevan.
Implikasinya, layanan keperawatan dan kesehatan perlu mulai mengintegrasikan keluarga sebagai bagian aktif dari perawatan pasien kanker. Edukasi kesehatan, komunikasi yang jelas, serta ruang bagi praktik spiritual keluarga dapat meningkatkan kualitas hidup dan daya juang pasien selama kemoterapi.
Pada akhirnya, penelitian ini mengingatkan kita bahwa dalam menghadapi kanker, obat dan teknologi medis saja tidak cukup. Kehadiran keluarga, keyakinan, dan harapan bersama dapat menjadi 渙bat yang tak kalah penting dalam memperkuat ketahanan pasien menghadapi penyakitnya.
Penulis: Prof. Dr. Nursalam, M.Nurs (Hons)
Sumber : Family-based belief interventions to enhance resilience in breast cancer patients undergoing chemotherapy: A qualitative study
Link :





