51动漫

51动漫 Official Website

Ketika Otak Menua: Peran Struktur dan Konektivitas Otak dalam Penurunan Daya Pikir

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Semua orang pasti pernah lupa. Ketika seseorang mencapai usia lanjut (50 tahun ke atas), lupa biasanya menjadi lebih sering terjadi. Namun, beberapa lansia mengalami gejala pikun yang lebih parah dibandingkan teman-teman sebayanya, meskipun hal tersebut tidak sampai mengurangi kemampuan mereka untuk beraktivitas sehari-hari. Kondisi semacam ini disebut dengan Hendaya Kognitif Amnestik Ringan atau Amnestic Mild Cognitive Impairment (aMCI). Lansia dengan kondisi ini punya risiko yang lebih besar untuk mengalami demensia, yakni penurunan daya pikir yang bersifat progresif dan mengganggu kemampuan untuk hidup secara mandiri.

Sejauh ini, riset di bidang neurosains telah berhasil mengungkap banyak hal mengenai aMCI. Misalnya, meskipun permasalahan utama dalam aMCI adalah gangguan pada fungsi memori (kemampuan untuk mengingat informasi), beberapa lansia dengan kondisi ini juga mengalami kesulitan dengan aspek berpikir lainnya, seperti kemampuan untuk membuat rencana dan memori kerja. Selain itu, banyak penelitian juga menunjukkan bahwa otak lansia yang mengalami aMCI tampak berbeda dibandingkan lansia pada umumnya. Hipokampus mereka (struktur kecil di bagian dalam otak yang penting untuk fungsi memori) lebih kecil. Materi Putih mereka (serabut di dalam otak yang menghubungkan antar bagian otak) lebih tipis dan rapuh. Cara tiap-tiap bagian otak mereka saling berkomunikasi juga berbeda dengan lansia lainnya.

Namun, seberapa penting perbedaan otak ini untuk kemampuan daya pikir lansia dengan kondisi aMCI? Pertanyaan ini menarik untuk digali, mengingat otak adalah organ tubuh yang diketahui mampu 渕engakali keterbatasannya sendiri (biasanya disebut dengan mekanisme kompensasi). Penelitian terdahulu sayangnya belum cukup konsisten dalam menunjukkan apakah abnormalitas yang teramati pada otak lansia dengan aMCI dapat dikompensasi atau justru secara langsung berhubungan dengan hendaya kognitif yang mereka alami (yang berarti, abnormalitas otak yang terjadi tidak dapat lagi diakali).

Studi dengan Teknologi Pencitraan Otak

Peneliti UNAIR beserta beberapa peneliti lain dari Belanda mencoba menjawab pertanyaan tersebut melalui sebuah penelitian yang melibatkan 56 orang lansia yang mengalami aMCI. Menggunakan teknologi Magnetic Resonance Imaging (MRI), para peneliti tersebut mengukur tiga karakteristik otak. Yang pertama adalah ketebalan korteks, yakni lapisan terluar otak di mana pemrosesan informasi banyak terjadi. Karakteristik otak kedua adalah volume Materi Putih yang menggambarkan seberapa besar 渏alan tol yang menjadi saluran pertukaran informasi antar bagian otak. Terakhir, peneliti juga mengukur konektivitas otak dalam kondisi istirahat, yakni seberapa baik berbagai bagian dalam otak berkomunikasi satu sama lain ketika seseorang sedang tidak melakukan aktivitas apapun. Kemudian, para peneliti menguji hubungan antara ketiga karakteristik otak ini dengan berbagai aspek kemampuan berpikir.

Dari beberapa aspek kognitif yang diuji, para peneliti menemukan bahwa kemampuan pemutakhiran memori kerja (working memory updating) berhubungan secara langsung dengan ketiga karakteristik otak. Pemutakhiran memori kerja adalah kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk mengubah dan memanipulasi informasi secara aktif dan mempertahankannya agar tidak hilang dari pikiran. Bayangkan skenario di mana seorang kakek hendak pergi menyambangi temannya. Sebelum berangkat, sang kakek memberi tahu anaknya bahwa ia akan bersepeda melewati jalur yang sudah biasa ia lewati, yakni melalui jalan X. Namun, anak sang kakek tersebut memperingatkan bahwa pada hari itu, jalan X sedang diperbaiki, sehingga sang kakek harus mengambil jalur agak memutar melalui jalan Y. Kemampuan pemutakhiran memori kerja dibutuhkan kakek dalam skenario ini untuk mengubah jalur bersepeda yang ia bayangkan untuk mencapai rumah temannya dengan lancar, dari melalui jalan X menjadi melalui jalan Y. Kemampuan ini diketahui ikut menurun pada beberapa orang dengan kondisi aMCI.

Dalam penelitian ini, pemutakhiran memori kerja ditemukan berhubungan dengan seberapa baik bagian depan (frontal) dan bagian belakang (parietal) otak saling berkomunikasi. Konektivitas frontoparietal ini umumnya penting untuk mengendalikan dan mengarakan proses berpikir (kontrol eksekutif). Namun, ketika beban kognitif menjadi relatif lebih berat, pemutakhiran memori kerja justru berhubungan dengan volume Materi Putih yang menghubungkan area Broca dan Lobulus Parietal Inferior, bagian otak yang diketahui penting untuk fungsi memori kerja. Selain itu, baik ketika beban kognitif ringan maupun berat, pemutakhiran memori kerja juga berhubungan dengan ketebalan korteks pada bagian temporal (samping) otak. Penipisan korteks di bagian ini sudah sering dilaporkan pada orang dengan aMCI dan diketahui dapat memprediksi kemunduran kognitif lebih lanjut.

Mengapa Temuan Ini Penting?

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik otak, yang sebelumnya dilaporkan abnormal dalam studi terdahulu, berhubungan secara langsung dengan kemampuan berpikir lansia yang mengalami aMCI. Informasi ini bisa digunakan untuk mengarahkan studi selanjutnya yang mencoba untuk menjelaskan mengapai beberapa lansia dengan aMCI bisa menjadi sehat kembali secara kognitif, sementara yang lain tetap mengalami hendaya ringan atau bahkan mengalami gangguan berpikir yang lebih parah. Temuan ini bisa juga digunakan untuk merancang strategi intervensi baru demi mencegah penurunan kognitif lebih lanjut. Misalnya, dengan ditemukannya hubungan antara konektivitas frontoparietal dengan kemampuan pemutakhiran memori kerja, penelitian selanjutnya bisa mencoba untuk meningkatkan konektivitas ini dengan tujuan untuk memperbaiki atau mempertahankan kemampuan memori kerja.

Penulis: Nido Dipo Wardana, S.Psi., M.Sc.

Link:

Artikel ini ditulis berdasarkan publikasi ilmiah 淐ognitive correlates of cortical thickness, white matter volume, and resting-state connectivity in mild cognitive impairment (Journal of Alzheimer檚 Disease, 2026).

AKSES CEPAT