Melanjutkan terapi beta blocker pada pasien gagal jantung dekompensasi akut (ADHF) dengan penurunan fraksi ejeksi saat ini direkomendasikan oleh beberapa pedoman meskipun dengan studi terbatas. Namun implementasinya masih banyak pasien yang terapi beta blockernya dihentikan pada saat mengalami gagal jantung akut dekompensata meskipun tidak didapatkan kondisi kontraindikasi. Kekhawatiran mengenai efek inotropik negatif dari beta blocker kemungkinan menyebabkan penghentian beta blocker pada pasien ADHF selama masa rawat inap. Disisi lain, penghentian terapi beta blocker pada pasien ADHF saat rawat inap telah dilaporkan menyebabkan peningkatan mortalitas dan rehospitalisasi di rumah sakit secara signifikan. Laporan yang telah dipublikasikan menunjukkan kecenderungan adanya dampak negatif berupa peningkatan risiko kematian di rumah sakit, kematian jangka pendek, dan rawat inap ulang pada pasien yang dirawat karena ADHF yang menghentikan penggunaan beta blocker. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis prevalensi dan faktor-faktor yang menyebabkan penghentian penggunaan beta blocker serta pengaruhnya terhadap luaran klinis dan ketercapaian dosis optimal beta blockerpada pasien ADHF dengan HFrEF. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional dengan rancangan studi kohort retrospektif dengan menggunakan data rekam medis pasien. Populasi dalam penelitian ini adalah semua rekam medis pasien dengan diagnosa gagal jantung akut dekompensata yang menjalani rawat inap periode Januari 2021-Februari 2024 di RSUD Dr Soetomo dan Rumah Sakit 51¶¯Âþ Surabaya. Dari total tersebut 243 pasien, 60,1% mengalami penghentian beta blocker, dan 39,9% melanjutkan beta blocker selama rawat inap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien yang mengalami penghentian beta blocker mengalami tingkat perburukan gagal jantung yang jauh lebih besar dibandingkan dengan mereka yang terus mengonsumsinya. Pasien yang melanjutkan beta blocker memiliki angka kematian di rumah sakit yang secara signifikan lebih rendah, serta angka kematian kardiovaskular dan angka kematian semua penyebab. Selain itu, pasien yang menghentikan terapi BB mengalami masa rawat inap yang lebih lama. Dalam penelitian ini, penghentian beta blocker saat rawat inap dikaitkan dengan memburuknya hasil klinis selama rawat inap dibandingkan dengan yang dilanjutkan. Hasil ini memperkuat bukti yang ada bahwa beta blocker harus dipertahankan selama rawat inap pada pasien dengan riwayat sebelumnya dan tanpa ada kondisi kontraindikasi.
Ditulis oleh Dr. Apt Wenny Putri Nilamsari, SpFRS dari artikel œ Poorer Clinical Outcomes and Longer Hospitalization with Beta Blocker Discontinuation in Acute Decompensated Heart Failure Wet and Warm: A Retrospective Study , Hospital Pharmacy Journal p 1-9 DOI: 10.1177/00185787251410044





