Malaria masih menjadi salah satu penyakit menular yang mendapat perhatian serius di Indonesia. Selama ini, malaria dikenal sebagai penyakit yang ditularkan nyamuk Anopheles dari manusia ke manusia. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa cerita malaria ternyata tidak sesederhana itu. Hewan ternak攌hususnya sapi攎ulai dilirik sebagai bagian penting dari rantai penularan yang selama ini kurang diperhatikan.
Malaria dan Tantangan Baru di Asia Tenggara
Di kawasan Asia Tenggara, perubahan lingkungan seperti pembukaan hutan, perluasan lahan pertanian, serta kehidupan manusia yang semakin dekat dengan hewan ternak menciptakan kondisi ideal bagi penyakit zoonosis攑enyakit yang dapat berpindah dari hewan ke manusia. Salah satunya adalah malaria zoonotik, malaria yang melibatkan hewan sebagai inang atau reservoir parasit.
Kasus malaria zoonotik telah banyak dilaporkan di negara tetangga seperti Malaysia, terutama yang disebabkan oleh Plasmodium knowlesi dari monyet ke manusia. Pertanyaannya: apakah Indonesia menghadapi risiko serupa melalui hewan ternak seperti sapi?
Menelusuri Jejak Parasit di Manusia dan Sapi
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sekelompok peneliti dari berbagai institusi di Indonesia melakukan studi di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan攄aerah yang tergolong endemis malaria. Penelitian dilakukan pada tahun 2024 dengan pendekatan One Health, yaitu melihat kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan.
Sebanyak 41 sampel darah manusia dan 43 sampel darah sapi diperiksa menggunakan teknik molekuler PCR (Polymerase Chain Reaction), sebuah metode yang sangat sensitif untuk mendeteksi DNA parasit malaria, bahkan pada infeksi dengan kadar parasit yang sangat rendah.
Hasil yang Mengejutkan tapi Penting
Hasil penelitian menunjukkan dua temuan utama:
- Tidak ditemukan parasit malaria pada manusia (0% positif).
- Ditemukan DNA Plasmodium pada 1 dari 43 sapi (sekitar 2,33%).
Artinya, meskipun tidak ada kasus malaria aktif pada manusia saat penelitian dilakukan, sapi terbukti dapat membawa parasit malaria. Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa hewan ternak berpotensi menjadi reservoir tersembunyi yang suatu saat bisa berkontribusi pada penularan kembali malaria ke manusia.
Sapi: Pelindung atau Justru Penyimpan Parasit?
Selama ini, keberadaan sapi di sekitar rumah sering dianggap melindungi manusia dari malaria melalui fenomena zooprophylaxis攏yamuk lebih memilih menggigit hewan daripada manusia. Namun, temuan ini menunjukkan sisi lain: sapi juga bisa menyimpan parasit malaria, sehingga nyamuk yang menggigit sapi berpotensi membawa parasit tersebut.
Walaupun belum terbukti terjadi penularan dari sapi ke manusia dalam penelitian ini, keberadaan parasit di sapi tetap menjadi peringatan dini bagi upaya eliminasi malaria.
Pentingnya Pendekatan One Health
Penelitian ini menegaskan bahwa eliminasi malaria tidak cukup hanya berfokus pada manusia dan nyamuk. Hewan ternak dan lingkungan juga harus masuk dalam sistem pengawasan. Pendekatan One Health mendorong kerja sama lintas sektor攌esehatan, peternakan, dan lingkungan攗ntuk mencegah munculnya kembali malaria di masa depan.
Beberapa langkah yang direkomendasikan antara lain:
- Pemantauan rutin malaria pada ternak di daerah endemis
- Pengelolaan kandang dan jarak ternak dengan pemukiman
- Pengendalian vektor di sekitar area peternakan
- Pengembangan pemeriksaan molekuler lanjutan untuk mengetahui jenis Plasmodium secara spesifik
Menuju Indonesia Bebas Malaria 2030
Indonesia menargetkan eliminasi malaria sejalan dengan SDG 3.3 pada tahun 2030. Penelitian ini memberi pesan penting: keberhasilan pengendalian malaria saat ini harus dijaga dengan kewaspadaan terhadap reservoir hewan. Tanpa itu, risiko kemunculan kembali malaria攖erutama di wilayah pedesaan攖etap ada.
Penutup
Meski tampak sederhana, satu sapi yang positif malaria memberikan pelajaran besar: penyakit menular tidak mengenal batas spesies. Untuk benar-benar mengakhiri malaria, Indonesia perlu melihat gambaran yang lebih luas攎elibatkan manusia, hewan, dan lingkungan secara bersama-sama.
Penulis: Prof. Dr. Ririh Yudhastuti, drh, M.Sc
Judul dan link artikel jurnal internasional terindeks scopus yang dituliskan menjadi opini.
Judul : Prevalence of Plasmodium spp. in humans and cattle: Implications for zoonotic malaria transmission in Indonesia
Link :
Hasyim H, Jassey B, Yudhastuti R, Misnaniarti M, Liberty IA, Sunarsih E, Priyanto L, Dalilah D, Yusri Y, Taufiq FH, Maharani FE, Hakim L, and Herlinda S (2025) Prevalence of Plasmodium spp. in humans and cattle: Implications for zoonotic malaria transmission in Indonesia, Veterinary World, 18(7): 1831-1839.
DOI: 10.14202/vetworld.2025.1831-1839





