Tuberculosis masih menjadi penyakit yang serius di banyak negara, seperti Indonesia. Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis, terutama menyerang paru-paru namun juga dapat menyerang organ lain seperti otak, tulang, kelenjar getah bening, dan lainnya. Tuberculosis dapat menyerang semua usia termasuk anak-anak.
Gejala Tuberkulosis pada anak beberapa diantaranya meliputi batuk lebih dari dua minggu, demam lebih dari dua minggu, berat badan menurun atau sulit naik, serta anak tampak lesu dan tidak aktif. Penanganan Tuberkulosis yang tepat pada anak dapat mencegah gejala yang lebih parah. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah keparahan Tuberkulosis pada anak, yaitu dengan memberikan imunisasi BCG. Imunisasi BCG tidak mencegah seseorang untuk terinfeksi Tuberculosis, namun sangat efektif untuk mencegah keparahan dan kematian akibat penyakit Tuberculosis, khususnya pada anak-anak.
Ada banyak factor yang mempengaruhi cakupan imunisasi BCG pada anak, beberapa diantaranya adalah dari pendidikan orang tua, pengetahuan, kondisi sosial ekonomi, dan lokasi tempat tinggal. Namun, perbedaan lokasi tempat tinggal seperti desa dan kota terhadap factor penetu pemberian imunisasi BCG pada anak usia 0-3 bulan masih jarang diteliti. Temuan kami dengan menggunakan data dari Survei Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2017 menemukan bahwa proporsi anak yang tinggal di perkotaan lebih banyak menerima imunisasi BCG dibandingkan dengan anak yang tinggal di daerah pedesaan.
Kami juga menemukan bahwa ada perbedaan faktor yang mempengaruhi imunisasi BCG anak yang tinggal di wilayah perkotaan dan pedesaan. Di daerah pedesaan, anak-anak dari rumah tangga kaya lebih mungkin diimunisasi dibandingkan dengan mereka yang berasal dari rumah miskin. Anak-anak dari ibu berpendidikan lebih tinggi di wilayah perkotaan lebih mungkin menerima imunisasi BCG dibandingkan dengan mereka yang berpendidikan rendah. Selain itu, ibu yang tinggal di perkotaan dan menggunakan kontrasepsi juga lebih mungkin mengimunisasi anaknya dibandingkan yang tidak menggunakan kontrasepsi. Hal ini mungkin disebabkan karena orang tua yang menggunakan alat kontrasepsi cenderung memiliki lebih sedikit anak, sehingga mereka dapat memberikan lebih banyak perhatian kepada setiap anak. Penerapan metode kontrasepsi dapat memfasilitasi perencanaan keluarga yang lebih baik, sehingga orang tua dapat lebih fokus pada kesehatan dan imunisasi setiap anak.
Kebijakan yang terarah dan program intervensi yang spesifik diperlukan untuk meningkatkan cakupan imunisasi BCG. Program pemberdayaan ekonomi di pedesaan berpotensi meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan. Sementara itu, di perkotaan, penguatan literasi kesehatan dan edukasi ibu, terutama melalui konseling imunisasi dan kontrasepsi memainkan peran krusial. Kolaborasi antara pemerintah dan organisasi masyarakat akan menjadi kunci untuk mengatasi kesenjangan akses.
Penulis: Erni Astutik, S.K.M., M.Epid
Full artikel dapat di akses di :
Hidayatullah BW, Nur Mutiara Husnah, Erni Astutik, and Arief Hargono. “RURAL-URBAN DISPARITIES IN DETERMINANTS OF BCG IMMUNIZATION COVERAGE FOR CHILDREN AGED 0-3 MONTHS IN INDONESIA.” Jurnal Biometrika dan Kependudukan 14.1 (2025). Available at:





