51动漫

51动漫 Official Website

Obesitas dan Hipertensi pada Lansia : Apakah berhubungan?

Ilustrasi Obesitas (Sumber: Alodokter)
Ilustrasi Obesitas (Sumber: Alodokter)

Perubahan fisiologis terkait gizi pada lansia meliputi berkurangnya cairan dalam jaringan tubuh, meningkatnya kadar lemak, penurunan massa tulang, gangguan permiabilitas pembuluh darah dan otak, berkurangnya frekuensi denyut jantung yang dapat memengaruhi sirkulasi darah dan zat gizi. Karenanya, lansia berisiko tinggi mengalami masalah gizi dan kesehatan diantaranya hipertensi dan obesitas. Kelebihan berat badan atau obesitas merupakan permasalahan gizi yang sering terjadi pada lansia akibat penurunan aktivitas fisik dan peningkatan lemak tubuh. Hipertensi juga merupakan penyakit yang tinggi prevalensinya diderita oleh lansia akibat kelainan vascular atau kelainan pada denyut jantung akibat perubahan fisiologis lansia.

Prevalensi hipertensi semakin meningkat dengan bertambahnya usia dan meningkat tiap tahunnya. Obesitas telah menjadi permasalahan yang serius di dunia dan merupakan faktor risiko perkembangan hipertensi yang dapat dimodifikasi. Faktor risiko hipertensi pada lansia yang mengalami obesitas lebih besar 6,0 kali dibandingkan dengan lansia yang tidak obesitas setelah dikontrol dengan usia dan riwayat keluarga dengan hipertensi. Setiap 10 persen peningkatan berat badan menyumbang peningkatan tekanan darah sebesar 6,5 mmHg. Perkembangan hipertensi pada seseorang dengan obesitas atau kelebihan berat badan dapat ditinjau dari mekanisme disfungsi adiposity, disfungsi endotel, resistensi insulin, disfungsi sistem saraf simpatik, sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS), dan peningkatan volume intravaskular dan curah jantung

Studi ini melibatkan 54 lansia di UPTD Griya Wreda Surabaya pada tahun 2023 dengan rerata usia 71,28 卤 8,21 tahun dan sekitar 75% merupakan lansia perempuan. Sebanyak 37% lansia mengidap hipertensi berdasarkan diagnosis dokter dan konsumsi obat antihipertensi. Berdasarkan pemeriksaan komposisis tubuh dengan alat BIA diketahui 16.7% lansia terdeteki obesitas dengan indikator indeks massa tubuh (IMT), dan lebih dari separuh (53,7%) dengan massa lemak berlebih. Hasil uji statistik data keseluruhan subyek terdapat hubungan korelasi positif nilai IMT dengan tekanan darah sistolik (TDS), yang bermakna semakin tinggi nilai IMT diikuti dengan nilai TDS yang semain tinggi juga. Stratifikasi berdasarkan jenis kelamin, ditemukan komposisi tuubub yang meliputi berat badan, IMT, dan lemak visceral berhubungan signifikan hanya pada subyek perempuan, namun tidak pada laki-laki. Hasil analisis asupan makanan menunjukkan asupan serat, kalium, kalsium, magnesium, dan vitamin D keseluruhan subyek tergolong rendah, masih jauh dari angka kecukupan yang dianjurkan.

Temuan ini menyoroti bahwa kondisi obesitas dan hipertensi keduanya masih cukup prevalent/ tinggi pada lansia di panti sosial baik pada lansia perempuan maupun laki-laki.. Hubungan signifikan antara obesitas dan tekanan darah ditunjukkan khususnya pada lansia perempuan, mengindikasikan pentingnya tatalaksana lebih lanjut kondisi obesitas dan hipertensi agar tidak menimbulkan dampak lebih lanjut seperti penyakit kardiovaskular dan stroke. Tidak kalah penting adalah upaya strategi pencegahan yang lebih komprehensif dapat dilakukan seperti skrining sedini mungkin dan berkelanjutan kondisi obesitas dan hipertensi, serta kondisi komorbit lainnya. Faktor asupan makanan yang merupakan faktor risiko keduanya obesitas dan hipertensi pada lansia harus terus diperbaiki khususnya pada masalah zat gizi yang berpotensi sebabkan konsis obsitas dan hipertensi secara simultan. 

Penulis: Dr. Farapti, dr., M.Gizi

Informasi lebih lengkap dari penelitian dapat diakses pada:

Farapti, F., Fadilla C., Notobroto H, B. (2025). The Association Between Obesity and Hypertension Among Elderly Rediding In A Nursing Home: Is Gender Important? The Indonesian Journal of Public Health, 20(2), 231-247.

AKSES CEPAT