Kandidiasis oris adalah infeksi Candida yang sangat sering ditemukan pada pasien dengan infeksi human immunodeficiency virus (HIV) dan acquired immune deficiency syndrome (AIDS). Obat antijamur topikal seperti nistatin dan oral seperti golongan azol merupakan pilihan terapi pada kasus ini. Studi terkini telah melaporkan penurunan sensitivitas spesies Candida terhadap salah satu obat antijamur golongan azol, yaitu flukonazol, yang disebabkan oleh pergeseran spesies penyebab kandidiasis oris dari C. albicans menjadi C. non-albicans serta penggunaan obat antijamur jangka panjang. Obat antijamur lainnya yaitu ketokonazol, adalah obat yang murah, efektif dan tersedia luas di Indonesia dan merupakan obat pilihan untuk kandidiasis oris yang lain.
Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengevaluasi sensitivitas ketokonazol pada pasien laki-laki dengan HIV/AIDS dan kandidiasis oris di Unit Perawatan Intermediet Penyakit Infeksi (UPIPI) RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Indonesia. Penelitian ini melibatkan 23 pasien laki-laki. Dilakukan apusan steril pada lesi kandidiasis oris. Apusan dibiakkan pada media CHROMAgar Candida dan Saboraoud Dextrose Agar. Identifikasi spesies dilakukan dengan uji karbohidrat dan cornmeal. Uji resistensi dilakukan dengan metode disk diffusion.
Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan 40 isolat spesies Candida. Candida albicans didapatkan pada 57,5% isolat, sedangkan C. non-albicans pada 42,5% isolat. Uji sensitivitas menunjukkan 85% isolat sensitif, 10% intermediet dan 5% resisten terhadap ketokonazol. Semua isolat C. albicans dan 64% isolat C. non-albicans masih sensitif terhadap ketoconazol. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa ketokonazol dapat direkomendasikan sebagai pilihan terapi pada pasien HIV/AIDS dengan kandidiasis oris karena sensitivitas C. albicans dan C. non-albicans yang tinggi terhadap obat ini.
Penulis: Dr. Dwi Murtiastutik, dr.,Sp.KK(K)
Informasi lebih lengkap dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Ketoconazole: A Re-emerging choice for Oral candidiasis in patients with human immunodeficiency virus infection/acquired Immunodeficiency Syndrome
Dwi Murtiastutik, M. Yulianto Listiawan, Lunardi Bintanjoyo, Afif Nurul Hidayati, Septiana Widyantari, Astindari, Maylita Sari





