51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Mekanisme Food Coping dan Hubungannya dengan Persepsi Manfaat Produk Herbal

Foto by Ini Nusantara

Pandemi COVID-19 mempengaruhi masyarakat di seluruh dunia. Dampaknya sangat luas di berbagai sektor kehidupan. Banyak upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam menyikapi pandemi Covid-19, seperti pemberlakuan pembatasan sosial secara masif dan physical distancing sejak awal Maret 2020. Sebagai catatan, selama tahun 2021 terjadi gelombang kedua pandemi di banyak negara termasuk Indonesia. Seperti dilansir dari komite nasional COVID-19, Indonesia mengalami puncak kasus Covid-19 tertinggi sekitar Juni 2021 dengan kasus harian lebih dari 1.000 dan perlahan menurun setelah pembatasan besar-besaran lainnya. Hingga awal September 2021, total kasus mencapai 4.223.094. Selain itu, pandemi telah menyebabkan pergeseran perilaku konsumsi dan kepercayaan terhadap makanan di kalangan masyarakat di Asia Tenggara. Sebagai upaya melindungi diri dari infeksi, masyarakat beralih ke obat-obatan tradisional dan suplemen kesehatan.

Di Singapura, permintaan suplemen vitamin C dan multivitamin selama pandemi Covid-19 meningkat 3-5 kali lipat dari kondisi normal. Apalagi terjadi peningkatan permintaan jamu yang mengandung kunyit dan jahe di Indonesia sebesar 30%. Peningkatan ini terjadi karena masyarakat ingin tetap sehat selama pandemi. Di negara Arab Saudi, 34,4% beberapa orang mempercayai bahwa mengkonsumsi bawang putih dapat meningkatkan kekebalan dan mencegah tertular Covid-19, keyakinan ini juga diikuti oleh 29,3% yang meyakini bahwa vitamin C pada jeruk berperan dalam mengobati dan mengurangi kemungkinan tertular COVID-19. Menurut WHO, mekanisme Food Coping didefinisikan sebagai tindakan perbaikan yang dilakukan oleh orang-orang yang kelangsungan hidup dan penghidupannya terganggu atau terancam. COVID-19 sendiri merupakan kondisi yang mengancam nyawa yang dapat mengakibatkan kematian. Dengan demikian, mekanisme food coping dalam penelitian ini mengacu pada upaya terkait konsumsi makanan yang dilakukan oleh para penyintas sebagai upaya penyembuhan COVID-19.

Hingga saat ini masih belum ada penelitian sebelumnya yang bertujuan untuk menggambarkan mekanisme Food Coping makanan dan manfaat yang dirasakan dari suplemen/produk herbal di antara para penyintas COVID-19 di Indonesia. Mara dari itu penelitian ini bertujuan untuk menilai manfaat yang dirasakan dari suplemen / produk herbal di antara para penyintas COVID-19 dan hubungannya dengan mekanisme Food Coping. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, studi cross-sectional dengan subyek penelitiannya adalah para survivor Covid-19. Kriteria inklusi dinyatakan positif COVID-19 melalui swab antigen atau PCR atau mengalami COVID-19 saat ini, berusia 18-64 tahun, dan bersedia mengisi kuesioner. Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rumus Slovin, sampel minimal yang dibutuhkan adalah 470 responden, namun untuk sampel yang diambil sejumlah 473 orang. Dikumpulkan dengan metode accidental sampling. Tautan survei online dibagikan melalui beberapa platform/media sosial seperti grup WhatsApp, Instagram, Facebook, dan lainnya. Kuesioner survei mencakup 19 pertanyaan ˜ya-tidak™. Sementara manfaat yang dirasakan dinilai dengan jawaban atas sepuluh pertanyaan skala Likert yang menunjukkan kepercayaan responden pada suplemen tertentu dan produk herbal mulai dari 1 sampai 5 (sangat tidak setuju ’ sangat setuju). Data dianalisis secara deskriptif, meliputi pembahasan mekanisme Food Coping para penyintas saat terkonfirmasi positif COVID-19 dan deskripsi manfaat yang dirasakan dari suplemen/produk herbal. Untuk menganalisis hubungan mekanisme koping, Uji T independen dilakukan dengan signifikansi 0,05. Dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga alasan utama kepercayaan yang dirasakan pada suplemen/produk herbal di antara para penyintas COVID-19 termasuk: ‘Mengkonsumsi suplemen dapat meningkatkan sistem kekebalan saya’. ‘Mengkonsumsi suplemen dapat membantu saya mencegah kekurangan vitamin/mineral’ dan ‘Mengkonsumsi suplemen dapat membantu saya memenuhi kebutuhan nutrisi saya’.

Sedangkan mekanisme koping makanan yang paling diterima oleh para penyintas adalah mengonsumsi suplemen vitamin C diikuti dengan memperbanyak porsi buah dan sayur. Sebagian besar strategi mekanisme Food Coping juga berkorelasi positif dengan keyakinan yang dirasakan subjek. Hal ini menegaskan bahwa masyarakat yang memiliki persepsi yang lebih tinggi terhadap suplemen/produk herbal akan menggunakan suplemen dan/atau produk herbal sebagai mekanisme food coping mereka. Temuan penelitian kami menunjukkan pentingnya mendidik masyarakat umum tentang tindakan pencegahan COVID-19 dan terapi nutrisi yang digunakan selama pandemi. Keyakinan tentang suplemen dan produk herbal harus disertai dengan pengobatan berbasis bukti untuk mencegah hasil kesehatan yang negatif.

Memperbaiki pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan juga harus menjadi mekanisme Food Coping utama saat terpapar COVID-19; daripada mengandalkan efek suplemen atau produk herbal. Namun dalam penelitian ini terdapat beberapa keterbatasan diantaranya partisipan direkrut secara tidak sengaja dari populasi umum dan tidak merinci produk herbal yang dikonsumsi. Namun, menurut kami, ini adalah studi pertama mengenai persepsi kepercayaan terhadap suplemen/produk herbal dan mekanisme Food Coping makanan yang telah dilakukan di kalangan penduduk Indonesia; dengan demikian, kebaruan penelitian ini terbukti.

Penulis: Trias Mahmudiono, SKM., MPH(Nutr.,)

Jurnal: Food coping mechanisms and their relation to perceived benefit of supplement products among covid 19 surivors in Indonesia

AKSES CEPAT