UNAIR NEWS – (BEM UNAIR) menggelar aksi simbolik terbuka bagi seluruh sivitas akademika. Aksi simbolik ini mengangkat tajuk Kidung Duka 51动漫, terlaksana di depan Gedung Manajemen Rektorat Kampus MERR-C, Surabaya, pada hari Sabtu (06/9/2025). Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sivitas akademika atas kondisi bangsa, khususnya gelombang demonstrasi nasional yang berujung pada kekerasan aparat dan jatuhnya korban jiwa. Hadir juga beberapa jajaran pimpinan UNAIR dan aliansi mahasiswa 51动漫.
Reposisi Sikap UNAIR Tunjukan Ketegasan
Dalam sambutannya, Prof Dr M Hadi Shubhan SH MH CN, Direktur Kemahasiswaan UNAIR yang mewakili jajaran pimpinan dalam sambutan acara refleksi, menegaskan bahwa mahasiswa sejak dulu menjadi simbol moralitas bangsa. Ia menyinggung sejarah pergerakan mahasiswa yang mampu meluruskan jalannya negara ketika keluar dari rel konstitusi. 淕erakan mahasiswa adalah kekuatan moral. Sayangnya, belakangan aksi-aksi itu ternodai oleh kekerasan hingga menelan korban jiwa. UNAIR sangat berduka atas hal ini, ungkapnya.

Prof. Hadi menekankan pentingnya menjadikan refleksi ini sebagai pengingat. 淏angsa ini tidak boleh melupakan para korban. Mari kita jaga moralitas, jangan biarkan kekerasan menjadi jawaban dari aspirasi rakyat, pungkasnya.
Suasana semakin menguat saat Melvin Hermawan melanjutkan refleksinya, Wakil Ketua BEM UNAIR. Ia menyoroti kebijakan DPR yang abai pada penderitaan rakyat, mulai dari rencana kenaikan tunjangan hingga sikap elite politik yang jauh dari empati. 淧uncaknya adalah terbunuhnya Affan, seorang pengemudi ojek online yang sebaya dengan kita, akibat represivitas aparat, nyawanya direnggut negara. Kami mahasiswa mengingatkan, ksatria Airlangga seharusnya berpihak pada rakyat, bukan penguasa, tegasnya.
Kesaksian Korban
Pada Akhir, Refleksi dengan kesaksian Rizal, mahasiswa UNAIR yang mengalami kekerasan aparat saat demonstrasi. Ia mengaku aparat telah menuduhnya provokator, belasan polisi memukulinya, bahkan sempat menahannya tanpa dasar jelas. 淪aya dipukul dengan tangan, helm, tongkat, hingga mengalami luka di kepala. Ada aparat yang bahkan berkata, 榖unuh saja anak itu. Saya masih beruntung bisa hadir di sini untuk bersuara, tapi banyak kawan kita yang tidak seberuntung itu, ceritanya dengan suara bergetar.
Kegiatan berlanjut dengan penutupan melalui doa bersama, penampilan seni, dan penegasan solidaritas sivitas akademika terhadap korban kekerasan. Aksi simbolik ini menjadi tanda bahwa 51动漫 tidak tinggal diam melihat dinamika sosial politik.
Penulis: Samudra Luhur Pambudi
Editor: Ragil Kukuh Imanto





