51动漫

51动漫 Official Website

Kinerja Jaksa: Peran Kecerdasan Emosional, Motivasi, dan Dukungan Organisasi

Ilustrasi jaksa (Foto: Kejaksaan Republik Indonesia Badan Pendidikan dan Pelatihan)

Penelitian ini membahas faktor-faktor non-teknis yang sangat memengaruhi kinerja seorang jaksa dalam menegakkan hukum di Indonesia. Selama ini, tuntutan terhadap jaksa sering kali hanya berfokus pada penguasaan hukum. Padahal terdapat aspek psikologis dan lingkungan kerja yang juga penting. Penelitian ini menawarkan cara pandang yang berbeda dengan melihat tiga elemen kunci. Yaitu kecerdasan emosional, motivasi kerja, dan dukungan organisasi yang secara bersama-sama membentuk “kemampuan dinamis” seorang jaksa untuk beradaptasi dan berkembang.

Penelitian ini menemukan bahwa kecerdasan emosional memegang peran penting. Jaksa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi terbukti lebih mampu mengelola stres yang dikarenakan oleh beban kerja yang berat, tetap objektif saat berhadapan dengan korban atau terdakwa, dan tidak mudah terbawa emosi saat mengambil keputusan hukum. Kemampuan seperti empati, self control, dan kesadaran diri membantu mereka menavigasi dilema etis dan ketegangan di ruang sidang secara lebih profesional. Selanjutnya, motivasi menjadi bahan bakar utama yang mendorong dedikasi jaksa. Motivasi ini datang dari dalam diri (intrinsik). Seperti rasa tanggung jawab untuk menegakkan keadilan, maupun dari luar (ekstrinsik). Seperti kesempatan pengembangan karier, pengakuan, dan penghargaan dari institusi Kejaksaan sehingga Jaksa yang termotivasi, tingkat kepuasan kerja dan ketangguhannya lebih tinggi.

Namun, kecerdasan emosional dan motivasi yang tinggi tidak akan cukup tanpa adanya dukungan yang memadai dari organisasi khususnya Kejaksaan. Dukungan ini wujudnya beragam. Mulai dari kebijakan institusi yang jelas, program pelatihan yang tidak hanya tentang teknis hukum tapi juga pengembangan soft skill, hingga supervisor support dari masing-masing atasannya. Ketersediaan fasilitas kerja yang layak juga terbukti sangat membantu jaksa sehingga dapat bekerja lebih efektif dan efisien. Sebaliknya, tanpa dukungan tersebut para jaksa yang paling berdedikasi sekalipun dapat kesulitan untuk berkembang dan mempertahankan kinerjanya dalam jangka panjang.

Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan perlunya pendekatan yang lebih holistik dalam pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kejaksaan. Beberapa strategi yang dapat dilakukan adalah dengan merancang program-program yang secara aktif memperkuat kecerdasan emosional, menciptakan sistem penghargaan dan jenjang karier yang transparan untuk menjaga motivasi, serta melakukan reformasi kelembagaan untuk memastikan adanya lingkungan kerja yang suportif. Pada intinya, tujuan dari gagasan ini adalah untuk membentuk jaksa yang tidak hanya cakap secara hukum. Tetapi juga tangguh secara mental, berintegritas, dan adaptif terhadap berbagai tantangan, sehingga dapat meningkatkan efektivitas dan kepercayaan publik terhadap sistem peradilan di Indonesia.

Penulis: Joko Budi Darmawan, Fendy Suhariadi, Suparto Wijoyo, Mia Amiati

Link artikel:

AKSES CEPAT