Di tengah derasnya arus digitalisasi, banyak kota di Indonesia berlomba-lomba membangun infrastruktur teknologi dan melatih aparatur sipil negara dengan berbagai keterampilan digital. Namun, pengalaman Surabaya membuktikan satu hal penting: secanggih apa pun sistem dan sehebat apa pun kemampuan teknis pegawai, kinerja publik tidak akan meningkat jika para manajer tidak siap secara digital.
Kesiapan manajerial inilah yang menjadi jantung transformasi kota pintar. Ia mencakup kemampuan untuk menata struktur birokrasi agar lincah, merumuskan strategi digital yang selaras dengan visi pembangunan, serta memanfaatkan teknologi untuk mengambil keputusan yang cepat dan tepat. Ketika para pemimpin organisasi mampu menumbuhkan kesiapan ini, potensi digital benar-benar berubah menjadi layanan publik yang lebih efisien, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan warga.
Lebih jauh lagi, kepemimpinan digital menjadi penguat utama. Seorang pemimpin dengan visi jelas, keberanian menggunakan teknologi secara etis, dan gaya memimpin yang partisipatif mampu mengubah keterampilan digital ASN menjadi kekuatan kolektif. Ia tidak sekadar mengarahkan, tetapi juga menginspirasi dan memberi ruang bagi inovasi. Dari sinilah lahir kepercayaan masyarakat pada layanan publik yang cepat, akurat, dan ramah.
Kisah Surabaya memberi pelajaran berharga: membangun kota pintar tidak cukup hanya dengan jaringan internet yang cepat atau aplikasi canggih. Yang paling menentukan adalah manusia攑ara manajer dan pemimpin yang siap menata ulang cara kerja birokrasi, memanfaatkan data, dan memimpin perubahan budaya organisasi. Pada akhirnya, keberhasilan transformasi digital bukanlah soal alat yang kita punya, tetapi bagaimana pemimpin mampu menjembatani kesenjangan digital dan mengubahnya menjadi nilai nyata bagi warga kota.
Penulis: Ian Firstian Aldhi, Fendy Suhariadi, Elvia Rahmawati, Elisabeth Supriharyanti, Dwi Hardaningtyas, Rini Sugiarti dan Ansar Abbas
Link artikel:





