Di era dengan perubahan yang serba cepat saat ini, kota membutuhkan pemimpin publik yang tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga dapat menggunakannya secara tepat untuk melayani dan menyejahterakan masyarakatnya dengan lebih baik. Di dua kota di Jawa Timur, dua pemimpin publik perempuan inspiratif telah menunjukkan bagaimana cara melakukannya. Mantan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini dan Ita Puspitasari, Wali Kota Mojokerto telah mengubah kota menjadi contoh cemerlang dari apa yang disebut dengan kota cerdas (‘smart city’). Sebagai pemimpin perempuan, keduanya telah mengambil langkah berani untuk memimpin perubahan kota mereka menggunakan teknologi digital. Hal ini membuktikan bahwa pemimpin perempuan juga bisa menjadi pemimpin di era digital.
Apa itu “Kota Cerdas” atau “Smart City”?
Kota cerdas merupakan kota yang menggunakan perangkat digital攕eperti aplikasi, sistem data, dan platform daring攗ntuk membuat layanan pemerintah lebih efisien, transparan, dan lebih mudah dapat diakses oleh semua orang. Masyarakat tidak hanya dapat melaporkan masalah di lingkungannya melalui aplikasi atau media sosial, mereka juga bisa mengakses dokumen anggaran dan perencanaan dengan terbuka secara online. Dengan kata lain, smart city membuat hidup masyarakat lebih mudah sekaligus menjaga keterbukaan pemerintah dalam memberikan pelayanan publik yang berujung pada peningkatan kepercayaan publik.
Bukan Hanya Keterampilan Teknologi擨ni Tentang Gaya Kepemimpinan Perempuan
Risma, yang sering dipanggil 淏u Risma, adalah wali kota perempuan pertama di Surabaya. Saat ia mulai menjabat, kota tersebut menghadapi masalah serius攑ermukiman kumuh, kemacetan, dan polusi. Namun, alih-alih menyerah, ia beralih ke teknologi. Ia membantu mengembangkan sistem untuk melacak pengeluaran pemerintah, meningkatkan kualitas transportasi publik, dan bahkan mendukung keluarga miskin melalui layanan digital. Program-programnya sangat sukses sehingga ia memperoleh banyak penghargaan di tingkat nasional dan internasional.
Sementara itu, di Mojokerto, Wali Kota Ita membawa sentuhannya yang berbeda. Ia meluncurkan platform seperti 淐urhat Ning Ita, tempat warga dapat mengirimkan masukan atau keluhan secara langsung. Ia memperbaiki sistem penganggaran dan menjadikannya digital, yang dapat meningkatkan transparansi pemerintah. Meskipun Mojokerto adalah kota yang lebih kecil, kota tersebut sangat dikenal sebagai salah satu kota terpintar di Jawa Timur.
Hal yang membuat para wanita ini berbeda bukan hanya penggunaan teknologi mereka攖etapi juga gaya kepemimpinan mereka. Mereka mendengarkan. Mereka peduli. Mereka ingin memastikan orang-orang dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Sementara pria sering diharapkan untuk memimpin dengan berani, para wanita ini menunjukkan bahwa empati, perhatian terhadap detail, dan kejujuran juga bisa sama kuatnya.
Pendekatan mereka telah membuktikan sesuatu yang penting: kepemimpinan yang baik bukan tentang gender攎elainkan tentang visi, keberanian, dan integritas. Bahkan saat ini, sebagian orang menganggap wanita tidak cocok untuk memimpin, terutama dalam peran yang sangat bergantung pada teknologi. Namun, Risma dan Ita telah mematahkan stereotip tersebut. Mereka telah menunjukkan bahwa para pemimpin wanita dapat menjadi pelopor dalam menggunakan teknologi untuk membangun kota yang lebih baik攄an kehidupan yang lebih baik攗ntuk semua orang. Kisah mereka mengingatkan kita bahwa masa depan kota bukan hanya tentang mesin dan data攎elainkan tentang manusia. Dan ketika kita memiliki pemimpin cerdas yang peduli, semua orang akan merasakan manfaatnya.
Bagi pembaca yang tertarik dengan analisis yang lebih mendalam, penelitian ilmiah yang mendasari artikel ini dapat ditemukan di sini:





