Diabetes melitus (DM) adalah penyakit kronis yang tidak menular, namun berdampak pada beberapa aspek kehidupan, termasuk kesehatan fisik dan mental. Kondisi obesitas, aktivitas fisik yang kurang, dan gaya hidup tidak sehat dapat memperburuk kondisi diabetes. Diabetes membutuhkan pengobatan yang lama, oleh karena itu, self-empowerment pada penderita diabetes sangat diperlukan. Langkah awal yang dapat dilakukan untuk mewujudkan self-empowerment pada pasien DM tipe 2 (DMT2) adalah penderita diabetes harus memiliki pemahaman yang baik tentang self-management (manajemen diri).
Selama ini berbagai metode telah digunakan dalam penelitian tentang self-management dan self-empowerment pada pasien DMT2. Namun, perawatan diabetes yang optimal masih terhalang oleh banyak faktor, seperti pilihan gaya hidup penderita DMT2 yang tidak sehat dan kurangnya pendidikan tentang perawatan diabetes. Membangun self-empowerment dan menerapkan self-management membutuhkan metode yang tepat serta dukungan yang memadai dari orang terdekat.
Sejak tahun 1980, prevalensi diabetes meningkat dua kali lipat di seluruh dunia; pada orang dewasa berusia diatas 60 tahun, prevalensinya telah mencapai 8,5%. Prevalensi ini naik sebesar 4,7%. Menurut International Diabetes Federation (IDF), pada tahun 2015, terdapat 415 juta orang dewasa terkena diabetes yang berusia 20 hingga 79 tahun. Angka ini meningkat menjadi 425 juta pada tahun 2017. Hanya sepertiga pasien DM yang dapat mengelola sendiri penyakitnya dengan baik; oleh karena itu, lebih dari separuh individu dengan DM mengkhawatirkan kondisi mereka dan pesimis dengan perawatan diabetes yang rumit.
Pasien yang ingin mengontrol kondisi diabetes harus berkomitmen untuk menjalani gaya hidup yang lebih sehat dan dapat membuat keputusan secara konsisten. Manajemen diri yang baik menjadi tujuan akhir melalui pemberdayaan diri, sehingga penderita DMT2 dapat mengelola kesehatan dan merawat diri mereka sendiri. Memberdayakan pasien dapat melatih mereka untuk berpikir kritis dan membuat keputusan yang tepat. Pemberdayaan diri mendorong pasien untuk bertanggung jawab atas kesejahteraan mereka sendiri.
Melatih manajemen diri dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, baik menggunakan metode luring atau daring dan dilakukan secara individu atau berkelompok. Beberapa jenis intervensi seperti kontrol glikemik melalui penyampaian laporan tatap muka, intervensi edukasi dan/atau psikologis, aktivitas fisik program diet, dan religiusitas atau spiritualitas dapat membantu mengontrol gula darah. Namun, studi tinjauan lain juga menunjukkan bahwa intervensi tersebut tidak efektif karena tidak dapat memberikan hasil yang signifikan terkait kondisi pasien DMT2 secara menyeluruh. Selain itu, faktor lain yang menyebabkan tidak efektinya intervensi yang dilakukan karena pelaksanaannya yang hanya secara individu. Kombinasi berbagai metode dapat dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan dari setiap individu dengan DMT2.
Salah satu contoh intervensi individu bagi pasien DMT2 dapat dilakukan dengan menggunakan aplikasi myDIDeA (Malaysian Dietary Intervention for People with Type 2 Diabetes: An e-Approach), intervensi diet individual berbasis website selama 6 bulan untuk membantu DMT2 dengan hemoglobin A1c yang tidak terkontrol (HbA1c). Selain itu, website ini menyediakan informasi tentang diet, sikap, dan perilaku (DKAB), tahapan perubahan pola makan (DSOC), glukosa darah puasa (FBG), dan HbA1c. Intervensi dengan kelompok dilakukan dengan pemberian pelatihan melalui buku pegangan yang disesuaikan dengan budaya spesifik penderita, buku harian untuk mencatat aktivitas pemeliharaan, lembar catatan manajemen mandiri diabetes (DSMRS), lembar kerja swadaya, buklet pendidikan, modul pendidikan, dan pengajaran interaktif.
Dari berbagai metode yang ada, terdapat 4 jenis metode intervensi yang dapat dikombinasikan antara lain goal-setting-oriented, self-management yang berorientasi kepada keluarga, program latihan self-management, dan metode acceptenace and commitment therapy (ACT). Ke-4 metode tersebut dapat meningkatkan kondisi kesehatan pasien DMT2 dengan luaran utama mengontrol kadar HbA1c dan meningkatkan kualitas hidup pasien DMT2 melalui outcome sekunder lainnya. Pemerintah berperan dalam membuat kebijakan agar cara ini dapat diimplementasikan dalam pelayanan kesehatan khususnya pelayanan kesehatan primer yang sangat dekat dengan masyarakat, melalui tenaga kesehatan yang ada.
Penulis: Dr. Tintin Sukartini, S.Kp., M.Kes.
Jurnal: Potential Methods to Improve Self-Management in Those with Type 2 Diabetes: A Narrative Review





