51动漫

51动漫 Official Website

Kondisi Fisik Rumah, Salah Satu Faktor Risiko Kusta

Foto by Halodoc

Indonesia merupakan negara dengan penderita kusta terbanyak ke tiga, setelah India dan Brazil. Kusta adalah penyakit infeksi menular yang menyerang saraf perifer dan kulit. Kecacatan yang ditimbulkan oleh penyakit ini menimbulkan stigma yang menghambat penemuan penderita kusta. Padahal penyakit ini dapat disembuhkan dan dihambat kecacatannya jika diobati pada masa awal timbul tanda kusta. Pengobatannya pun gratis jika diakses melalui puskesmas setempat. Gejala awal penyakit kusta adalah adanya bercak putih menyerupai panu yang mati rasa, tidak menimbulkan rasa gatal ataupun sakit. Karena gejala awal ini tidak mengganggu, pada umumnya masyarakat mengabaikannya, hingga penyakit kusta berkembang dengan kecacatan yang parah. Kusta disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae yang dapat menular pada kontak erat, melalui percikan droplet penderita kusta tipe Multibasiler yang tidak diobati. Namun pada daerah endemis kusta, ditengarai adanya reservoir lingkungan sebagai jalur penularan kusta secara tidak langsung pada masyarakat. Bakteri M leprae yang difagositosis oleh amuba, dapat hidup di lingkungan selama beberapa hari.  

Lingkungan dapat menjadi tempat berkembang biaknya bakteri, salah satunya bakteri penyebab penyakit kusta. Rumah merupakan bagian lingkungan fisik yang dapat mempengaruhi kesehatan. Sebuah penelitian observasional pada pasien sebuah rumah sakit yang merawat penderita kusta dilakukan oleh Fadlila, dkk (2022). Tujuan penelitian tersebut adalah untuk  mengetahui hubungan kondisi fisik rumah dengan kejadian kusta. Hasil penelitian menyatakan kondisi fisik rumah memiliki hubungan signifikan secara statistik dengan kejadian kusta. Kondisi fisik rumah antara lain adalah langit-langit, dinding, lantai, jendela, ventilasi, dan kepadatan hunian kamar tidur. Keberadaan dan jenis komponen rumah yang memenuhi syarat membuat suasana nyaman sebuah hunian, dapat diukur melalui parameter pencahayaan alami, suhu, dan kelembapan dalam rumah.

Rumah sehat di Indonesia yang beriklim tropis sebaiknya memiliki langit-langit. Langit-langit berfungsi menyerap panas matahari dan dapat turut menjaga kestabilan suhu dalam rumah pada saat siang dan malam. Dinding rumah yang kering, tidak lembab juga dapat menjaga kelembaban udara dalam rumah. Dinding rumah yang terbuat dari pasangan batu bata yang dilapisi semen ideal bagi rumah di daerah dengan iklim tropis. Pada daerah yang sering terkena air, dinding rumah dibuat kedap air sehingga tidak lembab. Lantai rumah yang tidak memenuhi syarat, seperti lantai tanah atau lumpur dapat memungkinkan penghuni rumah tertular kusta (WHO, 2010).  Sampel tanah dari daerah endemis kusta di Negara India menunjukkan adanya M leprae yang diduga berasal dari penderita kusta dengan tipe Multibasiler (Turankar et al., 2016). Pada penelitian yang dilakukan oleh Fadlila, dkk (2022) 89,5% responden yang menderita kusta memiliki lantai rumah yang tidak memenuhi syarat.

Menciptakan lingkungan rumah yang nyaman, bersih, dan sehat merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan keluarga. Bagi penyedia layanan kesehatan, rumah sehat dapat menjadi program promosi kesehatan yang mendukung upaya eliminasi kusta.  Parameter lingkungan fisik udara dalam rumah seperti kelembaban, pencahayaan, dan suhu diupayakan memenuhi persyaratan (dapat dilihat pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1077/Menkes/Per/V/2011 tentang Pedoman Penyehatan Udara dalam Ruang Rumah) dan dikuti dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) oleh seluruh anggota keluarga.

Penulis: Retno Adriyani

Judul dan link artikel nasional terindeks Sinta 2 yang dituliskan menjadi opini

Judul   : The relationship between physical conditions of house and sanitation with leprosy case in patiens at Sumberglagah Mojokerto Hospital

DOI     : 

Link     :

AKSES CEPAT