Pencemaran lingkungan telah menjadi perhatian global. Pencemaran air meningkat dengan munculnya revolusi industri dan globalisasi ekonomi ketika keragaman polutan lingkungan dipancarkan dari sumber antropogenik yang tak terhitung jumlahnya. Potentially Toxic Elements (PTEs) adalah sekelompok polutan yang secara alami ada di lingkungan. Unsur-unsur ini telah terdeteksi pada tingkat beracun di kawasan industri, di mana mereka mulai dilepaskan ke udara, tanah, makanan, dan air permukaan (sungai, kali, dan laut) dengan konsentrasi yang lebih tinggi dan menjadi perhatian publik. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Cina Selatan, diperkirakan sekitar 200 juta ton air limbah industri setiap tahun dibuang ke Muara Sungai Mutiara dari kota-kota pesisir. Beberapa PTEs yang terlepas dibawa oleh sungai dan akhirnya dibuang ke laut. Mereka dapat mempengaruhi ekosistem laut dan air tawar, di mana spesies hewan air dapat mengakumulasi senyawa ini.
Kepiting adalah salah satu komoditas penting di pasar makanan laut internasional. Menurut Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS, konsumsi kepiting per kapita meningkat dari 0,62 kg pada 2018 menjadi 0,64 kg pada 2019 di Amerika Serikat. Pada tahun 2020, Rusia memiliki pangsa pasar kepiting terbesar di kawasan ini, terhitung sekitar 46,1% dari total ekspor, diikuti oleh Korea Selatan dan China. Amerika Serikat adalah importir kepiting terbesar pada tahun 2020, mengimpor 49,6 juta dolar. Krustasea ini hidup di habitat lumpur, rerumputan, dan sedimen laut dan memainkan peran penting dalam rantai makanan sungai dan sungai. Kepiting adalah spesies omnivora dan memakan ganggang, moluska, cacing, rerumputan, dan krustasea lainnya di sedimen laut. Oleh karena itu, konsentrasi unsur-unsur yang berpotensi berbahaya dalam jaringan otot kepiting dapat menjadi awal untuk mendeteksi tingkat pencemaran perairan. Kepiting memiliki potensi untuk mengakumulasi PTEs tingkat tinggi dari lingkungannya, mereka memberikan indikator yang berharga untuk memantau tingkat konsentrasi elemen yang berpotensi berbahaya di lingkungan perairan.
Konsentrasi PTE dalam otot kepiting dimetaanalisis menggunakan model efek acak berdasarkan subkelompok negara. Urutan peringkat PTEs berdasarkan konsentrasi gabungan (rata-rata) dalam otot kepiting adalah Ni (4,490 mg/kg-ww) > Pb (1,891 mg/kg-ww) > As (1,601 mg/kg-ww) > Cd (1,101 mg/kg-ww). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen dewasa dan anak-anak di banyak negara berisiko non-karsinogenisitas akibat menelan Ni, Pb, As, dan Cd serta risiko karsinogenisitas akibat As. Karena konsentrasi PTEs, tingkat konsumsi, dan berat badan berbeda di setiap negara, risiko kesehatan juga (risiko non-karsinogenik dan karsinogenik) berbeda di setiap negara. Tiga negara dengan risiko non-karsinogenik (TTHQ) tertinggi pada orang dewasa adalah Malaysia, Portugal, dan Afrika Selatan, dan untuk anak-anak, Malaysia, Portugal, dan Afrika Selatan.
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada penelitian ini, nikel memiliki akumulasi tertinggi pada jaringan kepiting. Studi lain melaporkan bahwa konsentrasi nikel yang tinggi dapat dikaitkan dengan pendirian pabrik pupuk di tepi laut karena pabrik tersebut membutuhkan air laut untuk pendinginan, pengangkutan, dan ekspor produk. Seiring bertambahnya ukuran spesies laut yang berbeda, akumulasi logam dalam jaringannya juga meningkat. Studi lain menunjukkan bahwa PTEs di dasar laut dan sedimen dalamnya lebih tinggi daripada di permukaan laut. Karena krustasea besar seperti kepiting menghabiskan waktu lama di dasar laut, kontak mereka dengan sedimen yang terkontaminasi PTEs lebih banyak, menyebabkan akumulasi PTEs yang tinggi di jaringan mereka. Selain itu, kadar nikel yang tinggi masuk ke lingkungan masyarakat dengan konsumsi bahan bakar fosil yang tinggi dan kehadiran industri yang tinggi seperti paduan, bantalan rem, karet, dan baja. Setelah terserap pada partikel tanah, nikel masuk ke laut melalui limpasan permukaan, sungai, dan limbah industri dan mencemarinya.
Mengingat peningkatan konsumsi kepiting, penelitian lain pada spesies kepiting yang berbeda, jantan dan betina, dan jaringan kepiting harus dilakukan di masa mendatang. Akhirnya, disarankan untuk mengukur PTEs dalam jaringan otot kepiting di negara lain yang belum dipelajari untuk lebih menginterpretasikan risiko kesehatan global yang disebabkan oleh konsumsi kepiting.
Penulis: Trias Mahmudiono, SKM., MPH., GCAS., Ph.D
Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di: Mahmudiono, T., Mansur Khalaf Al-Khazaleh, J., Mohammadi, H., Daraei, H., Javid, A., Sarafraz, M., Heidarinejad, Z., Fakhri, Y., Atamaleki, A., & Mousavi Khaneghah, A. (2023). The concentration of Potentially Toxic elements (PTEs) in the muscle of crabs: a global systematic review, meta-analysis, and health risk assessment.International journal of environmental health research, 1“27. Advance online publication.





