Transisi global menuju kendaraan listrik (EV) menuntut terobosan teknologi yang tidak hanya canggih, tetapi juga berkelanjutan. Salah satu tantangan utama dalam ekosistem EV adalah kebutuhan akan sistem pelumasan yang mampu menangani kecepatan tinggi dan manajemen panas yang ekstrem. Menjawab tantangan ini, tim peneliti lintas negara yang dipimpin oleh para ahli dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia bekerja sama dengan mitra internasional, memperkenalkan inovasi nanolubricant ramah lingkungan berbasis rumput laut.
Penelitian ini mengusung konsep “pelumas hijau” dengan memadukan titanium dioxide (TiO2) sebagai aditif nanopartikel ke dalam minyak rumput laut (Chlorophyta). Penggunaan rumput laut sebagai bahan dasar pelumas biologi (biolubricant) memiliki keunggulan strategis karena merupakan biomassa laut yang cepat tumbuh, tidak berkompetisi dengan lahan pangan, dan mampu menyerap karbon dioksida selama masa pertumbuhannya. Lebih jauh lagi, rumput laut mengandung polimer alami seperti polisakarida dan protein yang berfungsi sebagai stabilisator alami bagi nanopartikel. Hal ini meniadakan ketergantungan pada bahan kimia sintetis atau surfaktan berbasis fosil yang sering kali bersifat toksik bagi lingkungan.
Salah satu kunci keberhasilan nanolubricant terletak pada stabilitas dispersinya. Tanpa stabilitas yang baik, nanopartikel cenderung menggumpal dan mengendap, yang justru dapat merusak komponen mesin. Melalui metode optimasi statistik yang ketat, yaitu Response Surface Methodology (RSM) dengan desain One-Factor-at-a-Time (OFAT), tim peneliti berhasil menemukan parameter pemrosesan yang paling efisien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa durasi ultrasonikasi selama 60 menit merupakan titik optimal untuk menghasilkan dispersi nanopartikel yang paling stabil dalam jangka panjang.
Temuan ini tidak hanya menawarkan solusi teknis bagi performa kendaraan listrik, tetapi juga memberikan dampak signifikan pada efisiensi energi industri. Dengan menentukan waktu pemrosesan yang tepat, konsumsi energi dalam produksi pelumas dapat dikurangi hingga sepertiga dibandingkan metode konvensional yang tidak terukur. Langkah ini menjadi bukti nyata kontribusi riset Indonesia dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG 12) mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Inovasi ini membuka jalan bagi integrasi material berbasis laut ke dalam aplikasi teknik tingkat tinggi, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan teknologi hijau global.
Penulis: Dr. Sonny Kristianto, S.Si., M.Si.
Link:





