Malnutrisi merupakan kondisi ketika tubuh mengalami kekurangan atau ketidakseimbangan energi, protein, dan zat gizi lainnya yang dapat berdampak buruk pada jaringan tubuh, fungsi fisiologis, serta hasil klinis pasien (Cereda, 2016). Pemenuhan kebutuhan nutrisi merupakan salah satu faktor penting dalam proses penyembuhan pasien, terutama pada kelompok lanjut usia (geriatri).
Pada pasien geriatri, kondisi ini perlu mendapat perhatian khusus karena dapat memperburuk keadaan kesehatan dan memperlambat proses pemulihan. Untuk mengatasi hal tersebut, dukungan nutrisi dapat diberikan melalui tiga metode, yaitu secara oral, enteral, dan parenteral. Nutrisi parenteral merupakan pemberian zat gizi seperti glukosa, asam amino, lemak, vitamin, dan elektrolit langsung melalui pembuluh darah, yang umumnya digunakan ketika pasien tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisinya melalui saluran cerna (Wei et al., 2015). Pemberian nutrisi ini bertujuan untuk membantu proses pemulihan, meningkatkan kualitas hidup, serta mengurangi risiko komplikasi, angka kematian, lama rawat inap, dan biaya perawatan (Volkert et al., 2019).
Penelitian ini dilakukan secara observasional dengan menganalisis penggunaan Nutrisi Parenteral pasien geriatri yang dirawat inap di rumah sakit tanpa dilakukan perlakuan pada sampel. Data pada penelitian ini adalah data retrospektif. Pengambilan data dilakukan pada Bulan Mei “ Juni 2022. Subjek penelitian yaitu pasien geriatri rawat inap di Instalasi Rawat Inap RS 51¶¯Âþ yang mendapat terapi nutrisi parenteral selama periode rawat inap Januari – Desember 2021. Jumlah pasien yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 47 pasien dengan 72 kali penggunaan nutrisi parenteral.
Data yang didapat dari rekam medik pasien akan diolah menjadi diagram atau tabel persentase dan dilakukan analisis deskriptif meliputi data demografi pasien (usia, jenis kelamin, tinggi badan, berat badan), Lama Rawat Inap (Length of stay) pasien, jenis nutrisi parenteral. Metode pengukuran ketercapaian nutrisi pasien mengacu pada nilai BMR masing masing pasien yang dubandingkan dengan total kcal nutrisi yang diterima pasien. Dan dilakukan Uji Perbedaan dengan melihat Status Ketercapaian Nutrisi Pasien dengan Length of stay (LOS) pasien.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien, yaitu 96%, telah mencapai kebutuhan nutrisi hariannya, sementara 4% lainnya belum tercapai meskipun telah diberikan nutrisi parenteral. Perbedaan yang signifikan terlihat pada lama rawat inap antara kedua kelompok tersebut. Pasien dengan kebutuhan nutrisi yang terpenuhi memiliki rata-rata lama rawat inap sekitar 9,5 hari, sedangkan pasien yang kebutuhan nutrisinya tidak terpenuhi memiliki lama rawat inap yang jauh lebih panjang, yaitu sekitar 23 hari, dengan perbedaan yang bermakna secara statistik (p = 0,032). Hal ini menunjukkan bahwa ketidakcukupan nutrisi berhubungan dengan perpanjangan masa perawatan di rumah sakit. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa pasien dengan malnutrisi cenderung memiliki lama rawat inap lebih lama dibandingkan pasien dengan status gizi yang baik (Lim et al., 2012).
Perbedaan lama rawat inap ini dapat dijelaskan melalui peran penting nutrisi dalam menjaga sistem imun dan mempercepat proses penyembuhan. Asupan nutrisi yang tidak adekuat dapat menurunkan fungsi sistem kekebalan tubuh. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko infeksi dan memperlambat penyembuhan luka, sehingga meningkatkan morbiditas pasien (Bapat et al., 2015). Akibatnya, lama perawatan pasien di rumah sakit menjadi lebih panjang. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan nutrisi harian, termasuk melalui pemberian nutrisi parenteral, menjadi faktor penting dalam mempercepat pemulihan pasien geriatri serta menekan risiko komplikasi selama perawatan di rumah sakit.
Berdasarkan hasil studi ini, kebutuhan nutrisi harian pasien geriatri tercapai sebanyak 96% pasien. Pasien geriatri yang menggunakan nutrisi parenteral dengan kebutuhan nutrisi tercapai menurut BMR mempunyai nilai rerata LOS lebih rendah dibandingkan pasien dengan BMR yang tidak tercapai.
Penulis: Prof. Dr. apt. Yulistiani, Dra., M.Si
Link Artikel Jurnal:





