UNAIR NEWS – Pada Hari Buku Sedunia, Perpustakaan 51动漫 (UNAIR) menggelar Kampanye Klub Buku. Acara ini juga merupakan rangkaian perayaan ulang tahun ke-70 . Acara tersebut terselenggara pada Rabu (23/4/2025), di Ruang Movio, Lantai Tiga, Gedung Perpustakaan UNAIR, Kampus Dharmawangsa-B. Agung Budi Kristiawan, pustakawan sekaligus penggagas klub buku Perpustakaan UNAIR memimpin langsung kegiatan tersebut.
Acara yang bermula pada pagi hari ini bermula dengan membaca buku senyap selama satu jam. Buku menjadi bahan bacaan bergenre bebas, sesuai keinginan masing-masing anggota dan bisa membawa buku dari rumah. Sesi membaca buku senyap bernuansa sangat sunyi dan menenangkan, sehingga anggota dapat meresapi bukunya.
Bedah Buku Bersama
Setelah membaca senyap, para anggota dipersilakan untuk membedah buku mereka. Buku pertama yang dibedah adalah Monokrom, yang menceritakan tentang persahabatan beberapa remaja SMA di sebuah pelosok negeri dalam menggapai cita dan cinta mereka di penghujung masa SMA. Kedua adalah Once Upon A Broken Heart, menceritakan tentang seorang perempuan yatim piatu. Buku ketiga yakni Relevansi Ramalan Jayabaya dengan Indonesia Abad 21. Buku lainnya yakni Art Of Leadership, Kosmopolitanisme dan Budaya Lokal, hingga buku yang menceritakan perjalanan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.
Setelah anggota klub mengulas buku mereka, Agung membuka diskusi seputar alasan pemilihan buku dari para peserta yang hadir. Sinopsis, cover, hingga ulasan dari pembaca lain menjadi alasan dari para peserta saat memilih buku. 淪etiap orang memang memiliki ketertarikan nya masing-masing dalam memilih sebuah buku untuk dibaca, jelas Agung.
Lebih lanjut, Agung itu memperkenalkan satu buku yang dibawa anggota namun belum sempat ia baca yakni Atomic Habit. Buku tersebut merupakan buku yang menurut Agung tidak hanya menarik, namun juga bermanfaat untuk dibaca. 淜etika kalian membaca ini, akan terjadi perubahan pada diri kalian, kata Pustakawan itu.
Acara ini ditutup dengan motivasi dari Agung selaku penggagas klub. Agung menyampaikan bahwa kebiasaan membaca buku sebisa mungkin menjadi kebiasaan sehari-hari, daripada terus menerus melihat media sosial. 淐ara agar habit membaca buku tercipta adalah dengan menaruh buku di dekat kita, sehingga kita akan tertarik untuk membacanya, terangnya.
Agung juga menyampaikan bahwa alasan dia membangun klub buku adalah karena ingin mengembalikan fitrah perpustakaan sebagai tempat baca buku. 淪ekarang jika kita melihat perpustakaan isinya adalah orang yang memandangi gadget-nya untuk mengerjakan pekerjaannya. Sementara fitrah perpustakaan adalah tempat membaca buku, jelas Agung.
Penulis: Rizma Elyza
Editor: Yulia Rohmawati





