51

51 Official Website

Konstruksi Identitas Politik Anak-anak sebagai Warganegara yang Baik pada Film Aku Ingin Menciummu Sekali Saja dan Denias, Senandung di Atas Awan

Chapter buku ini adalah bagian dari seri buku yang mengeksplorasi bagaimana kesuksesan dikonseptualisasikan dan direpresentasikan dalam teks-teks dan narasi pada beragam media untuk kalangan muda di Asia. Hasiil riset yang terangkum dalam kumpulan tulisan ini mengkaji bagaimana kesuksesan anak berkaitan dengan pendidikan, keluarga, gender, ras, golongan, masyarakat, dan bangsa. Ini dalam konteks menjawab pertanyaan-pertanyaan lebih besar mengenai: Bagaimana kesuksesan anak-anak direpresentasikan dalam sastra, bioskop, dan media populer? Dengan cara apa teks atau visual ini didasarkan pada konteks sejarah, politik, dan budaya di mana mereka diproduksi dan dikonsumsi? Bagaimana agensi periodisasi masa kanak-kanak memengaruhi gagasan tentang kesuksesan di Asia? Buku ini mengkompilasi keberagaman dan menyajikan bagaimana persamaan dan perbedaan nilai dan identitas kesuksesan didefinisikan untuk anak-anak dan remaja di Jepang, Korea Selatan, Republik Rakyat Cina, Singapura, Taiwan, Indonesia, Vietnam, dan India. Para penulis dalam seri buku ini berpendapat bahwa kesuksesan adalah kata kunci penting dalam sastra dan studi budaya pada periode masa kanak-kanak di Asia

Sementara chapter yang ditulis peneliti dalam buku ini berfokus pada bagaimana konstruksi identitas politik anak Indonesia untuk menjadi warga negara yang ideal yang digambarkan dalam narasi film. Representasi anak-anak Indonesia pasca Orde Baru berfokus pada penggambaran keragaman sebagai cara untuk menantang warisan ideologis monokultural Orde Baru dan versi homogen identitas nasionalnya. Namun, karakter anak pada periode ini terus diproyeksikan sebagai simbol ideal kebangsaan Indonesia. Dengan mengangkat tema kontemporer masyarakat Indonesia, film anak-anak pasca Orde Baru tetap mencerminkan praktik dan cara berpikir ideologis yang lebih tua, yang secara historis terkait dengan nasionalisme Orde Baru, seperti yang ditunjukkan dalam Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (2002) dan Denias Senandung di Atas Awan (2006).

Terlepas dari identitas mereka yang beragam, penggambaran sinematik berkelindan dengan kebiasaan diskursif yang mapan yang merefleksikan anak-anak sebagai warga negara yang diidealkan. Anak yang baik dikonstruksikan sebagai anak yang memelihara ketaatannya pada negara yang direpresentasikan melalui sistem keluarga, waktu sekolah dan otoritas. Termasuk juga di Papua. Film tentang Papua masih sangat terbatas dan itupun menampilkan narasi yang problematic antara penggambaran realitas yang sangat utopis serta keinginan menampilkan Papua sebagai bagian dari Indonesia di tengah konflik yang hingga kini masih muncul. Tulisan ini berargumen bahwa film-film tersebut merupakan representasi sinematik anak-anak Papua menjadi orang Indonesia. Ide sukses di Indonesia dilihat dari konstruksi politik anak yang membawa kemaslahatan bagi negara atau Berguna bagi Nusa dan Bangsa. Analisis film-film ini menunjukkan bahwa karakter anak mengemban tanggung jawab pembangunan bangsa melalui peran mereka dalam narasi film masing-masing. Protagonis anak ini dibuat untuk mempromosikan identitas nasional dalam narasi film untuk menciptakan tujuan politik menjadi orang Indonesia.

Oleh: Satrya Wibawa

Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP 51.

Link:

AKSES CEPAT