Minuman berenergi adalah minuman non-alkohol yang dirancang untuk memberikan energi dengan menambahkan bahan-bahan yang seolah-olah pengguna minuman berenergi ini akan merasa lebih bergairah, merasa memiliki energy lebih hal ini dikarenakan di minuman berenergi selain mengandung gula sebagai sumber energy utama, juga mengandung kafein yang merupakan stimulant system saraf. Saat ini, banyaknya minuman kemasan berenergi yang beredar di pasaran telah mengubah gaya hidup masyarakat, sehingga sebagian masyarakat menganggap untuk bisa beraktivitas tidaklah cukup minum air putih, tetapi perlu tambahan suplemen berupa minuman berenergi tersebut. Selain gula dan kafein, minuman berenergi seringkali ditambahkan stimulan berbasis tanaman (guarana, efedrin), asam amino (taurin, karnitin, kreatin), herbal (ginseng, ginkgo biloba), dan soda (asam sitrat dan natrium bikarbonat)
Beberapa penelitian menunjukkan kandungan utama minuman berenergi, yaitu kafein, berkaitan dengan efek diuresis dan keseimbangan cairan-elektrolit. Kafein juga merangsang filtrasi glomerulus ginjal dan menghambat reabsorpsi natrium, sehingga memicu peningkatan ekskresi natrium dan air. Selain itu, kafein meningkatkan resorpsi kalsium tulang, yang menyebabkan osteoporosis, dan meningkatkan ekskresi kalsium melalui ginjal, yang mempercepat pembentukan batu ginjal, sehingga mengakibatkan reaksi nyeri berlebihan akibat kerusakan pada sel-sel jaringan di sekitarnya.
Disisi lain pasien yang menderita diabetes mellitus sering kali mengalami komplikasi penyakit ginjal kronis (PGK). Tingginya gula darah menyebabkan mekanisme hiperosmosis yang menyebabkan ginjal bekerja keras untuk menyaring gula. Bahkan sering kali gula dalam jumlah yang besar ditemukan pada urin pasien diabetes mellitus. Jika keadaan ini tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan gagal ginjal terminal yang mengharuskan penderita menjalani hemodialysis atau cuci darah seumur hidupnya.
Dengan adanya dua fenomena yang menyebabkan gangguan ginjal, yaitu konsumsi kafein dan diabetes mellitus, penelitian yang dilakukan oleh Mahardian Rahmadi dan tim dari Fakultas Farmasi Universitas Airalngga berusaha menggabungkan faktor risiko tersebut dengan melakukan penelitian pada hewan coba diabetes mellitus yang diberi konsumsi minuman berenergi sehari dua kali selama total 15 hari. Adapun minuman berenergi yang digunakan pada penelitian tersebut adalah Tiga buah merek minuman berenergi yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia dan juga digunakan di benua Asia. Diakhir periode paparan minuman berenergi, darah dari hewan tersebut diambil untuk menentukan biomarker fungsi ginjal, kemudian hewan dikorbankan untuk diambil ginjalnya untuk mendapatkan gambaran perubahan mikroskopis ginjal setelah pemberian minuman berenergi.
Hasil laporan penelitian tersebut menunjukkan bila adanya abnormalitas pada fungsi ginjal yang ditandai dengan peningkatan nilai Blood Urea Nitrogen (BUN) serta penurunan nilai Serum kreatinin darah. Selain itu, dua kelompok hewan yang mendapatkan paparan minuman berenergi juga memiliki abnormalitas kadar natrium dan kalim darah. Pada pengamatan struktur ginjal juga didapatkan satu kelompok hewan dengan minuman berenergi mengalami tingkat kerusakan ginjal yang tinggi dan sangat signifikan dibandingkan dengan kelompok yang lainnya. Perubahan structural ginjal yang terjadi pada penggunaan minuman berenergi antara lain adanya dilatasi tubuler, kapsula bowan dan peningkatan inflamasi ginjal yang diduga disebabkan adanya akumulasi sel debris di ginjal.
Dari hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa penggunakan minuman berenergi secara berlebihan pada kondisi diabetes mellitus akan meningkatkan risiko abnormalitas fungsi ginjal. Hal ini diduga dikarenakan minuman berenergi dapat menyebabkan kerusakan struktur ginjal pada hewan dengan diabetes mellitus. Lebih jauh lagi kewaspadaan pada penggunaan minuman berenergi dalam waktu yang lama khususnya pada kondisi diabetes mellitus perlu ditingkatkan untuk menjaga kesehatan ginjal.
Ditulis oleh apt. Mahardian Rahmadi, Ph.D
Berdasarkan publikasi Rahmadi et al, 2024 pada Pharmacy Education Mei 2024, 24(3): 25-31





