51动漫

51动漫 Official Website

Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Mahasiswi terkait Stunting dan Penggunaan Tablet Tambah Darah

Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Mahasiswi terkait Stunting dan Penggunaan Tablet Tambah Darah
Sumber: Harian Haluan

Pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs) tahun 2019, Tujuan ke-2 dengan target 2.2 (dua titik dua) pada tahun 2030, yaitu menghilangkan segala bentuk kekurangan gizi. Salah satu fokus tujuan utamanya yaitu menekan prevalensi stunting. Faktor penyebab stunting yang disebabkan saat sebelum masa kehamilan terutama pada calon ibu yaitu usia ibu hamil terlalu muda dibawah 20 tahun, postur tubuh ibu (pendek), dan kekurangan gizi. Salah satu indikasi kekurangan gizi pada calon ibu yaitu anemia yang terjadi terutama pada wanita usia subur (WUS). Anemia rentan terjadi pada WUS yang berdampak buruk terhadap pertumbuhan serta perkembangan janin dalam kandungan serta berpotensi mengakibatkan komplikasi pada saat kehamilan dan persalinan. Anemia pada remaja putri (Rematri) dan WUS disebabkan karena mengalami siklus menstruasi yang akan kehilangan darah tiap bulan sehingga diperlukan zat besi dua kali lipat saat siklus menstruasi.

Upaya pemerintah Indonesia dalam penanganan permasalahan terkait stunting yaitu melakukan intensifikasi program pencegahan dan penanggulangan anemia pada WUS dengan memprioritaskan pemberian TTD satu tablet setiap minggu untuk mengurangi 50% prevalensi anemia pada tahun 2025. Program suplementasi TTD pada WUS 15-49 tahun dengan pemberian TTD mandiri yang yang diperoleh secara mandiri dari apotek atau toko obat. Pencegahan stunting penting dilakukan sedini mungkin untuk menghindari dampak jangka panjang yang merugikan. Pentingnya hal tersebut diketahui para mahasiswi untuk mengetahui resiko buruk dari stunting. Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengetahuan, sikap, dan perilaku mahasiswi terkait stunting dan penggunaan TTD di wilayah Surabaya.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif observasional dengan rancangan pendekatan desain cross-sectional. Data menggunakan data primer dari hasil kuesioner yang disebarkan pada remaja putri di Surabaya dengan kriteria berusia minimal 17 tahun, mahasiswi prodi non-kesehatan D4 hingga S3, belum menikah, belum mempunyai anak, belum menopause. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik sampling insidental dengan metode pengambilan data dengan memberikan kuesioner secara langsung kepada mahasiswi yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi wilayah Kota Surabaya.

Hasil penelitian yang diperoleh dari 201 responden didapat bahwa sebesar 70,6% responden memiliki pengetahuan yang kurang. Sikap responden terhadap stunting dan penggunaan suplemen diperoleh bahwa 95,0% responden memiliki sikap positif. WUS secara emosional akan cenderung memiliki sikap positif terhadap pencegahan stunting karena merasa cemas dan takut terhadap kesehatan anak. Pada variabel perilaku diperoleh bahwa sebesar 71,6% responden termasuk kategori berperilaku kurang baik, sebagian besar responden sudah pernah mengonsumsi TTD namun belum mengonsumsi TTD secara rutin sesuai dosis yang dibutuhkan yaitu seminggu satu tablet saat diluar siklus menstruasi dan setiap hari saat siklus menstruasi sebagai upaya pencegahan stunting dengan mencegah terjadinya anemia yang merupakan faktor risiko stunting. Hasil analisis hubungan menggunakan analisis hubungan non-parametrik Spearman Rank mendapatkan hasil antara variabel pengetahuan dengan variabel sikap memiliki hubungan signifikan (p=0,000; r=0,479) menunjukkan berkorelasi positif dengan kekuatan korelasi moderat. Selanjutnya antara variabel pengetahuan dengan variabel perilaku memiliki hubungan signifikan (p=0,003; r=0,207) menunjukkan berkorelasi positif dengan kekuatan korelasi lemah. Sedangkan antara variabel sikap dengan variabel perilaku memiliki hubungan signifikan (p=0,000; r=0,476) menunjukkan berkorelasi positif dengan kekuatan korelasi moderat.

Kesimpulan penelitian ini adalah pada variabel pengetahuan responden memiliki pengetahuan yang kurang, mayoritas responden memiliki sikap positif namun sebagian besar responden memiliki perilaku kurang baik yaitu tidak meminum TTD sesuai aturan. Berdasarkan analisis hubungan terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan, sikap dan perilaku responden terkait stunting dan penggunaan TTD. Upaya sosialisasi dan edukasi diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan remaja putri dalam penggunaan TTD sebagai salah satu upaya pencegahan stunting dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.

Penulis: Ana Yuda, S.Si., Apt., M.Farm

Link:

Baca juga: Identifikasi Faktor-faktor Penyebab Stunting

AKSES CEPAT