51动漫

51动漫 Official Website

Kontaminasi Mikroplastik di Wilayah Pesisir Kalirejo dan Keberadaannya pada Kerang Hijau (Perna viridis)

Ilustrasi komunitas kerang (Foto: lifestyle okezone.com)
Ilustrasi komunitas kerang (Foto: lifestyle okezone.com)

Indonesia menghadapi krisis polusi plastik yang signifikan, menghasilkan sekitar 64 juta ton sampah plastik setiap tahunnya, dengan perkiraan 3,2 juta ton masuk ke lingkungan laut (Setyo dan Kumalasari 2022). Masuknya plastik yang substansial ini sebagian besar disebabkan oleh pengelolaan sampah yang tidak memadai dan kurangnya sistem daur ulang yang efektif, yang menyebabkan penumpukan sampah plastik di lingkungan (Setyawan dkk. 2020). Mikroplastik, yang didefinisikan sebagai partikel plastik berukuran kurang dari 5 mm, menimbulkan risiko toksikologi yang cukup besar bagi organisme laut. Setelah tertelan, mikroplastik dapat menyebabkan kerusakan fisik dan berperan sebagai pembawa kontaminan kimia seperti plasticizer, pewarna, dan polutan organik persisten, yang terakumulasi dalam jaringan organisme (Mani dkk. 2015). Konsumsi ini berdampak buruk terhadap kelangsungan hidup, perkembangan, dan kesehatan biota laut secara keseluruhan (Buwono dkk. 2021). Lebih lanjut, mikroplastik dapat berakumulasi dan meningkat secara biologis di sepanjang rantai makanan, sehingga menimbulkan risiko kesehatan bagi manusia yang mengonsumsi makanan laut yang terkontaminasi (Barnes dkk. 2009).

Meskipun studi tentang polusi mikroplastik di lingkungan laut semakin meningkat, penelitian yang dilakukan di Indonesia masih terbatas, terutama terkait moluska Bivalvia seperti kerang hijau (Perna viridis). Penelitian telah mendokumentasikan keberadaan mikroplastik pada berbagai organisme laut di seluruh dunia. Misalnya, mikroplastik telah terdeteksi di saluran pencernaan spesies ikan di Laut Kuning (Sun dkk. 2019) dan pada ikan teri Eropa (Engraulis encrasicolus) di Laut Mediterania (Collard dkk. 2017). Di Indonesia, penelitian telah mengidentifikasi mikroplastik pada bulu babi (Diadema setosum) di perairan Makassar (Sawalman dkk. 2020) dan pada spesies ikan komersial di lepas Pantai Jakarta (Hastuti dkk. 2019).

Namun, terdapat kekurangan data mengenai kontaminasi mikroplastik pada moluska bivalvia, khususnya kerang hijau (Perna viridis), di beberapa wilayah pesisir Indonesia. Kerang hijau memiliki nilai ekonomi dan gizi yang substansial di Indonesia. Kerang hijau merupakan makanan laut terpopuler ketiga di negara ini dan dibudidayakan secara luas di beberapa pesisir, termasuk Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur (Khoironi 2018; Rejeki dkk. 2018). Wilayah pesisir Kalirejo di Jawa Timur terkenal dengan budidaya kerangnya, terutama di Kelurahan Kaligung, Kecamatan Kraton Pasuruan, di mana masyarakat nelayan setempat sangat bergantung pada perikanan tangkap dan akuakultur. Meskipun kerang hijau penting dan konsumsinya meluas, informasi mengenai tingkat kontaminasi mikroplastik pada organisme ini di wilayah pesisir Kalirejo masih terbatas.

Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki keberadaan dan kelimpahan mikroplastik di perairan dan kerang hijau di wilayah pesisir Kalirejo. Penelitian ini berfokus pada kuantifikasi jenis, bentuk, warna, ukuran, dan komposisi polimer mikroplastik yang ditemukan dalam sampel air yang dikumpulkan pada kedalaman berbeda, dan pada kerang hijau yang dipanen dari rak akuakultur. Dengan meneliti hubungan antara konsentrasi mikroplastik di lingkungan akuatik dan akumulasinya pada kerang, penelitian ini bertujuan untuk menentukan sejauh mana polusi lingkungan mengakibatkan sekuestrasi biologis. Penelitian ini berupaya untuk menyediakan data berharga tentang keberadaan mikroplastik di wilayah ini, sehingga berkontribusi pada upaya yang lebih luas untuk memahami dan mengatasi tantangan yang terkait dengan polusi plastik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik terdapat di semua sampel air dan kerang, dengan konsentrasi yang lebih tinggi pada kedalaman yang lebih dangkal. Fragmen merupakan jenis mikroplastik yang paling umum, diikuti oleh serat dan film, dengan polietilena (PE) diidentifikasi sebagai polimer yang dominan. Korelasi positif yang kuat antara konsentrasi mikroplastik dalam air dan jaringan kerang menunjukkan penyerapan langsung oleh lingkungan. Temuan ini menyoroti kontaminasi mikroplastik yang meluas di wilayah pesisir Kalirejo, yang menimbulkan kekhawatiran tentang dampak lingkungan dan bahaya kesehatan yang terkait dengan konsumsi kerang yang terkontaminasi.

Penulis: Agoes Soegianto

Artikel di atas disarikan dari paper kami yang telah terbit berikut ini:

Nanik Retno Buwono, Agoes Soegianto, Retno Hartati, Rakhel Marsyanda Vanny, Zalfa Nurul Abidah. 2025. Microplastics Contamination in the Kalirejo Coastal Area, East Java, Indonesia and their Presence in Green Mussels (Perna viridis). Bulletin of Environmental Contamination and Toxicology, 114:41.

AKSES CEPAT