Penyakit Blount adalah gangguan pertumbuhan tulang yang relatif jarang terjadi, yang menyebabkan tulang kering (tibia) melengkung ke arah luar, menyerupai bentuk busur. Kondisi ini terjadi ketika bagian tulang kering di bawah lutut, yang disebut lempeng pertumbuhan, tumbuh secara tidak normal. Penyakit Blount dapat menyebabkan nyeri, kesulitan berjalan, dan deformitas tungkai yang signifikan, yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan perkembangan anak.
Penyakit Blount infantil adalah jenis penyakit Blount yang terjadi pada anak-anak di bawah usia 3 tahun. Pada usia ini, lempeng pertumbuhan masih aktif, sehingga deformitas dapat berkembang dengan cepat. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi penyakit Blount yang kompleks dan parah, yang membutuhkan penanganan yang lebih rumit.
Laporan Kasus: Anak Perempuan 9 Tahun dengan Penyakit Blount Kompleks
Seorang anak perempuan berusia 9 tahun datang dengan keluhan pembengkokan pada kedua lututnya yang semakin parah sejak usia 2,5 tahun. Pasien mengalami kesulitan berjongkok dan berlari, yang membatasi partisipasinya dalam aktivitas bermain dan olahraga. Dari pemeriksaan fisik, terlihat jelas pembengkokan ke arah luar pada kedua tungkainya. Pemeriksaan radiologis (rontgen) menunjukkan deformitas varus (membentuk huruf “O”) dan prokurvatum (melengkung ke depan) yang signifikan pada kedua tulang keringnya. Sudut metafiseodiapisis kedua lutut pasien adalah 50 derajat. Terdapat deformitas prokurvatum 125 derajat pada lutut kanan dan 115 derajat pada lutut kiri.
Berdasarkan temuan klinis dan radiologis, pasien didiagnosis dengan Penyakit Blount infantil kompleks stadium lanjut yang terabaikan.
Tindakan Koreksi Akut dengan Kerangka Ilizarov
Karena deformitas yang kompleks dan tingkat keparahannya, diputuskan untuk melakukan koreksi akut dengan menggunakan kerangka Ilizarov. Kerangka Ilizarov adalah alat fiksasi eksternal yang terdiri dari cincin logam, kawat, dan sekrup. Alat ini dipasang pada tulang dan memungkinkan koreksi deformitas tulang secara bertahap dan presisi.
Pada pasien ini, dilakukan osteotomi valgus tibia proksimal dan pemasangan kerangka Ilizarov pada kedua lutut. Osteotomi adalah prosedur pemotongan tulang untuk mengoreksi deformitas. Kerangka Ilizarov kemudian digunakan untuk secara bertahap mengoreksi posisi tulang setelah osteotomi. Setelah operasi, pasien menjalani fisioterapi untuk memulihkan kekuatan dan mobilitas sendi.
Hasil Positif Pasca Operasi
Hasil operasi menunjukkan perbaikan yang signifikan. Sudut metafiseodiapisis lutut kiri terkoreksi menjadi 15 derajat dan lutut kanan menjadi 25 derajat. Deformitas prokurvatum juga berkurang secara signifikan, menjadi 37 derajat di sisi kanan dan 5 derajat di sisi kiri.
Secara klinis, pasien dapat berdiri tegak dan berjalan dengan gaya berjalan yang normal. Meskipun masih merasakan kesemutan setelah berdiri atau berjalan terlalu lama, pasien tidak mengeluhkan nyeri, perubahan warna kulit, atau mati rasa pada tungkai. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi saraf dan pembuluh darah di tungkai tidak terganggu selama proses koreksi.
Keunggulan Kerangka Ilizarov dalam Koreksi Deformitas Blount
Kerangka Ilizarov menawarkan beberapa keunggulan dalam penanganan kasus penyakit Blount kompleks, antara lain:
- Fiksasi yang kuat: Kerangka Ilizarov memberikan fiksasi yang lebih kuat dibandingkan fiksator eksternal monplanar.
- Mobilitas pasien: Pasien dapat tetap aktif dan melakukan gerakan sendi selama proses koreksi.
- Penyesuaian yang presisi: Kerangka Ilizarov memungkinkan penyesuaian yang presisi untuk mengoreksi deformitas multiplanar.
- Evaluasi fungsional: Dokter dapat menilai keselarasan tungkai pasien dalam posisi berdiri fungsional.
Kesimpulan
Koreksi akut dengan kerangka Ilizarov merupakan pilihan penanganan yang efektif untuk penyakit Blount infantil kompleks yang terabaikan. Metode ini memberikan hasil positif, memungkinkan pasien untuk segera menopang berat badan, dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
Penting untuk diingat bahwa setiap kasus penyakit Blount unik dan membutuhkan penanganan yang individual. Konsultasikan dengan dokter spesialis ortopedi untuk menentukan rencana pengobatan yang tepat.
Penulis: Arif Zulkarnain, Tri Wahyu Martanto, Hizbillah Yazid, Dyah Ayu Pratama Sari, Muhammad Bayu Zohari Hutagalung, Hilmi Muhammad
Detail tulisan ini dapat dilihat di:





