Infertilitas adalah ketidakmampuan untuk hamil setelah hubungan seksual yang aktif dan teratur selama 12 bulan tanpa menggunakan kontrasepsi. Laki-laki bisa menjadi penyumbang kejadian infertilitas. Untuk menilai profil keseburan pria, analisis semen (ejakulat) adalah pemeriksaan yang rutin dan wajib dilakukan. World Health Organization (WHO) memberikan rekomendasi khusus untuk pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis semen manusia. Pemeriksaan mikroskopis dalam analisis semen dasar mengevaluasi kuantitas sperma, motilitas, dan morfologinya. Di samping analisis dasar, indeks fragmentasi DNA sperma (DFI) adalah salah satu parameter semen yang direkomendasikan dalam pedoman terbaru dari WHO.
Pemeriksaan DFI sperma mengambarkan kondisi materi genetik sel gamet/sperma. Jika DFI sperma meningkat, ini menandakan kerusakan pada materi genetik sperma tinggi. DFI yang tinggi akan memiliki konsekuensi yang signifikan, termasuk perubahan perkembangan pra-implantasi embrio, penurunan tingkat implantasi, penurunan tingkat kehamilan, penurunan kualitas janin, dan peningkatan tingkat keguguran dan berdampak pada kesulitan untuk menghamili pasangan. Namun pada kenyataanya pemeriksaan DFI sperma tidak dapat dilakukan karena tidak tersedianya dan tingginya biaya dalam pemeriksaan.
Di lain sisi, bentuk morfologi sperma dikaitkan dengan gangguan spermatogenesis atau pembentukan sperma, karena kegagalan untuk memperbaiki kerusakan DNA yang terjadi selama spermatogenesis dapat menyebabkan kelainan morfologi sperma. Selain itu, morfologi sperma yang abnormal telah dikaitkan dengan potensi fertilisasi yang lebih rendah, dan berbagai kelainan kromosom pada embrio. Hal ini menimbulkan hipotesis bahawa ada keterkaitan morfologi sperma dengan DFI.
Oleh karena itu, investigasi lebih lanjut dilakukan untuk melihat korelasi antara DFI dan morfologi. Dengan menggunakan data-data dari penelitian sebelumnya, korelasi dari kedua parameter ini dilakukan secara menyeluruh. Hasilnya ada 58 studi yang relevan dengan hipotesis ini. Analisis lebih lanjut dilakukan terhadap seluruh data-data yang ada. Hasilnya ditemukan ada korelasi yang signifikan antara kedua paramaeter ini. Penulusuran lebih lanjut menunjukkan bahwa bentuk kepala sperma yang bermasalah dibandingkan dengan kelainan bentuk leher dan ekor,kelainan ini memiliki korelasi yang lebih kuat dengan tingginya angak DFI. Tentu hasil studi ini menggarisbawahi bahwa potensi untuk memprediksi DFI dari hasil morfologi sperma dalam pemeriksaan analsis semen biasa bisa dipertimbangkan terlebih di mana pengujian DFI tidak tersedia. Hasil korelasi ini juga ikut membantu dalam pemutusan klinis pada pasien dimana hasil DFI yang tidak tersedia. Dengan demikian bisa membantu mengefisiensi penanganan pasien infertili yang membutuhkan informasi penyebab mereka sulit memiliki anak.
Penulis: dr. Cenikkon Pakpahan
Sumber: Pakpahan C, Utomo NS, Hartanto MC, Torra-Massana M, Rezano A. Meta-correlation of Sperm Morphology and DNA Fragmentation Index. Reprod Sci. 2025 May 1. doi: 10.1007/s43032-025-01867-x. Epub ahead of print. PMID: 40312558





