51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Korelasi Antara Indeks Kolapsbilitas Vena Jugularis Interna dan Tekanan Arteri Rerata dalam Menilai Respon Resusitasi Cairan

Penggunaan ekokardiografi portabel untuk mengukur indeks kolapsibilitas vena cava inferior selama siklus pernapasan dapat memprediksi penilaian curah jantung namun memiliki keterbatasan dalam hal kurangnya ketersediaan peralatan, keahlian USG, dan kesulitan dalam mengidentifikasi vena cava inferior. Penyakit kritis diartikan sebagai suatu proses penyakit yang menyebabkan ketidakstabilan fisiologi tubuh, sehingga dapat mengakibatkan kegagalan fungsi tubuh atau kematian dalam waktu singkat.

Pemberian cairan yang tidak tepat indikasi dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas, oleh karena itu memprediksi respon cairan pada pasien sakit kritis secara tepat dan akurat merupakan hal yang penting. Suatu penelitian telah menunjukkan bahwa respons terhadap pemberian cairan dapat diprediksi bila terjadi peningkatan 15% pada stroke volume, CO, atau tekanan arteri rata-rata setelah pemberian 500 ml cairan. Penelitian prospektif ini dilakukan untuk mengevaluasi korelasi antara internal jugular vein collapsibility index (IJVCI) dan tekanan arteri rata-rata (MAP) dalam menilai respons terhadap pemberian cairan resusitasi pada pasien sakit kritis.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan kelompok pre-post-test pada pasien sakit kritis. Respon terhadap pemberian cairan resusitasi dinilai dengan menggunakan kenaikan tekanan arteri rerata (mean arterial pressure [MAP]) >15%, yang dikaitkan dengan IJVCI. Penelitian dilakukan di ICU RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada bulan April 2016 sampai Mei 2016. Subjek tidak mengalami cedera tulang belakang, aritmia jantung, pola pernapasan tidak teratur, dan perdarahan. Dalam penelitian ini, 500 ml larutan RL diberikan dalam waktu 30 menit. Jika terjadi peningkatan MAP >15%, maka pasien dianggap responsif terhadap pemberian cairan. Pengumpulan data meliputi nama, umur, jenis kelamin, tanda vital, diagnosis primer, skor SOFA, dan pengukuran IJVCI.

Data penelitian dikumpulkan dari dua periode sebelum dan sesudah pengobatan dan kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS untuk Windows 20.0. Data numerik diuji normalitasnya dengan Shapiro Wilk, dimana data yang berdistribusi normal disajikan dalam bentuk mean dan standar deviasi, dan data yang berdistribusi tidak normal disajikan dalam nilai median, minimum, dan maksimum. Kedua mean yang berdistribusi normal dianalisis dengan menggunakan uji-t, dan uji-t berpasangan menganalisis kelompok pre-test dan post-test.

Hasil penelitan ini  mendapatkan perbedaan bermakna nilai MAP dan denyut jantung sebelum dan sesudah pemberian larutan kristaloid (p<0.05). Uji statistik McNemar juga menunjukkan terdapat perbedaan bermakna IJVCI sebelum dan sesudah pemberian cairan kristaloid. Analisis kurva ROC digunakan untuk menghitung nilai cut-off, sensitivitas, dan spesifisitas IJVCI sebagai prediktor respon peningkatan MAP. Berdasarkan kurva ROC, IJVCI menunjukkan area di bawah kurva 0.764. Analisis korelasi Spearman digunakan untuk menganalisis hubungan IJVCI dengan peningkatan MAP.

Walaupun pemilihan sampel penelitian ini tidak sepenuhnya homogen, namun dapat disimpulkan bahwa IJVCI efektif digunakan untuk menilai respon pemberian cairan resusitasi pada pasien sakit kritis berusia 18-65 tahun. Terdapat perbedaan bermakna IJVCI sebelum dan sesudah pemberian cairan kristaloid RL 500 ml dalam waktu 30 menit dan metode tersebut cukup aman karena selama penelitian tidak didapatkan efek samping signifikan.

Penulis:

Dr. Bambang Pujo Semedi, dr., SpAn., KIC., KAP

Prof. Dr. Nancy Margarita Rehatta, dr., SpAn., KNA., KMN

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Semedi BP, Rehatta NM, Nugraha J, Soetjipto, Melviano R, Uta-Riani A. Correlation between internal jugular vein collapsibility index and mean arterial pressure in assessing the response of fluid resuscitation in critically ill patients. Crit Care Shock. 2023;26(3):125“32.

AKSES CEPAT