Infeksi Coronavirus Disease 2019 (COVID‘19) menyebabkan gejala yang parah, dengan tingkat Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) mencapai 67%. COVID-19 dengan ARDS memiliki angka kematian terkait sebesar 65,7%“94%. Ciri-ciri utama ARDS adalah oksigenasi yang buruk dan berkurangnya kepatuhan paru. ARDS merupakan akibat dari proses inflamasi akut dan difus, yang mengakibatkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah pernapasan, peningkatan resistensi pernapasan, hilangnya jaringan paru yang berisi udara, peningkatan shunting, peningkatan ruang fisiologis kematian, dan penurunan kepatuhan pernapasan. Pada paru-paru dengan ARDS, alveoli cenderung kolaps akibat penumpukan sel inflamasi dan cairan di ruang interstitial alveoli, serta berkurangnya fungsi surfaktan.
Sebelumnya telah dilaporkan bahwa di antara pasien CARDS yang dirawat di rumah sakit, 34,6% memiliki kepatuhan pernafasan yang sangat rendah, 63,2% memiliki kepatuhan yang rendah‘normal, dan hanya 2,2% yang memiliki kepatuhan yang tinggi. Pasien dengan kepatuhan pernafasan yang sangat rendah cenderung kurang responsif terhadap ventilasi mekanis dan mempunyai prognosis yang buruk. SP‘D adalah anggota keluarga kolektin yang sebagian besar diproduksi oleh sel alveolar Tipe II. Kadar SP‘D serum yang lebih tinggi ditemukan pada kasus COVID‘19 yang parah, terutama pada fase akut. Terdapat banyak penelitian mengenai kadar SP‘D sebagai penanda prognostik potensial dalam tingkat keparahan COVID‘19, namun penelitian mengenai hubungan SP‘D dengan kepatuhan pernapasan jarang dilakukan, terutama pada subjek manusia.
Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik retrospektif dengan desain cross-sectional. Penelitian ini disetujui oleh komite etik lokal. Naskah mematuhi pedoman STROBE. Kriteria inklusi adalah pasien yang positif mengidap virus corona sindrom pernapasan akut berat 2 melalui RT‘PCR, usia 18 tahun, didiagnosis ARDS sesuai kriteria Berlin, diobati dengan ventilasi mekanis invasif, dan memiliki data SP‘D, analisis gas darah arteri, dan Cstat secara bersamaan waktu. Kriteria eksklusi mencakup riwayat penyakit paru-paru kronis, penyakit terkait kekebalan tubuh, atau data yang tidak lengkap. Tingkat SP‘D serum diukur menggunakan Elabscience human SP Elisa Kit (Elabscience Biotechnology Inc., Houston, United States). Ventilator yang digunakan adalah ventilator Hamilton‘C2 dengan pengaturan ventilasi kontrol tekanan. Kepatuhan pernapasan diukur dengan mesin ventilator.
Uji Spearman digunakan untuk menganalisis signifikansi hubungan antara kadar SP‘D serum dengan tingkat kepatuhan pernafasan, antara tingkat kepatuhan pernafasan dengan tingkat keparahan ARDS, serta korelasi antara kadar SP‘D serum dengan tingkat keparahan ARDS. Kurva ROC digunakan untuk menganalisis nilai diagnostik tingkat SP‘D untuk tingkat keparahan ARDS.
Delapan puluh delapan pasien potensial diidentifikasi, 58 diantaranya dikeluarkan, dan 30 dimasukkan dalam analisis akhir. Usia rata-rata adalah 51,50 tahun dan 70% di antaranya adalah laki-laki. Median kadar SP‘D serum adalah 36,745 ng/mL. Rerata standar deviasi kadar SP‘D adalah 46,875 33,752 ng/mL. Dalam penelitian ini, tidak ada pasien yang memiliki kepatuhan pernafasan yang tinggi. Sebagian besar dari mereka memiliki kepatuhan pernapasan yang rendah dan hanya 10% yang memiliki kepatuhan pernapasan normal.
Analisis statistik menggunakan uji Spearman menunjukkan korelasi yang signifikan dengan kekuatan sedang antara kadar SP‘D serum dan kepatuhan pernapasan (P=0,009; koefisien korelasi [rs] = 0,467). Nilai rata-rata kadar SP‘D serum pada pasien ARDS sedang dan berat masing-masing adalah 21,76 ng/mL dan 79,71 ng/mL. Uji Spearman dilakukan untuk menganalisis korelasi antara kadar SP‘D serum dan tingkat keparahan ARDS. Kadar SP‘D serum berkorelasi dengan tingkat keparahan ARDS (P<0,001). Analisis menggunakan kurva ROC dilakukan untuk mengetahui kekuatan nilai diagnostik dengan memperoleh nilai area di bawah kurva dan nilai batas optimal antara kadar SP‘D serum dan ARDS. Hasil analisis kurva ROC menunjukkan luas area di bawah kurva kadar SP‘D serum pasien ARDS adalah 0,973 (95% Confidence Interval [CI] 0,922“1,000). Artinya, kadar SP‘D memiliki nilai diagnostik yang sangat kuat untuk tingkat keparahan ARDS, dengan nilai batas optimal sebesar 44,24 ng/mL (sensitivitas 92,3%; spesifisitas 94,1%).
Pada pasien ARDS sedang, sebagian besar memiliki kepatuhan pernafasan yang rendah. Sebaliknya pada pasien ARDS berat, 7 (tujuh) diantaranya mempunyai kepatuhan pernafasan yang sangat rendah, sedangkan 6 (enam) diantaranya mempunyai kepatuhan pernafasan yang rendah. Korelasi antara derajat ARDS dengan kepatuhan pernafasan dianalisis menggunakan uji Spearman. Tingkat keparahan ARDS dan kepatuhan pernapasan berkorelasi dengan kekuatan sedang (R2= 0,496, P=0,005).
Kesimpulan dari penelitian ini adalah Terdapat hubungan bermakna antara kadar SP‘D serum dengan kepatuhan pernafasan dan derajat keparahan ARDS. Kadar SP‘D serum yang lebih tinggi dikaitkan dengan kepatuhan pernapasan yang lebih rendah, tingkat keparahan ARDS, dan dapat digunakan secara diagnostik untuk mengidentifikasi pasien dengan ARDS berat.
Penulis: Dr. Prananda Surya Airlangga, dr., M.Kes., Sp.An-KIC
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Jayadi, Airlangga PS, Kusuma E, Waloejo CS, Salinding A, Lestari P. Correlation between serum surfactant protein-D level with respiratory compliance and acute respiratory distress syndrome in critically ill COVID-19 Patients: A retrospective observational study. Int J Crit Illn Inj Sci. 2022;12(4):204“10.





