Penggunaan tourniquet pada pembedahan ekstremitas bawah dapat membantu ahli bedah mengoptimalkan bidang pembedahan. Setelah penggunaan tourniquet selama satu jam, akan terjadi perubahan histopatologi pada sel otot. Kembalinya aliran darah setelah periode iskemik sangat penting untuk mencegah kerusakan sel yang ireversibel, tetapi reperfusi dapat menambah kerusakan sekunder akibat iskemia. Kondisi iskemik dapat meningkatkan produksi stres oksidatif reaktif (ROS) dan akan merangsang keadaan proinflamasi. Studi pada hewan percobaan melaporkan kerusakan hati, ginjal, dan paru-paru pada subjek yang menjalani inflasi tourniquet selama 3 jam. Dalam studi klinis, IRI ginjal akibat penggunaan tourniquet dilaporkan dengan peningkatan serum mioglobin dan laktoferin, yang berfungsi sebagai indikator sensitif kerusakan fungsi tubulus proksimal ginjal.
Beberapa penelitian telah dilakukan mengenai obat anestesi yang dapat menurunkan stres oksidatif dan MDA. Kombinasi propofol dan ketamin telah terbukti menurunkan kadar MDA secara signifikan pada pasien yang menjalani inflasi tourniquet. melakukan penelitian in vivo pada hewan percobaan tikus, menunjukkan efek antioksidan dexmedetomidine untuk mengurangi tingkat kematian sel di otak dan ginjal dengan IRI. Belum pernah dilakukan penelitian untuk mengukur kadar MDA serum selama penggunaan tourniquet di lingkup kerja RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dexmedetomidine terhadap kadar malondialdehid pada pembedahan ekstremitas bawah menggunakan tourniquet.
Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain kohort prospektif untuk mengukur kadar malondialdehid pada pembedahan ekstremitas bawah menggunakan tourniquet. Sampel penelitian ini adalah populasi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, antara lain pasien berusia 18-60 tahun dengan Klasifikasi Status Fisik I“II American Society of Anesthesiologists (ASA) dan pasien bedah ekstremitas bawah yang menggunakan tourniquet (baik diberikan dengan dexmedetomidine atau tidak) di RSUD Dr. Soetomo pada bulan Januari sampai Maret 2023.
Perhitungan homogenitas menunjukkan adanya perbedaan antara PS-ASA, usia, dan BMI kelompok dex-iso dan isofluran, namun tidak signifikan karena p-value lebih dari 0,05. Dapat disimpulkan bahwa data demografi bersifat homogen. Hasil perhitungan deskriptif dan uji Independent Sample t-test terhadap durasi penggelembungan tourniquet dan tekanan tourniquet antara kelompok dex-iso dan isoflurane menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal; dengan demikian, data ditampilkan dalam bentuk median dan rentang (nilai minimum-maksimum). Hasil perhitungan menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara keduanya kelompok dex-iso dan isofluran, dengan nilai P sebesar 0,832 (P > 0,05). Hasil perhitungan menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara tekanan tourniquet kelompok dex-iso dan isofluran, dengan nilai P sebesar 0,193 (P > 0,05).
Hasil perhitungan deskriptif dan uji Independent Sample t-test pada dosis fentanil kelompok dexiso dan isofluran menunjukkan adanya perbedaan bermakna dosis fentanil kedua kelompok, dengan nilai P < 0,05. Dosis fentanil pada kelompok isofluran lebih tinggi dibandingkan pada kelompok dex-iso. Hasil perhitungan deskriptif independen dan sampel independent Uji t terhadap MDA M0 dan M1 kelompok dekso dan isofluran menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna MDA M0, M1, dan M2 kedua kelompok, dengan nilai P>0.05.
Hasil dari perhitungan deskriptif dan uji-t sampel ditunjukkan perbedaan perubahan kadar MDA M0, M1, dan M2 kelompok isofluran. Hasil perhitungan deskriptif menunjukkan bahwa M2 mempunyai nilai tertinggi, disusul M1, kemudian M0. Hasil uji beda berpasangan kadar MDA M0, M1, dan M2 pada kelompok isofluran menunjukkan adanya perbedaan bermakna antara kadar MDA M0 dengan M1, M0, dan M2, serta kadar M1 dan M2, dengan nilai P dibawah 0,05. Karena adanya perbedaan kadar MDA M0, M1, dan M2, maka dilakukan uji beda berpasangan untuk mengamati perubahan mana yang berbeda secara berpasangan.
Hasil uji Independent Sample T-test terhadap perubahan kadar MDA kelompok dex-iso dan isofluran dari M0 ke M1, M0 ke M2, dan M1 ke M2 tidak terdapat perbedaan bermakna. Nilai AP kurang dari 0,05 menunjukkan adanya korelasi yang signifikan antara durasi inflasi tourniquet dan tingkat MDA M1 dan M2. M0 ke M1, M0 ke M2, dan M1 ke M2 menghasilkan korelasi positif. koefisien masing-masing sebesar 0,890, 0,892, dan 0,717 dengan nilai P sebesar 0,000. Nilai korelasi positif berarti semakin lama durasi pemasangan tourniquet inflasi, semakin tinggi kenaikan kadar MDA.
Berdasarkan analisis statistik dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa pengaruh pemberian dexmedetomidine terhadap kadar malondialdehyde pada operasi ekstremitas bawah menggunakan tourniquet, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara statistik antara pemberian dexmedetomidine terhadap kadar malondialdehyde pada operasi ekstremitas bawah menggunakan tourniquet.
Penulis: Dr. Prananda Surya Airlangga, dr., M.Kes., Sp.An-KIC
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Wijanarko B, Airlangga PS, Fitriati M, Sumartono C, Kriswidyatomo P, Lestari P. Effect of dexmedetomidine administration on malondialdehyde levels in lower extremity surgery using tourniquets. Bali Med J. 2023;12(2):1459“65.





