Kolestasis neonatal mempengaruhi 1 dari 2.500 bayi cukup bulan, dengan atresia bilier sebagai penyebab yang paling umum. Berdasarkan penyebabnya, kolestasis dibagi menjadi kolestasis bilier (saluran empedu obstruktif, ekstrahepatik besar, atau intrahepatik kecil) dan hepatoseluler (kelainan pada transpor membran, embriogenesis, atau disfungsi metabolik). Penyebab utama kolestasis pada awal kehidupan adalah atresia bilier, yang menyumbang 25 hingga 40% kasus. Prevalensi atresia bilier berkisar antara 1:6000 di Taiwan hingga 1:19.000 di Kanada. Beberapa faktor, seperti faktor genetik, infeksi virus, toksin, inflamasi kronis, atau proses autoimun dianggap menyebabkan cedera saluran empedu. Identifikasi yang tepat waktu dan intervensi segera dengan menggunakan operasi Kasai portoenterostomi sangat penting bagi pasien atresia bilier untuk mengoptimalkan luaran pengobatan dan mencegah perkembangan fibrosis hati, yang pada akhirnya dapat berujung pada sirosis hati dan membutuhkan transplantasi hati dini.
Pemeriksaan histopatologi dengan biopsi hati tetap menjadi standar emas untuk diagnosis, dengan indeks METAVIR yang menentukan tingkat kerusakan hati. Indeks rasio aspartat aminotransferase-ke-trombosit (APRI) adalah metode sederhana dan non-invasif yang dapat memprediksi fibrosis hati pada penyakit hati kronis. Saat ini, prosedur diagnostik standar untuk mengevaluasi fibrosis hati adalah biopsi hati, yang merupakan teknik invasif. Beberapa sistem penilaian untuk menentukan derajat fibrosis dari biopsi hati termasuk indeks aktivitas histologi yang dimodifikasi (HAI) yang dikembangkan oleh Ishak K, dkk dan sistem indeks METAVIR.
Studi ini dilakukan untuk menganalisis korelasi APRI dan indeks METAVIR pada bayi dengan kolestasis. Studi ini melibatkan bayi dengan kolestasis yang menjalani biopsi hati dan dinilai dengan indeks METAVIR. Skor APRI pada saat biopsi hati dihitung. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan korelasi Pearson, dan kurva Receiver Operating Characteristic (ROC) digunakan untuk menilai diagnostik APRI untuk fibrosis hati yang signifikan (鈮2) dan sirosis (鈮4). Pada studi ini didapatkan sebanyak 27 pasien diikutsertakan yang terdiri dari 12 (44%) adalah perempuan, dengan usia rata-rata 4,7卤3,9 bulan. METAVIR F4 terlihat pada 8 (30%), F3 pada 3 (11%), F2 pada 5 (19%), F1 pada 9 (33%), dan F0 pada 2 pasien (7%). Korelasi Pearson r untuk APRI dan METAVIR adalah 0,48 (p<0,05). Rata-rata APRI untuk F2-F4 (fibrosis signifikan) adalah 3,55卤3,52, dan untuk F0-F1 (tidak ada atau fibrosis ringan) adalah 1,80卤0,88. Rata-rata APRI untuk F4 (sirosis) adalah 5,33卤4,27, dan untuk F0-F3 (non-sirosis) adalah 1,78卤0,91. Dari ROC, area di bawah kurva untuk fibrosis dan sirosis yang signifikan masing-masing adalah 0,665 dan 0,836.
Dari studi ini dapat disimpulkan bahwa APRI berkorelasi dengan derajat fibrosis hati menurut indeks METAVIR pada pasien kolestasis infantil, terutama untuk memprediksi terjadinya sirosis hati, sehingga dapat disimpulkan bahwa APRI dapat digunakan sebagai metode non-invasif untuk memprediksi derajat fibrosis hati pada pasien kolestasis infantil.
Penulis: Dr. Bagus Setyoboedi, dr.,Sp.A(K)
Link:
Baca juga: Efek Imunologis Cairan Empedu Kambing pada Hewan Coba yang Diinfeksi Malaria





