Selama ini, perhatian kita sering tertuju pada polusi udara luar ruang seperti asap kendaraan, debu jalanan, atau asap pabrik. Namun, penelitian terkini justru mengungkap bahaya yang lebih dekat dengan keseharian kita: kualitas udara di dalam ruangan.Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa paparanformaldehidadanPM2.5Ìýdalam ruangan berkaitan erat dengan peningkatan gejala asma pada remaja usia 13“14 tahun.
Penelitian ini melibatkan 71 remaja dengan gejala asma dengan mengikuti protokolInternational Study of Asthma and Allergies in Childhood (ISAAC) dan menggunakan sensor kualitas udaraAiRBOXSenseuntuk mengukur kadar polutan. Hasilnya menunjukkan bahwaformaldehida(yang biasa ditemukan dalam lem furniture, produk pembersih, pengharum ruangan, dan cat dinding) sertaPM2.5(partikel halus dari asap rokok atau masakan, debu luar ruangan) secara signifikan memicu gejala asma. Faktor lain yang juga berpengaruh adalah kelembapan tinggi, riwayat asma dalam keluarga, dan penggunaan obat nyamuk bakar.
Penelitian lain di Surabaya menemukan bahwa kadar VOCs and PM2.5 pada beberapa rumah melebihi standar Baku Mutu Lingkungan dari WHO. Formaldehid, PM2.5, karakteristik bangunan dan obat pengusir nyamuk (semprot dan bakar) terbukti berkaitan dengan keluhan alergi pernafasan pada anak (Prasasti et al., 2021). Sumber formaldehida dalam ruangan dapat berasal dari bahan bangunan (cat, pelapis lantai/dinding), furnitur, produk pembersih, lilin, dupa, obat nyamuk bakar, asap rokok, dan aktivitas memasak (Salthammer, 2019).
Paparan formaldehida dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, serta meningkatkan risiko alergi yang memperburuk kondisi kulit penderita dermatitis atopik (Lee et al. 2014; Betsis et al. 2019; Halios et al. 2022). Sementara itu, partikulat (PM) merupakan salah satu polutan paling berbahaya bagi kesehatan manusia (Liu et al. 2018), yang berasal dari asap rokok, kompor, obat nyamuk bakar, dan pembakaran dupa (Norbäck et al. 2019).
Yang lebih mengkhawatirkan, penelitian ini menemukan bahwa kamar tidur, tempat anak-anak seharusnya beristirahat dan memulihkan diri justru bisa menjadi sumber masalah. Fakta bahwa kita menghabiskan 90% waktu di dalam ruangan seharusnya membuat kita lebih serius memerhatikan kualitas udara di rumah. Namun, selama ini, fokus kita pada polusi luar ruang sering kali mengabaikan ancaman polusi di ruang keluarga atau kamar tidur sendiri.
Udara bersih bukan hanya hak, tapi kebutuhan dasar terutama untuk anak-anak yang masih rentan. Langkah sederhana seperti mengurangi penggunaan bahan kimia rumah tangga bisa menurunkan risiko asma secara signifikan. Sudah saatnya kita lebih waspada terhadap ancaman tak kasat mata di dalam rumah sendiri sebelum terlambat. Langkah aksi yang dapat dilakukan, diantaranya adalah Pertama, mulailah memantau kualitas udara di rumah. Sensor kualitas udara sederhana sekarang sudah lebih terjangkau. Kedua, ubah kebiasaan kecil: buka jendela lebih sering untuk sirkulasi udara, menanam tanaman pembersih udara seperti lidah mertua atau peace lily untuk menyerap polutan, kurangi penggunaan bahan kimia rumah tangga, hindari obat nyamuk bakar, gunakan cat dan furnitur rendah emisi, dan pilih furnitur yang ramah lingkungan. Ketiga, advokasi untuk regulasi yang lebih ketat”khususnya terkait standar bahan bangunan dan produk rumah tangga, edukasi publik: Kampanye nasional tentang bahaya polusi udara dalam ruang. Dengan langkah-langkah ini, kita dapat menciptakan lingkungan dalam ruangan yang lebih sehat dan mengurangi risiko gangguan pernapasan pada generasi muda.
Penulis: Dr. Corie Indria Prasasti, SKM., M.Kes
Link :
Abbad, R.S., Arna, H.Z., Prasasti, C.I. et al. The association between formaldehyde, PM2.5, physical environmental and total IgE serum with asthmatic symptoms in 13“14 years olds. Air Qual Atmos Health (2025).





