51动漫

51动漫 Official Website

Menelusuri Makna, Gizi, dan Nilai Budaya dalam Sajian Upacara Adat Suku Tengger

Ilustrasi masyarakat Tengger. (Sumber: Merdeka Malang)

Masyarakat Suku Tengger yang mendiami kawasan sekitar Gunung Bromo, Jawa Timur, masih menjaga erat tradisi dan upacara adat mereka. Dalam setiap upacara seperti Yadnya Kasada, Karo, Unan-unan, Pujan Mubeng, hingga Entas-entas, makanan memiliki peran sentral sebagai sarana persembahan dan simbol penghormatan kepada leluhur dan alam. Sajian-sajian ini tidak hanya mengandung nilai spiritual dan budaya yang tinggi, tetapi juga memiliki kandungan gizi yang bermanfaat.

Berdasarkan penelitian Muniroh dkk (2025), beberapa jenis makanan utama dalam upacara adat tersebut antara lain jadah (kue ketan), pasung (kue dari tepung jagung berbentuk kerucut), dan pepes (kue berbahan tepung beras dan santan yang dibungkus daun pisang). Makanan ini umumnya tinggi karbohidrat kompleks karena menggunakan bahan dasar seperti ketan, beras, atau tepung. Dalam beberapa upacara juga dihidangkan jenang merah dan putih, yang masing-masing memiliki makna simbolis seperti arah mata angin dan harapan keselarasan hidup.

Dalam konteks nilai gizinya, makanan-makanan tersebut mengandung karbohidrat sebagai sumber energi utama, ditambah dengan protein dari lauk seperti ayam dan ikan lele, serta vitamin dan mineral dari buah dan sayuran lokal seperti pisang, kentang, dan wortel. Namun, meskipun bernutrisi, konsumsi yang berlebihan terhadap kue manis seperti bolu atau nagasari perlu diwaspadai karena berpotensi meningkatkan asupan gula dan lemak secara berlebih.

Filosofi makanan dalam upacara ini juga sangat mendalam. Misalnya, bentuk kue pepes yang dibungkus daun pisang melambangkan kesopanan manusia, sedangkan bentuk bundar pada susunan sajian disebut ongkek, yang menggambarkan siklus kehidupan tanpa awal dan akhir. Sajian seperti ayam mentah atau kepala kerbau pada upacara Unan-unan merupakan simbol pengorbanan dan keseimbangan antara manusia dan alam.

Studi ini juga mencatat bahwa masyarakat Tengger sangat menjunjung tinggi makanan persembahan. Tidak hanya menjadi bagian dari ritual, makanan tersebut dianggap sebagai perwujudan syukur atas berkah Tuhan dan hasil bumi. Mereka menggunakan bahan-bahan lokal dari kebun sendiri untuk memastikan bahwa makanan yang disajikan tidak hanya sesuai tradisi, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan.

Keberadaan wisatawan di sekitar Bromo tidak mempengaruhi kebiasaan makan masyarakat Tengger. Mereka tetap menjaga adat istiadat dan tidak tergoda untuk mengubah bahan atau cara penyajian makanan persembahan. Ini membuktikan bahwa kearifan lokal mereka mampu bertahan di tengah arus modernisasi dan globalisasi.

Penelitian ini membuka wawasan bahwa makanan tidak hanya memenuhi kebutuhan jasmani, tapi juga spiritual dan sosial. Di tengah upaya pelestarian budaya, studi ini mendorong pentingnya pendekatan lintas ilmu antara antropologi, gizi, dan kesehatan masyarakat untuk memahami makna mendalam dari makanan tradisional di Indonesia.

Penulis: Lailatul Muniroh, S.KM., M.Kes.

Untuk membaca artikel lebih lanjut, dapat melaluitautan berikut:

AKSES CEPAT