Kualitas perawatan jangka panjang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan perawatan populasi lansia yang terus bertambah. Perawatan jangka panjang mencakup berbagai layanan dan situasi, dari bantuan rumah hingga layanan di panti werdha. Panti werdah dibutuhkan oleh individu dengan kondisi kompleks yang membutuhkan asuhan keperawatan tingkat tinggi yang tidak akan terpenuhi di dalam rumah individu sendiri. Namun, apakah penghuni panti werdha lebih mungkin mengalami kelemahan fisik, masalah kognitif, dan gangguan fungsional dan berpotensi rentan terhadap hasil yang merugikan, termasuk insiden keselamatan pasien seperti jatuh dan luka tekan. Selain itu, insiden yang merugikan di Panti werdha dapat dihasilkan dari pemantauan yang tidak memadai, kurangnya deteksi tanda-tanda awal penyakit, kesalahan medis, intervensi keperawatan yang tidak tepat, komunikasi yang buruk, dan pelaporan pasien yang tidak lengkap.
Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2019, penduduk berusia 60 tahun tahun ke atas di Indonesia telah mencapai 25,7 juta, merupakan 9,6% dari total populasi Indonesia (TNP2K, 2020). Jumlah penduduk Jawa Timur adalah 41,4 juta jiwa, dengan populasi usia lanjut sebesar 13,57% (Badan Pusat Statistik, 2023). Hanya 872 lansia, yaitu 0,002% dari total penduduk di Jawa Timur, tinggal di panti werdha milik pemerintah pada tahun 2017 (Kesejahteraan Sosial Jasa Jawa Timur, 2017). Diperkirakan 2.300 lansia (0,006% dari total Jawa Timur penduduk) bertempat tinggal di panti werdha swasta (Dinas Kominfo Prov. Jatim, 2020). Jumlah keseluruhan lansia yang tinggal di panti werdha di Jawa Timur adalah sekitar 0,0008% dari total populasi.
Panti werdha berbeda dari rumah sakit perawatan akut dalam beberapa aspek: penghuni, penerapan model perawatan medis, dan penyediaan perawatan. Selanjutnya profil, jumlah perawat di panti werdha Indonesia berbeda dengan di negara lain, sebagai pemberi perawatan di panti werdha Indonesia kebanyakan adalah pekerja sosial, dengan melibatkan perawat dan dokter. Panti werdha menawarkan perawatan jangka panjang untuk lansia melalui penyediaan kebutuhan sehari-hari (makanan, pakaian dan shelter), perawatan kesehatan, kegiatan rekreasi dan rehabilitasi.
Pengembangan budaya keselamatan menuntut karyawan untuk secara aktif sadar dari potensi bahaya yang merugikan dalam lingkungan panti werdha. Lansia penghuni panti werdha yang rentan, seringkali membutuhkan tingkat perhatian yang tinggi sementara pada saat yang sama mereka tidak memilikinya kapasitas berbicara untuk dirinya sendiri. Staf NH, di sisi lain, seringkali kurang dihargai dan terlalu banyak bekerja
Langkah pertama terhadap evaluasi budaya keselamatan pasien di panti werdha memerlukan pengembangan suatu alat ukuryang tepat. Evaluasi budaya keselamatan sangat penting untuk menilai tingkat kesadaran keselamatan dan diperlukan untuk menentukan efektivitas intervensi untuk meningkatkan budaya keselamatan.
Di dalam beberapa tahun terakhir, berbagai kuesioner telah dikembangkan dan digunakan untuk mengukur budaya keselamatan di Panti Werdha. Di antara kuesioner yang digunakan untuk mengukur budaya keselamatan yaitu NHSOPSC. Kuesioner ini adalah instrumen yang paling banyak diterima dan dikembangkan oleh Badan Penelitian dan Kualitas Kesehatan (AHRQ), versi asli NHSOPSC mencakup 42 item survei. Alat lain yang umum digunakan adalah SAQ dan HSOPS. Kedua instrument ini sebelumnya telah diterjemahkan ke dalam Indonesia untuk mengevaluasi iklim keselamatan di rumah sakit Indonesia. Namun, kedua instrumen ini tidak secara khusus dirancang untuk menilai budaya keselamatan di panti werdha dan mungkin kurang berguna untuk pengaturan ini.
Dengan demikian, penelitian ini dimaksudkan untuk mengevaluasi validitas dan sifat psikometri dari NHSOPSC versi Indonesia (NHSOPSC-INA) menggunakan persepsi staf di panti werdha Indonesia. NHSOPSC-INA yang valid kemudian dapat digunakan untuk mengukur budaya safety di panti werdha di Indonesia.
Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional survey yang melibatkan 20 panti werdha di seluruh Indonesia. Partisipan dalam penelitian ini adalah seluruh staff panti werdha meliputi manajer, kepala panti, perawat, pekerja sosial, staf administrasi, staf pendukung (seperti, cleaning service, staf keamanan, staf dapur, dan sopir). Jumlah partisipan dalam penelitian in adalah 258 orang.
Temuan kami memberikan wawasan yang berharga menggunakan NHSOPSC di sektor panti werdha Indonesia dan menyarankan pengembangan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan validitas dan reliabilitas instrumen. Secara khusus, NHSOPSC mungkin membutuhkan item tambahan yang relevan secara budaya dan kontekstual. Meskipun demikian, hasil kami menunjukkan 26 item NHSOPSC-INA adalah instrumen yang sesuai dan dapat diterima untuk menilai persepsi staf tentang budaya keselamatan pasien di panti werdha di Indonesia. Akhirnya, alat ini dapat mendukung upaya peningkatan keselamatan pasien dan kualitas pelayanan di panti werdha di Indonesia.
Penulis: Rista Fauziningtyas, PhD.
Artikel asli dapat diakses di:





