51动漫

51动漫 Official Website

Kuesioner Kesulitan Kekuatan (SDQ) Profil Anak dengan Gangguan Pendengaran Sensorineural

Foto by Alodokter

Pertumbuhan dan perkembangan fungsi organ pendengaran merupakan faktor penting dalam kehidupan awal anak dan masa depan mereka. Fungsi pendengaran merupakan salah satu alat vital sebagai media utama dalam komunikasi linguistik. WHO, 2018 memperkirakan peningkatan menjadi 466 juta orang dengan gangguan pendengaran yang terdiri dari 93% atau sekitar 432 juta pada orang dewasa dan 7% atau sekitar 34 juta pada anak-anak.

Gangguan pendengaran adalah ketidakmampuan sebagian atau total untuk mendengar suara di salah satu atau kedua telinga. Tingkat keparahan berkisar dari ringan (20-39 dB), sedang (40-69 dB) hingga berat (70-89 dB) dan sangat berat (>90 dB). Gangguan pendengaran sensorineural (SNHL) adalah jenis gangguan pendengaran dengan prognosis buruk dan kerusakan permanen akibat kegagalan saraf dan organ reseptor lainnya untuk menerima dan mengirimkan sinyal listrik suara ke area otak di mana sinyal listrik tersebut dirasakan. Penyebab gangguan pendengaran sensorineural meliputi genetika, infeksi prenatal (TORCHS), prematuritas atau berat badan lahir rendah (BBLR <1500 gram), obat-obatan ototoksik, trauma fisik atau akustik dan neoplasma. [3] Kondisi tersebut menyebabkan keterbatasan dan kecacatan pada anak dalam masa perkembangannya dan berdampak sebagai stressor psikopatologis yang memicu terjadinya gangguan jiwa perilaku berupa masalah emosi, depresi, kecemasan, mudah tersinggung, dan disertai dengan perilaku maladaptif.

Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan menggunakan data kuesioner SDQ pada anak gangguan pendengaran sensorineural yang menggunakan alat bantu dengar atau implan koklea. Dilaksanakan di Balai Pendengaran Anak, Klinik Jala Puspa, Rumah Sakit Angkatan Laut Dr. Ramelan Surabaya, pada bulan Januari 2021. Jumlah peserta adalah 50 anak yang memenuhi kriteria inklusi, yang terdiri dari 1) anak tuli sensorineural usia 6-12 tahun. , 2) Menggunakan alat bantu dengar dan implan koklea, dan 3) Tidak memiliki riwayat gangguan kejiwaan seperti Autism Spectrum Disorder (ASD), Attention Deficit and Hyperactive Disorder (ADHD), Intellectual Disability (ID). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji masalah emosi dan perilaku pada anak tuli sensorineural untuk mengenali masalah kejiwaan sejak dini pada anak difabel seperti anak tuli sensorineural dan rujukan untuk penatalaksanaan lebih lanjut secara komprehensif.

Penelitian ini terdiri dari 50 anak tuli sensorineural, 27 laki-laki dan 23 perempuan. Dua puluh delapan peserta menggunakan implan koklea, dan 22 menggunakan alat bantu dengar. Rentang usia adalah dari 6 hingga 12 tahun. Dari data responden yang diperoleh terdapat 24 (48%) anak pada rentang usia enam sampai delapan tahun, 16 (32%) anak pada rentang usia sembilan sampai sepuluh tahun, dan 10 (20%) anak pada rentang usia rentang usia sebelas hingga dua belas tahun. Anak laki-laki sebanyak 27 (54%) anak, sedangkan anak perempuan sebanyak 23 (46%).

Dua puluh dua anak (44%) menggunakan alat bantu dengar, dan 28 (56%) anak menggunakan implan koklea. Dalam subskala kesulitan , 15 (30%) anak dalam kondisi normal, 35 (70%) anak dalam kriteria ambang, dan tidak ada anak dalam kriteria abnormal menurut SDQ. Pada usia enam sampai delapan tahun terdapat 4 (17%) anak dalam kondisi normal, 20 (83%) dalam rentang borderline, dan tidak ada anak dalam rentang abnormal.

Penulis: Dr. Yunias Setiawati, dr.,Sp.K.J(K)

Untuk lebih detail terkait penelitian ini dapat kunjungi

AKSES CEPAT