Celah lelangit atau cleft palate merupakan deformitas kongenital di regio kraniofasial yang dialami lebih kurang 33 bayi per 1000 kelahiran. Bayi yang lahir dengan celah lelangit seringkali menghadapi kesulitan dalam bicara dan proses menelan karena adanya abnormalitas struktur yang melibatkan otot velofaringeal sehingga menyebabkan terjadinya insufisiensi velofaringeal atau Velopharyngeal Insufficiency (VPI). VPI akan menyebabkan gangguan pada fungsi bicara yang ditandai dengan lolosnya udara dari hidung saat berbicara, sehingga menimbulkan bunyi suara hipernasal.
Tindakan bedah merupakan intervensi penting dengan melakukan penutupan celah lelangit atau palatoplasty, yang bertujuan memperbaiki VPI melalui perbaikan bentuk anatomi palatum agar dapat memfasilitasi perkembangan fungsi bicara. Namun, meskipun telah dilakukan perbaikan melalui pembedahan, masih ditemukan defisiensi fungsi dengan persentase yang cukup signifikan, khususnya pada fungsi velofaringeal. Hal ini menegaskan pentingnya evaluasi sebelum dan sesudah pembedahan untuk menilai hasil tindakan serta pengaruhnya terhadap kualitas hidup atau health-related quality of life (HRQOL).
Tim pelayanan bibir sumbing dan lelangit Fakultas Kedokteran Gigi/Rumah Sakit Gigi dan Mulut 51¶¯Âþ menghadapi tantangan tersendiri karena kondisi geografis dan karakteristik sosial ekonomi pasien. Hambatan ini semakin berat dengan adanya kesulitan transportasi, keterbatasan tenaga medis, serta kendala saat pandemi Covid-19. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan metode evaluasi hasil pembedahan yang efektif. Evaluasi hasil operasi celah lelangit sangat penting, namun sering kali dokter bedah kesulitan melakukan pemeriksaan langsung karena jauhnya jarak pasien atau adanya pembatasan akibat pandemi.
Instrumen kuesioner Patient-reported outcome (PROM) seperti Velopharyngeal Insufficiency Effect on Life Outcome (VELO) menawarkan pendekatan terstandar dan tervalidasi untuk menilai status kesehatan, gangguan, disabilitas, dan HRQOL selama masa perioperatif. Instrumen ini dapat digunakan melalui telemedicine sehingga sangat membantu pada masa pandemi, karena mampu mengurangi kontak langsung antara dokter dan pasien, sekaligus menjangkau daerah-daerah terpencil.
Kuesioner VELO dirancang khusus untuk mengevaluasi dampak celah lelangit pada kehidupan pasien, memberikan data subjektif dari sudut pandang pasien, dan mengubahnya menjadi nilai terukur. Awalnya kuesioner ini hanya tersedia dalam bahasa Inggris, tetapi kini telah diterjemahkan ke banyak bahasa. Penelitian ini dilakukan untuk menilai kelayakan penggunaan kuesioner VELO sebagai alat evaluasi PROM pada pasien sumbing yang menjalani pembedahan di Indonesia, khususnya dalam situasi dengan keterbatasan seperti masa pandemi.
Penelitian dilakukan dengan metode cohort. Data dikumpulkan dari pasien sumbing lelangit dalam kegiatan bakti sosial operasi sumbing pada masa pandemi Covid-19 antara tahun 2018“2022. Pasien inklusi adalah mereka yang menjalani palatoplasty primer di atas usia 2 tahun dengan persetujuan keluarga tanpa kompensasi. Pasien eksklusi adalah mereka yang sudah menjalani perbaikan sekunder, pembedahan revisi, memiliki kebutuhan khusus, atau gangguan bicara. Orang tua pasien diminta mengisi kuesioner VELO sebelum pembedahan dan enam bulan setelahnya. Penelitian ini memenuhi syarat etik dan mengikuti prinsip Declaration of Helsinki.
Kuesioner VELO dipilih karena merupakan instrumen baru yang menjanjikan untuk mengukur HRQOL pada pasien celah lelangit. Orang tua anak berusia 3“8 tahun mengisi VELO-P dengan 26 pertanyaan, sementara anak di atas 8 tahun mengisi VELO-Youth dengan 23 pertanyaan. Kuesioner ini mencakup enam domain, yaitu keterbatasan bicara, masalah menelan, kesulitan situasional, dampak emosional, persepsi orang lain, dan pengaruh terhadap pengasuh. Respon diberikan dalam Likert-type scale dari 0 (never) sampai 4 (almost always), dengan skor total 0“100 yang merepresentasikan HRQOL. Versi bahasa Indonesia diterjemahkan dengan izin dari penulis VELO asli. Reliabilitas internal dan validitas dinilai menggunakan Cronbach™s alpha serta corrected item-total correlation. Evaluasi dilakukan praoperatif dan enam bulan pascaoperatif menggunakan kuesioner yang sama, lalu hasil dianalisis secara statistik.
Penelitian ini melibatkan 23 responden dengan rata-rata usia 8,5 tahun dari berbagai etnis, semuanya mampu berbahasa Indonesia dengan baik. Diagnosis meliputi unilateral cleft lip and palate (52,2%), bilateral cleft lip (17,4%), dan cleft palate saja (30,4%). Uji reliabilitas VELO-P dan VELO-Y menunjukkan hasil sangat baik dengan Cronbach™s alpha masing-masing 0,96 dan 0,97. Uji validitas juga menunjukkan hasil sangat baik, dengan korelasi Pearson yang tinggi.
Skor VELO-P menunjukkan peningkatan signifikan setelah operasi dengan rata-rata kenaikan 24,8 poin. Skor rendah sebelum operasi menandakan HRQOL yang buruk, sedangkan skor setelah operasi meningkat jelas di semua domain, termasuk keterbatasan bicara, kesulitan menelan, kesulitan situasional, dampak emosional, persepsi orang lain, serta beban pada pengasuh. Rata-rata skor total meningkat dari 55,82 sebelum operasi menjadi 86,43 sesudahnya, menunjukkan perbaikan HRQOL yang signifikan. Peningkatan terbesar terlihat pada keterbatasan bicara, kesulitan situasional, dampak emosional, dan persepsi orang lain, sementara perbaikan terbaik muncul pada domain masalah menelan.
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa kuesioner VELO yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dapat digunakan secara efektif, bahkan ketika pengisian dilakukan melalui wawancara via telepon. Instrumen ini berhasil mengevaluasi hasil pembedahan palatoplasty dan dampaknya terhadap kualitas hidup pasien.
Penulis: Prof. R.M. Coen Pramono D, drg., SU., Sp.BMM., Subsp.Ortognat-D (K)., FICS.
Sumber: Saifullah Amri, Coen Pramono, Taufan Bramantio, Muhammad Subhan Amir: The VELO Questionnaire as a Surgical Outcome Evaluation Tool for Cleft Palate Surgery in a Limited Resource Setting in Indonesia; Research J. Pharm. and Tech. 18(4): April 2025.
Link:





