UNAIR NEWS – Kunjungan British Embassy 51动漫 (UNAIR) mengulas Digital Ekonomi Kreatif dan Wirausaha di Jawa Timur. Acara yang bertajuk Global Alumni Network “The Future of Creative Digital and Entrepreneurship in East Java Panel Discussion” itu berlangsung di Gedung Hall Majapahit, ASEEC Tower, Jumat (15/12/2023).
“Sumber daya manusia (SDM) di Indonesia memegang peranan yang sangat penting dalam berbagai sektor,” ujar HE Mr Dominic Jemey CVO, Duta Besar Inggris.
Lebih lanjut pihaknya mengatakan akan selalu mendukung seluruh program yang dapat menunjang SDM di Indonesia. Termasuk dalam hal itu mengenai kolaborasi dengan British Embassy.
“Upaya pengembangan SDM di Jawa Timur berdampak pada beberapa sektor utamanya sebelum dan sesudah pandemi covid-19,” terang Emil Elestianto Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur.
Pihaknya mengatakan, seseorang selalu menginginkan perubahan. Mendukungnya hal itu pemerintah Jawa Timur terus berupaya untuk mengembangkan SDM untuk menciptakan perubahan utamanya dalam sektor wirausaha digital.

Diskusi Industri Kreatif
Tak hanya mengulas tentang SDM Jawa Timur, serangkaian acara juga turut mengulas bagaimana industri kreatif dan wirausaha digital di Jawa Timur berkembang. Hadir dalam acara itu, Nadia Nathania, (Co-founder InTune Production), Audrey Maximillian Herli (Co-founder Riliv) dan tim Indonesia Creative City Network (ICCN).
Mengembangkan industri musik Nadia mengatakan bahwa musik bukan hanya sekedar aransemen lagu. Musik adalah sebuah bisnis. Ia menganalogikan bagaimana akhirnya seseorang menemukan ruang dan relasi dengan sebuah musik.
“Jadi jika ada yang berpikir bahwa musik itu hanyalah sebuah lagu, maka salah besar, musik lebih dari itu. Beberapa orang bahkan menemukan dunianya dalam sebuah musik,” imbuhnya.
Di sisi lain Audrey Maximillian Herli mengembangkan sebuah industri kreatif dengan menganalisis permasalahan di sosial media. Ia menemukan bahwa setiap orang cenderung lebih sering membagikan seluruh cerita dan aktivitasnya di media sosial. Namun beberapa tidak mendapatkan simpati justru sebaliknya mereka memperoleh ujaran makian yang berpengaruh pada kesehatan mental.
“Dari sana lahirnya platform Riliv yang mengambil peluang untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Kami menyediakan ruang untuk seseorang bercerita dan mengekspresikan perasaannya tanpa ada ujaran kebencian,” tuturnya.
Lebih lanjut ia menerangkan, Riliv hadir dengan kolaborasi tenaga ahli seperti psikolog. Riliv juga turut menyediakan skrining kesehatan mental untuk konsultasi dan meditasi lanjutan. “Kalian akan menemukan solusi kesehatan mental dari Riliv,” terangnya.
Pada sesi akhir, tim Indonesia Creative City Network (ICCN) mengulas bagaimana sebuah industri ekonomi kreatif berkembang. ICCN sendiri memiliki 250 lebih jejaring dengan 10 prinsip kota kreatif yang mereka kembangkan. Ia menuturkan ekonomi kreatif bukan hanya tentang nilai dari sebuah produk.
“Kalau nilai produk itu ada kreativitas, pasar pas, RnD pas sudah jadi. Tapi ekonomi kreatif itu bukan hanya tentang nilai produk ekonomi tapi bagaimana akhirnya satu produk ekonomi ini mampu mengangkat produk ekonomi yang lain,” pungkasnya.
Penulis: Rosita
Editor: Nuri Hermawan





